----- Forwarded Message -----
From: nur evi rahmawati [email protected]

Yth. Bapak/Ibu,

Dengan hormat disampaikan surat terbuka Dubes RI terkait Hari Ulang Tahun RI ke 
66 dalam email berikut serta dalam attachment. Demikian, terima kasih.

salam,
a.n. Fungsi Penerangan


========================

Surat Terbuka Duta Besar Dino Patti Djalal
Kepada Masyarakat Indonesia di Amerika Serikat
Washington, D.C., 15 Agustus 2011







Kepada Masyarakat Indonesia di Amerika Serikat,


Saudara-saudaraku,


Pertama, dalam rangka menyongsong hari kemerdekaan 17 Agustus, perkenanlah saya 
atas nama keluarga besar KBRI Washington DC dan seluruh KJRI se-AS mengucapkan 
dirgahayu Republik Indonesia ke-66 kepada seluruh masyarakat Indonesia di 
Amerika Serikat.



Saya juga atas nama keluarga - istri saya Rosa, dan putra-putri Alexa, Keanu 
Chloe - mengucapkan selamat berpuasa dan maaf lahir batin kepada ummah di 
Amerika.  Semoga amal dan ibadah kita di bulan Ramadhan yang suci ini diberkahi 
Allah SWT.


Sebagai wakil Pemerintah Indonesia di AS, saya ingin memberikan update kepada 
anda mengenai hubungan RI-AS dan beberapa program ke depan.



Saya baru saja kembali dari tanah air setelah menempuh perjalanan dinas ke Bali 
dan Jakarta.


Di Bali (24 Juli), hubungan RI-AS menjadi lebih berbobot dengan berbagai 
kesepakatan yang dicapai antara Menlu Marty Natalegawa dan Secretary of State 
Hillary Clinton dalam forum Joint Commission Meeting RI-USA.  6 bidang utama 
yang menjadi fokus adalah: demokrasi dan governance, keamanan dan pertahanan, 
energi, perubahan iklim dan lingkungan hidup, pendidikan, perdagangan dan 
investasi.  Momentum hubungan RI-AS kini semakin laju, dan kita dengan entusias 
menantikan kunjungan Presiden Barack Obama ke Bali bulan November tahun ini.  
Dalam penilaian saya, terlepas dari sejumlah tantangan, hubungan RI-AS tidak 
pernah se-erat dan sekomprehensif ini.


Beberapa hari setelah itu, di Jakarta (28 Juli), KBRI Washington DC, 
bekerjasama dengan BKPM, menyelenggarakan International Conference on 
Futurology.  Konferensi ini menampilkan world-class futurologists dari Amerika 
yang disandingkan dengan sejumlah tokoh Indonesia dalam diskusi mengenai arah 
perubahan dunia 30 tahun ke depan.  Konferensi ini tadinya hanya mentargetkan 
500 pengunjung, namun ternyata membludak dihadiri 1,300 pengunjung - 2 kali 
lebih besar dari partisipasi World Economic Forum di Jakarta - termasuk 
sejumlah alumni dari AS.  Para futurologis juga berkesempatan mengadakan 
diskusi yang exhaustive dengan Presiden SBY selama 3 jam (tadinya hanya 
dijadwalkan 1 jam).  Ke depan, kami merencanakan Futurology Conference akan 
menjadi salah satu flagship konferensi tahunan Indonesia.



Selama di Jakarta, atas permintaan dari rekan-rekan dari IMAAM, saya juga 
berupaya mencari bantuan terhadap upaya mulia masyarakat Indonesia membeli 
masjid di sekitar DC.  Alhamdulillah, upaya tersebut berhasil mengumpulkan USD$ 
30,000 plus sejumlah komitmen terbuka dari beberapa donatur lainnya, terutama 
dari Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yang masuk dalam Guinness Book of 
World Records karena prestasinya yang luar biasa sebagai pembangun masjid 
terbanyak di dunia.  KBRI Washington DC akan terus berikhtiar untuk membantu 
mewujudkan aspirasi masyarakat Indonesia ini, sekaligus memproyeksikan profil 
umat Islam Indonesia di AS yang moderat, toleran dan modern.



Dalam kaitan ini, pada tanggal 14 Juli, saya sebagai Duta Besar Indonesia 
bersama Dubes Mali dan pakar dari Iraq telah memberikan presentasi di Kongres 
AS mengenai "Islam and Democracy : Evolving Compatibility in the 21st Century". 
 Presentasi ini didukung oleh 4 anggota Kongress AS - David Price (D-North 
Carolina), David Drier (D-California), Jim McDermott (D-Washington), Andre 
Carson (D-Indiana) - dan mendapat sambutan yang sangat positif dari pengunjung. 
 Untuk mempromosikan citra Indonesia yang toleran dan menganut kebebasan 
beragama, KBRI Washington DC merencanakan untuk mengadakan roadshow keliling 
beberapa negara bagian AS untuk melakukan presentasi yang sama di Universitas 
maupun think tank setempat.  Kalau anda ingin melihat roadshow ini di lakukan 
di negara bagian anda, silahkan hubungi Adam Tugio bidang politik KBRI 
Washington DC (202-775 5200)



Kabar gembira lain adalah The Philosopher, film Hollywood pertama yang 
sepenuhnya shooting di Indonesia dan bercerita mengenai Indonesia.  KBRI 
Washington DC berkehormatan menjadi "mak comblang" proyek bersejarah ini, 
dengan mempertemukan produser film Hollywood dengan investor dan studio film 
dari Indonesia.  Argumentasi yang kita gunakan sangat gamblang : biaya produksi 
film di Indonesia jauh lebih murah, yakni 25 % dari biaya shooting di AS.  
Siapa yang tidak tergiur dengan formula ini ?  Saya ingin sekali melihat 
Indonesia masuk Hollywood.  Dalam pertemuan saya dengan Presiden Motion 
Pictures Association (MPA) Senator Chris Dodd di KBRI Washington DC beberapa 
bulan lalu, dicapai kesepakatan untuk merancang program dimana para pelaku 
industri film Indonesia dapat magang di Hollywood.


Selama di tanah air, saya juga banyak sekali mendengar apresiasi mengenai 
pemecahan Guinness World Record for largest angklung ensemble yang diikuti oleh 
5182 peserta multibudaya di Washington DC tanggal 9 Juli 2011 dalam Festival 
Indonesia (yang juga menampilkan band legendaris Air Supply, rapper Raheem 
Devaughn, dan sejumlah artis Indonesia, seperti Elfa's Singers, Denada, 
Sherina, Balawan, rombongan tari Jabar, dan kelompok2 seniman Indonesia 
setempat, dll).

Ini sungguh adalah prestasi bersejarah seluruh masyarakat Indonesia di AS dan 
karenanya sekali lagi saya mengucapkan salut dan terima kasih yang 
sebesar-besarnya atas jerih payah staf KBRI WDC, House of Angklung, Dharma 
Wanita, KJRI New York, Chicago, Houston, San Francisco dan Los Angeles dan PTRI 
New York, semua sukarelawan dan "hubs" yang menjadi motor dari misi besar ini.  
Proyek angklung ini adalah contoh indah "ide besar dengan modal dengkul".  
Namun dengan tekad, networking, team work, kerja keras, energi positif dan 
kreatifitas, kita berhasil mengolah suatu mimpi menjadi prestasi sejarah.  
Festival Indonesia ini juga bentuk dari public private partnership, dimana KBRI 
Washington DC, BKPM, Kementerian Budpar, sejumlah Gubernur serta sejumlah 
perusahaan Indonesia (yang dikoordinir Peter Gontha dari First Media) dan 
perusahaan Amerika Serikat (melalui US-ASEAN Business Council) semuanya gotong 
royong mendukung kebutuhan logistik perhelatan akbar ini.



Dalam beberapa minggu terakhir, Bappenas, KBRI Washington DC bekerjasama dengan 
Pemerintah AS juga mencapai kemajuan penting dalam upaya untuk mendapatkan 
hibah (bukan pinjaman) dari US Millennium Challenge Corporation sebesar sekitar 
$ 600 juta dollar, yang akan didedikasikan untuk proyek-proyek e-procurement 
governance, pendidikan, kesehatan balita dan green growth di Indonesia.  
Bahwasanya hibah tersebut sedang diproses dalam kondisi perekonomian AS yang 
sedang mengalami masa sulit mencerminkan arti strategis Indonesia yang besar di 
mata AS.


Semua pengalaman saya sebagai Duta Besar dalam 8 bulan terakhir membuat saya 
semakin yakin akan satu hal : apapun statusnya - apakah yang sudah menjadi US 
citizen, resident, pelajar, bahkan yang bermasalah izin tinggal - masyarakat 
Indonesia di AS dapat menjadi kekuatan riil yang relevan bagi bangsa Indonesia. 
 Kita mempunyai potensi yang unik untuk memberdayakan diri sendiri dan juga 
saudara-saudara kita di tanah air.



Sebagai contoh :
ü  Sehat Sutarja - CEO and President Marvell Technology dan billionaire Silicon 
Valley asal Indonesia yang mengunjungi Jakarta bulan Mei tahun ini - menjadi 
inspirasi bagi kaum muda dan inovator Indonesia.

ü  Program KBRI Washington DC "Generation-21" - yang mempertemukan 100 
mahasiswa dan profesional Indonesia dari berbagai penjuru AS untuk membahas 
masa depan bangsa kita - ditayangkan di SCTV selama 1 jam penuh dan ditonton 
jutaan pemirsa di tanah air.



ü  Rekor dunia angklung kita menjadi berita nasional dan membangkitkan semangat 
nasionalisme sejuk di Indonesia.


Karena itulah, saya ingin melihat masyarakat Indonesia di AS tumbuh menjadi 
suatu "enormous force for good" bagi Indonesia.  Namun demikian, kita juga 
harus jujur bahwa kontribusi kita kepada tanah air masih dibawah potensi yang 
sebenarnya.  Kita harus menumbuhkan culture of excellence dan energi positif, 
dan menjauhkan diri dari negative thinking dan sikap sinisme berlebihan yang 
sayangnya kadang masih membebani langkah sebagian kecil masyarakat kita. Dalam 
pengalaman saya, tidak pernah ada orang yang sukses dengan energi negatif dan 
sinisme.  Masyarakat sukses adalah masyarakat yang berprestasi dan optimis, dan 
memiliki budaya unggul.


Dengan demikian, pada tanggal 17 Agustus nanti kita bukan saja merayakan 
kemerdekaan Indonesia secara nostalgik, namun juga merenungkan serta 
membulatkan tekad bagaimana masyarakat Indonesia di AS dapat mengambil bagian 
dalam arus perubahan besar yang kini sedang melanda Indonesia.  KBRI Washington 
DC dan KJRI se-AS siap menampung dan membantu ide dan inisiatif konstruktif 
dari masyarakat.


Ke depan, ada beberapa program dan inisiatif yang akan kami jalankan :


·         Mensukseskan American batik design competition, yakni program yang 
mendorong para designer AS untuk merancang "American style batik".  Program ini 
diluncurkan dengan tujuan menduniakan batik dan merupakan program international 
batik design competition yang pertama di dunia.  Saya sendiri sudah melihat 
sejumlah design submissions dari para perancang Amerika, dan hasil serta 
kualitasnya sungguh membanggakan hati.  Para pemenang kompetisi ini akan 
diumumkan tanggal 8 November 2011. (americanbatik.embassyofindonesia.org)
·         Merancang dan meluncurkan program "1 komputer, 1 sekolah".  Dalam 
program ini, masyarakat Indonesia di AS yang berjumlah sekitar 150,000 orang 
dihimbau untuk berkontribusi untuk mencapai target 1 komputer per sekolah 
(diperkirakan ada sekitar 25,000 sekolah SD, SMP dan SMA negeri di Indonesia).  
Bagi mereka yang sangsi terhadap manfaat program ini, dapat saya sampaikan 
bahwa 1 komputer akan dipergunakan ratusan bahkan ribuan anak dalam 5-10 tahun 
ke depan, dan bahwasanya di desa Indonesia, komputer adalah suatu perangkat 
pendidikan yang masih langka. Program ini dimaksudkan untuk menyalurkan 
aspirasi masyarakat Indonesia di AS yang ditengah kesibukannya ingin sekali 
menyumbang sesuatu yang praktis dan riil bagi pendidikan di Indonesia.  Program 
ini diharapkan mulai berjalan awal tahun depan.
·         Melancarkan kompetisi merancang "business plan" bagi masyarakat 
Indonesia di AS, termasuk bagi yang sudah menjadi naturalized US citizens.  
Dalam kompetisi ini, masyarakat Indonesia dihimbau untuk mengirim suatu 
business plan yang inovatif, praktis dan menguntungkan.  Dari submissions yang 
masuk, akan dipilih 10 pemenang terbaik dan mereka akan diterbangkan ke 
Indonesia untuk dipertemukan dengan "angel investors" yang akan mengkaji 
business plan mereka dan, mudah-mudahan, memodalinya.  Dengan demikian, akan 
tercipta konektifitas antara brain power masyarakat Indonesia di AS dengan 
corporate power di Indonesia.   Program ini agar segera dilaksanakan dan 
pemenangnya direncanakan diumumkan bulan November 2011.
·         Mencanangkan Ambassador's 100 award for excellence bagi 100 pelajar 
Indonesia di AS pada tingkat elementary, junior dan high school - baik untuk 
WNI dan yang sudah naturalized US citizens.  100 pemenang award for excellence 
tersebut akan mendapat sejumlah insentif dan fasilitas : surat referensi dari 
Duta Besar untuk masuk ke Universitas; notifikasi resmi dari KBRI Washington DC 
mengenai list 100 penerima award kepada United States Department of Education 
dan kepada Kementerian Pendidikan Nasional; edaran list 100 penerima award 
kepada perusahaan-perusahaan AS dan Indonesia; pengumuman resmi di suatu media 
Indonesia, termasuk liputan profil beberapa penerima award oleh media 
Indonesia; kesempatan untuk mengikuti kegiatan diplomasi Duta Besar di AS, dan 
lain-lain.  Pengumuman pemenang Ambassador's 100 award for excellence akan 
dilakukan bulan Desember 2011, dan setelahnya setiap tanggal 17 Agustus setiap 
tahun.
·         Melaksanakan teleconference townhall paling tidak 2 (dua) kali dalam 
setahun.  Dalam teleconference ini, saya dengan fasilitas teknologi 
tele-townhall akan berkomunikasi per telepon secara langsung dan interaktif 
dengan masyarakat Indonesia di AS maupun warga AS yang berkepentingan mengenai 
hubungan Indonesia-AS, dan akan menampung gagasan serta menjawab pertanyaan 
apapun yang ada di benak anda.  Saluran ini dapat menampung ratusan bahkan 
ribuan penelepon secara simultan dan real time.  Teknis pelaksanaan townhall 
teleconference ini akan kami umumkan dalam waktu dekat (terutama melalui 
website embassyofindonesia.org), dan diharapkan akhir bulan September sudah 
dapat dimulai.
·         Membentuk komunitas on-line The Indonesian Network yang bertujuan 
untuk mempertemukan berbagai stake-holders yang berkecimpung dalam hubungan 
Indonesia-AS, baik warga Amerika maupun warga Indonesia dari berbagai kalangan 
(pengusaha, profesional, diplomat, pejabat, akademisi, seniman, wartawan, LSM, 
alumnus, dll) baik yang berdomisili di Amerika maupun di Indonesia.  The 
Indonesia Network ini dirintis karena saya mengamati banyak sekali 
stake-holders di Amerika dan di Indonesia yang aktif di bidangnya 
masing-masing, sayangnya mereka belum saling mengenal.  Website The Indonesia 
Network sudah dimulai dibangun pada tahap awal di www.theindonesianetwork.com 
dan antara lain sudah mulai menampilkan weekly network champions.  Saya undang 
anda untuk ikut mendaftarkan diri.
·         Khusus untuk staf KBRI Washington DC dan masyarakat Indonesia di 
sekitar Washington DC dan sekitarnya, menjalankan program "blind empathy kids". 
 Program ini bertujuan mendidik anak-anak Indonesia dibawah 10 tahun untuk 
mempunyai tanggung-jawab dan solidaritas sosial dengan membiasakan mereka dalam 
program mingguan untuk membantu kelompok masyarakat miskin dan kumuh di 
Washington DC (secara langsung memberikan uang, makanan, mainan dan obat).  
Jujurnya, program ini awalnya dimotivasi dari keinginan agar anak-anak saya 
(Alexa, Keanu, Chloe) tidak terkungkung dalam sangkar emas dan sejak dini 
mempunyai karakter yang mudah berempati dan suka menolong.  Program ini 
direncanakan dimulai akhir bulan Agustus tahun ini, dan mudah-mudahan juga 
dapat dilaksanakan oleh KJRI se-AS kelak.
·         Mendorong skema pembiayaan pendidikan "student loans" untuk mahasiswa 
Indonesia di AS.  Saya percaya bahwa kini sudah saatnya mulai merubah mindset 
para pelajar Indonesia dari yang mengharapkan beasiswa dari Pemerintah 
Indonesia atau Pemerintah AS, menjadi lebih mengandalkan fasilitas "student 
loans" dari bank yang akan dibayarkan kembali dalam terms yang lenient setelah 
mahasiswa peminjam tersebut mendapat pekerjaan.  "Student loans" akan lebih 
banyak dibutuhkan oleh masyarakat kelas menengah Indonesia yang sebenarnya 
mempunyai kemampuan namun masih perlu bantuan.  "Student loans" juga penuh 
martabat karena berarti sang pelajar mengejar sukses dengan risiko dan jerih 
payah sendiri.  Perubahan mindset dari mengejar scholarship ke mencari student 
loans akan secara drastis meningkatkan akses fasilitas pendidikan AS kepada 
pelajar dari Indonesia.  Namun ini merupakan tantangan yang berat karena harus 
meyakinkan Bank mengenai kaidah dari program ini.  Beberapa skema "student 
loans" untuk mahasiswa Indonesia sudah dimulai (dari Sampoerna Foundation) 
namun masih jauh dari yang skala yang dibutuhkan.
·         Membantu upaya Permias untuk menyelenggarakan kongres Permias se-AS, 
yang mungkin digabung dengan Kongres PPI sedunia.  Pada saat dimana pemuda dan 
mahasiswa di seantero dunia menjadi agen perubahan dan keunggulan yang dahsyat, 
Permias se-AS harus bisa menunjukkan eksistensi dan kontribusinya.  Para 
anggota Permias harus mulai menanam investasi intelektual dalam jajaran 
pemimpin masa depan Indonesia.
·         Dalam rangka membudayakan energi positif, KBRI Washington DC dan KJRI 
se-AS juga akan memprakarsai program mengundang para alumnus AS (Sandiaga Uno, 
Anies Baswedan, Omar Anwar, Peter Gontha, Patrick Walujo, Anien Bakrie, Handoyo 
Mulyadi, dll) dan sejumlah warga Indonesia yang sudah menjadi pengusaha mapan 
di AS untuk berbagi "secrets of success" dengan masyarakat Indonesia.  Program 
ini akan dilaksanakan secara ad hoc.
·         Mengupayakan terbentuknya suatu komunitas inovator Indonesia - AS.  
Saya mengamati bahwa sektor inovasi merupakan wilayah baru yang masih belum 
banyak digarap dalam hubungan bilateral kita, padahal potensi kreatifnya sangat 
besar sekali.  Karena itulah, KBRI WDC akan terus mencari ide dan prakarsa 
untuk mendorong interaksi dan kolaborasi antara inovator RI-AS.  Kita sudah 
mendengar mengenai sukses perusahaan Indonesia KOPROL yang dibeli Yahoo !, 
namun saya percaya ini baru merupakan tip of the iceberg karena potensi inovasi 
putra-putri Indonesia yang luar biasa.
·         Mengupayakan reality show "dangdut goes to USA", yang menampilkan 
sejumlah artis dangdut dari Indonesia yang berkelana keliling Amerika untuk 
mempromosikan musik dangdut, terutama di tempat-tempat dimana mereka akan 
berada dalam situasi lucu bak "fish out of water".  KBRI Washington DC sedang 
merancang program ini dengan salah satu televisi swasta di Indonesia dan 
mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan dapat direalisasikan.
·         Membentuk suatu on-line Indonesian brain bank.  Brain bank ini akan 
berisi database, CV serta prestasi para profesional, mahasiswa dan pakar 
Indonesia, baik yang berdomisili di AS maupun mereka yang pernah belajar atau 
bekerja di AS namun telah kembali ke tanah air.  Dengan brain bank ini, kami 
berharap untuk menciptakan suatu komunitas networking yang luas antara 
mahasiswa dan profesional Indonesia, sekaligus membentuk suatu "skill 
supermarket" yang terbuka baik bagi yang mencari kerja maupun yang mencari 
pekerja.

Satu point lagi: dalam perjalanan saya ke berbagai kota di AS, saya selalu 
mendengar masukan yang konsisten dari masyarakat Indonesia mengenai perlunya 
ada "dual citizenship".  Saya pribadi juga merasa bahwa di abad ke-21, kita 
harus melihat nasionalisme dan kewarganegaraan sebagai dua hal yang berbeda : 
banyak saudara kita yang sudah menjadi warga AS yang nasionalisme-nya masih dan 
akan terus membara.  Mereka menjadi warga AS lebih karena pertimbangan 
kemudahan hukum (legal convenience).  Memang, angin politik di tanah air ke 
arah "dual citizenship" ini masih sangat lemah, namun saya berjanji akan 
menyampaikan aspirasi masyarakat Indonesia di AS ini ke Pemerintah, DPR dan 
parpol.  Yang jelas, Indonesia ke depan akan sangat membutuhkan brain, skill 
and capital power dari diaspora Indonesia di luar negeri, termasuk yang berada 
di AS.  Hal inilah yang dilakukan Pemerintah India dengan diaspora India 
sehingga kini menjadi rising world power.



Akhir kata, saya dan keluarga mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan 
selama menjadi Duta Besar di AS.  Selain itu, segala kekurangan staf KBRI WDC 
adalah tanggung jawab saya dan akan terus saya perbaiki.  Saya juga ucapkan 
terima kasih kepada seluruh staf KBRI dan KJRI se-AS atas dedikasi mereka 
melaksanakan tugas negara.  Penghargaan khusus juga saya sampaikan kepada 
adik-adik kita para anggota paskibraka, penyanyi aubade, sukarelawan dan semua 
yang ikut meramaikan hari kemerdekaan Indonesia di berbagai kota di AS tanggal 
17 Agustus nanti.  Apresiasi tertinggi saya sampaikan dari lubuk hati yang 
sedalamnya kepada masyarakat Indonesia di AS yang menjadi sumber energi dan 
inspirasi bagi seluruh diplomat Indonesia di Amerika.



Sewaktu saya membuka Conference of Futurology di Jakarta, saya menekankan 
perlunya kita mulai merubah visi dari "a nation of revolutionaries" yang lahir 
tahun 1945 menjadi "a nation of leaders, achievers, entrepreneurs, builders, 
innovators, pioneers, volunteers, and champions" di abad ke-21. 
(http://www.youtube.com/watch?v=GbEIv4cFpIQ) Saya sungguh percaya bahwa visi 
tersebut akan tercapai, dan saya yakin bahwa anda dan saya dan anak-anak kita 
akan gigih memperjuangkannya dalam cara dan kemampuan kita masing-masing.



Sampaikan salam hormat saya kepada keluarga anda, dan Dirgahayu Republik 
Indonesia !


Dr. Dino Patti Djalal
Duta Besar LBBP RI
Kedutaan Besar Republik Indonesia
2020 Massachusetts Avenue NW
Washington, DC   20036
USA
Twitter : @dinopattidjalal
Web: www.embassyofindonesia.org



=========================================================================
--

Nur Evi Rahmawati (Evi)
Third Secretary, Press and Information Affairs
Embassy of Indonesia
2020 Massachusetts Ave. NW
Washington DC, 20036
Tel: (202) 775-5295
Fax: (202) 775-5359
www.embassyofindonesia.org
facebook: http://www.facebook.com/pages/Indonesian-Embassy-Washington-DC





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke