Apakah ini bukannya tanda2 kemajuan ? Karena dulunya katanya Indonesia
negara agraris, dan belum mampu nanjak ketingkat Industri. Dengan adanya Impor 
beras , maka mungkin Indonesia sudah bukan negara agraris lagi , mungkin juga 
sudah jadi negara industri dan technologi. 'kan sudah banyak Industri dibuka di 
Bekasi dan Karawang. Buktinya dulu juga kita sudah nukerin pesawat terbang sama 
ketan item .... Gimana kira2 analisa saya masuk diakal nggak ?

Salam,
Dr.Irawan.

2011/8/28 Sunny <[email protected]>

> **
>
>
> Refl: Wah! Hebat sekali anggota DPR bisa menemukan timbunan ribuan ton
> beras yang polisi tidak temukan atau polisi sengaja tutup mata dan bisu
> sekalipun tahu adanya timbunan beras. Mungkin pak polisi sudah tahu tetapi
> lupa dilaporkan. Bagaima pun, marilah kita usulkan agar anggota DPR penemu
> beras impor ini supaya gajinya dinaikan berlipatganda.
>
>
> http://www.antaranews.com/berita/273663/anggota-dpr-temukan-ribuan-ton-beras-impor
>
> Anggota DPR temukan ribuan ton beras impor
> Minggu, 28 Agustus 2011 03:46 WIB |
>
> ilustrasi tumpukan beras di gudang beras (ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang)
>
> Jakarta (ANTARA News) - Kalangan anggota Komisi IV DPR RI menemukan
> tersimpannya ratusan ribu ton beras impor di salah satu gudang beras milik
> Badan Urusan Logistik (Bulog) di Sidoarjo, Jawa Timur.
>
> "Temuan ini cukup ironis, impor beras yang dilakukan oleh Bulog ternyata
> dilakukan hanya untuk memenuhi gudang-gudang dengan beras dari negara lain.
> Ini semakin menegaskan bahwa keamanan dan ketahanan pangan kita bergantung
> dari impor," ujar anggota Komisi IV, Rofi Munawar, melalui e-mailnya yang
> diterima ANTARA di Jakarta, Sabtu.
>
> Dijelaskannya, saat sejumlah anggota Komisi IV DPR melakukan inspeksi
> mendadak ke Jawa Timur, mereka menemukan dari total 290 ribu ton beras yang
> tersimpan di Gudang Bulog, beras lokal hanya sebesar 1.000 ton, sedangkan
> kurang lebih 289 ribu ton beras yang tersimpan merupakan beras impor.
>
> Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama Januari- Juni 2011
> impor pangan Indonesia senilai 5,36 miliar dolar AS (kurang lebih Rp 45
> triliun). Tahun 2011 Pemerintah memberikan kuota impor beras sekitar 1,5
> juta ton. Realisasi impor beras ini akan dilakukan hingga Februari tahun
> 2012. Saat ini sekitar 3.850 ton beras telah
> masuk, jika di total 800.000 ton beras diproyeksikan masuk selama 2011.
>
> Padahal, menurut catatan Rofi, Pemerintah telah memastikan penghentian
> impor beras terhitung 31 Maret 2011. Ketika itu alasannya masa panen raya
> padi sedang berlangsung, stok beras secara nasional juga cukup memadai atau
> bisa untuk lima hingga enam bulan ke depan.
>
> Namun, kondisi itu tidak bertahan lama, empat bulan berselang pertengahan
> Agustus Bulog telah melakukan impor beras dari Vietnam sebesar 500.000 ton
> beras yang masuk dari 20 pelabuhan di seluruh Indonesia. Kemudian
> dilanjutkan di bulan September direncanakan impor beras dari Thailand
> sebesar 300.000 ton.
>
> "Bulog saat ini sudah dibekali Inpres No.8/2011, seharusnya dengan Inpres
> ini Bulog tidak mengalami kesulitan menyerap gabah dan beras petani karena
> harga pembelian akan mengikuti harga di pasar sesuai dengan pantauan BPS,"
> ujarnya.
>
> Tetapi kenyataan di lapangan justru sebaliknya dan hal ini menunjukkan
> bahwa pelaksanaan Inpres tersebut tidak efektif
>
> "Seharusnya gudang Bulog dipenuhi dengan beras dari petani lokal, adapun
> beras impor hanya pelengkap. Namun apa yang terjadi justru berbeda 180
> derajat, beras lokal terpuruk sedangkan beras impor mendominasi," ujar
> anggota FPKS itu.
>
> Berita Terkait
> a.. Penyaluran raskin dipercepat
> b.. Bulog Jawa Timur kirim beras ke Bali
> c.. Bangli raih penghargaan Presiden SBY
> d.. Stok beras nasional aman hingga Desember
> e.. Aburizal Bakrie pantau harga beras di Malang
> Video
> a.. Cadangan Beras ASEAN
> b.. Maret Deflasi 0,32 Persen
> c.. DPR Tolak Pembebasan Bea Masuk Beras
>
> Ditegaskannya pula bahwa temuan ini bukan tidak mungkin terjadi di
> gudang-gudang Bulog lainnya di seluruh Indonesia. Jika ini terjadi tentu
> menjadi sebuah gambaran rendahnya kesungguhan Bulog dalam menyerap beras
> dari petani lokal. Seharusnya dengan infrastruktur yang dimiliki Bulog tidak
> sulit menyerap gabah dari petani.
> (T.D011/M012)
> Editor: Ruslan Burhani
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke