Kebohongan Media Mainstream Soal Libya
HL | 28 August 2011 Oleh Dina Y. Sulaeman

Moammar Qaddafi memang bukan pemimpin yang baik. Salah satu bukti kebrutalannya 
adalah aksi "pelenyapan" Imam Mousa Sadr. Pada 25 Agustus 1978, tokoh pendiri 
Hizbullah-Lebanon, Imam Musa Sadr, bersama dua orang yaitu, Syeikh Muhammad 
Yaqub dan Abbas Badruddin, pimpinan redaksi kantor berita Lebanon, tiba di 
Libya. Menurut rencana tanggal 29 atau 30 Agustus, mereka akan berdialog dengan 
Presiden Libya, Qaddafi. Namun sejak itu hingga kini Imam Musa Sadr raib tanpa 
jejak. Amnesty Internasional pada tahun 1988 melaporkan bahwa Qaddafi telah 
melakukan penangkapan, penahanan sewenang-wenang, penghilangan paksa, 
penyiksaan, serta hukuman mati terhadp para oposannya. Tahun 1996, menurut 
Amnesty Internasional, terjadi pembantaian massal terhadap 1.200 orang di 
penjara Abu Slim.

Tapi, kebrutalan Qaddafi tidak seharusnya membuat kita tidak peduli (apalagi 
mendukung) terhadap apa yang dilakukan oleh NATO di Libya. Qaddafi saat ini 
sepertinya sedang menghadapi karmanya, menghadapi detik-detik pembalasan atas 
berbagai kejahatan yang pernah dilakukannya selama ini. Namun, kita juga perlu 
mencermati skenario yang dilakukan NATO dalam mengobarkan perang di Libya.

Perang di Libya dimulai dengan aksi-aksi demo anti Qaddafi pada bulan Februari 
yang dilakukan rakyat Libya di Benghazi. Ada yang aneh, Benghazi sebenarnya 
justru kawasan yang makmur. Secara umum pun, rakyat Libya cukup makmur. 
Pendapatan penduduk per kapita Libya adalah US$ 14581.9. Bandingkan dengan 
Mesir yang hanya US$ 2015.5 dan Tunisia US$ 3680.5. Sekedar perbandingan, 
Indonesia masih di atas Mesir, yaitu US$ 2149.7 (data dari PBB). Meskipun ada 
banyak kabar yang memberitaka betapa Qaddafi menumpuk harta, namun dia tetap 
menginvestasikan kembali sebagian penghasilan minyak (Libya adalah pemilik 
cadangan minyak terkaya di Afrika) di bidang kesehatan (pelayanan gratis), 
pendidikan, dll. Itulah sebabnya, HDI (Human Development Index) Libya bahkan 
yang tertinggi di Afrika, dan di dunia berada di peringkat 57, lebih bagus 
daripada Rusia atau Brazil. Fakta ini sungguh tidak cocok dengan berita �rakyat 
Libya bangkit secara massal untuk menumbangkan
 Qaddafi.� Bahwa ada kelompok oposan, wajar. Tapi pemberontakan massal di 
seluruh negeri (seperti diberitakan media massa), sungguh menunjukkan pola yang 
aneh.

Menyusul aksi-aksi demo dan kekerasan yang terjadi, dunia pun digiring untuk 
�mengizinkan" AS dan kroni-kroninya melakukan �humanitarian intervention" demi 
membantu rakyat Libya. Media-media mainstream, seperti CNN atau Fox News, 
bahkan kali ini yang menjadi motornya adalah Al Jazeera, berusaha membentuk 
opini publik, bahwa sedang terjadi pembantaian sipil besar-besaran di Libya. 
Karena itulah, tak banyak yang memprotes saat NATO mulai melancarkan 
membombardir Libya dengan alasan kemanusiaan (�humanitarian intervention") 
tanggal 31 Maret. Target serangan NATO justru bukan kompleks militer, tetapi 
rumah-rumah (termasuk istana Qaddafi sehingga menewaskan beberapa anak dan 
cucunya), rumah sakit, sekolah, dll.

Ada banyak topik yang bisa dibahas dalam masalah ini, misalnya sahkah serangan 
NATO? Apa hakikat di balik kata �humanitarian intervention" yang didengungkan 
oleh PBB dan NATO? Namun, kali ini saya ingin memfokuskan pada kebohongan media.

Selama konflik Libya, hanya ada beberapa jurnalis independen yang dengan berani 
memberitakan fakta-fakta yang berbeda dengan apa yang diberitakan AlJazeera, 
CNN, dll. Mereka adalah Mahdi Darius Nazemroaya, Franklin Lamb, Lizzhie Phelan 
(kontributor Press TV), dan Thierry Maysan (jurnalis yang dulu juga membela 
Iran saat media massa dunia sedang mempropagankan ada gemlobang revolusi di 
Iran). Mereka secara rutin memberitakan langsung dari Tripoli, perkembangan 
yang sesungguhnya.

Pada tanggal 21 Agustus, ketiganya masih mengirim laporan. Phelan kepada 
PressTV, Nazemroaya kepada Russia TV, dan Maysan menulis untuk Global Research. 
Saat itu, dalam rekaman video yang ditayangkan Russia TV, Nazemroaya melaporkan 
bahwa dirinya ditembak, namun luput. Laporan lainnya menyebut bahwa Lamb 
ditembak kakinya dan Phelan diintimidasi oleh jurnalis dari media mainstream 
supaya berhenti melaporkan situasi yang berlawanan dengan misi NATO. Pada 
tanggal 21/8, Maysan masih mengirim tulisan yang menceritakan keterlibatan Al 
Qaida. Namun, anehnya, sejak 21 Agustus, tidak ada kabar lagi dari mereka. Blog 
Lizzie Phelan pada tanggal 21 Agustus masih ada, namun kini kita sudah tidak 
bisa membaca lagi isinya. Berita lain menyebutkan bahwa Phelan tidak bisa lagi 
mengakses facebook dan emailnya. Belum ada kepastian bagaimana kondisi mereka 
saat ini.

Intimidasi terhadap para jurnalis independent itu menunjukkan ada yang 
ditutup-tutupi. Kebohongan sedang disebarluaskan oleh media massa mainstream. 
Ini salah satu bukti nyata kebohongan itu:

Pada tanggal 21, secara serempak media massa dunia (termasuk di Indonesia) 
memberitakan bahwa pasukan pemberontak sudah menguasai Tripoli. Tivi-tivi 
menayangkan gambar orang-orang yang bergembira ria. Reporter menyatakan, inilah 
pasukan pemberontak merayakan kemenangan.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=bbeg5udfGiw&w=420&h=345]

Kemudian terbukti, video itu palsu belaka. Itu adalah sebuah film yang dibuat 
entah dimana (kemungkinan besar tentu di Qatar, karena yang pertama kali 
menyiarkan rekaman itu adalah Al Jazeera), dengan lokasi yang mirip dengan 
Green Square Tripoli.

Perhatikan gambar di bawah ini (klik untuk memperbesar). Di gambar kiri atas 
adalah foto capture dari Al Jazeera, bandingkan dengan foto-foto asli 
pemandangan Green Square di sebelah kanan dan bawah.

Tujuan dari semua kebohongan ini adalah untuk menggalang opini internasional 
agar mendukung pemerintahan peralihan (terbukti, segera muncul ucapan selamat 
dan pengakuan dari beberapa negara terhadap pasukan pemberontak), melemahkan 
nyali orang-orang Libya yang masih terus berjuang melawan NATO, dan menimbulkan 
situasi chaos di dalam negeri. Dan yang terpenting: untuk menutup-nutupi 
pembantaian massal yang diprediksi akan segera menyusul setelah deklarasi 
kemenangan para pemberontak. Terbukti, tak lama kemudian, Inggris menurunkan 
pasukan daratnya di Tripoli dengan alasan ingin menangkap Qaddafi. Hingga 
tulisan ini dibuat (enam hari setelah deklarasi kemenangan pemberontak), 
Qaddafi tak jua ditangkap. Hingga tulisan ini dibuat (enam hari setelah 
deklarasi kemenangan pemberontak), Qaddafi tak jua ditangkap. Belum ada berita 
yang valid dari Libya mengenai situasi saat ini karena selain listrik mati, 
media massa lokal dan internet pun diblokir. Dunia  terpaksa menerima saja apa 
yang diberitakan Al Jazeera dan media-media mainstream.

Meskipun suara-suara jurnalis independen sudah diberangus (mudah-mudahan mereka 
semua saat ini dalam kondisi selamat dan tetap hidup), namun kebenaran cepat 
atau lambat akan terkuak. Seperti dikatakan Nazemroaya, Ini Perang NATO. Ini 
bukan tentang Qaddafi. Qaddafi adalah dalih dilancarkannya perang ini, perang 
ini adalah untuk mencuri harta dari rakyat Libya.

Mereka tidak sedang membela Qaddafi. Seperti dikatakan Prof. Chossudpvsky, 
Jurnalis independent dijadikan target karena mereka mengatakan kebenaran. 
Liputan media mainstream terhadap perang Libya difokuskan pada Qaddafi. Tidak 
ada satu kata pun yang menyebutkan mengenai kerusakan dan korban nyawa rakyat 
sipil akibat bombardir NATO, termasuk bombardir intesif ke Tripoli.�

Pertanyaan terakhir, mengapa eskalasi serangan NATO sedemikian meningkat sejak 
tanggal 20-an Agustus? Webster Tarpley (pengamat politik yang sering jadi 
narasumber PressTV) mengatakan, NATO sudah kehabisan waktu. Mereka menargetkan 
bulan April, Qaddafi sudah tumbang. Namun hingga akhir Agustus, Qaddafi masih 
bertahan. Padahal batas akhir masa berlaku Resolusi PBB yang menjadi �payung 
hukum" bagi NATO untuk bercokol di Libya adalah pertengahan September. Pada 
tanggal 20-21 Agustus itu, NATO mengangkut para pemberontak (Tarpley menyebut 
mereka ini adalah Al Qaida) dari berbagai kota, mempersenjatai mereka, dan 
mendaratkan di pelabuhan Tripoli. Pemberontak melakukan �tugas mereka" di 
darat, dan NATO menghancurkan Tripoli dari udara.

Dan juga menyedihkan, skenario serupa kini sepertinya juga tengah bergulir di 
Syria.

Catatan:
1. Video-video dan link-link berita yang lebih lengkap tentang kebohongan media 
mainstream soal Libya bisa dilihat di sini :

http://www.abovetopsecret.com/forum/thread744969/pg1

http://libyasos.blogspot.com/search?updated-max=2011-08-25T01%3A28%3A00%2B02%3A00&max-results=10

2. Kisah kebohongan media mainstream juga pernah terjadi di Irak dan Iran, 
kisahnya ada di sini

* Dina Sulaeman
Penulis, alumnus Magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, 
pemilik blog Kajian Timur Tengah,

Kirim email ke