Bedah Buku Sie Hok Tjwan

Undangan acara bedah buku yang dilakukan secara
mendadak ternyata banyak juga memikat pakar pakar pengamat sejarah di LA. 
Mengapa secara
mendadak, dan pada waktu yang tidak biasanya yakni di hari Sabtu pagi, tidak 
lain karena jadwal
kunjungan penulis, Sie Hok Tjwan,yang kebetulan mendadak.
Bapak Sie Hok Tjwan adalah penulis buku “Soal-soal yang perlu diperhatikan oleh 
Minoritas Tionghoa
Indonesia” yang baru saja menerbitkan edisi pertamanya. ISBN: 
EAN978-90-816883-1-4. Beliau
selama ini tinggal di negeri Belanda, dan pernah menulis buku lainnya yang 
berjudul “The 6th overseas
Chinese State” terbitan Centre for Southeast Asian Studies Townsville 
Australia. ISBN 0864432755 /
9780864432759 / 0-86443-275-5 , yang banyak dipakai sebagai referensi di 
universitas didunia.

Acara yang di sponsori oleh ICAA , Duarte Inn, dan Indonesia Media ini, 
dimoderatori langsung oleh
salah seorang keturunan pelaku sejarah, Butce, yang namanya tidak asing lagi 
sebagai kolumnis di
Indonesia Media. Sebagaimana biasanya acara dibuka oleh ketua umum ICAA , Dr. 
Fits Hong, yang
dalam kata sambutannya, “menekankan pentingnya pencatatan sejarah yang benar”.

Dibawah ini adalah biografi singkat penulis:

Sie Hok TJwan Lahir di Malang Jawa Timur 19 Agustus 1928.

Leluhur dari ayah maupun dari ibu datang dari Tiongkok sekitar 200 tahun yang 
lalu. Dari pihak ibu oleh
Drs.Koo Liong Bing mantan direktur CTC telah ditemukan silsilah (family-tree) 
hingga dinasti Tang
sebagian dalam bahasa Tionghoa kuno yang telah diterjemahkan di Peking.

Dari pihak ayah, mah-co (ibu nenek)-nya ayah, adalah wanita Priayi Jawa. 
Hubungan dengan orang
Jawa Priayi maupun rakyat baik sekali. Kami dapat perlindungan dari pihak Jawa 
yang berkuasa. Dahulu
meskipun tidak bisa bahasa Tionghoa dan ayah/ibu maupun sendirinya tidak pernah 
ke Tiongkok,
tetapi menganggap diri sebagai orang Tionghoa. Tahun 1945 memihak Indonesia 
terhadap kolonialis
Belanda bukan sebagai orang Indonesia, tetapi karena solider sebagai sesama 
bangsa Asia. Tiongkok juga
merasakan tindasan pihak Barat yang sedang jaya. Ayahnya pada tahun 1946 oleh 
penguasa Republik di
Malang ditunjuk sebagai kepala Fonds Kemerdekaan.

Mencoba ke RRT, ketika itu kesempatan keluar Indonesia hanya dapat melalui 
Eropa. Ini disebabkan
oleh kemungkinan lalu lintas, pengiriman uang dsb. Tidak berhasil ke Tiongkok, 
tahun 1955 kembali
ke Indonesia serta menjabat sekretaris pemilihan umum Baperki Pusat. Kemudian 
redaktur halaman-tiga


Antrian tanda tangan buku penulis

Harian “Republik”. Setelah itu bekerja di NV Mendut milik tuan Hasibuan dan 
bersama dengan beberapa
anggauta bekas Tentara Pelajar merealisasi barter beras dari Vietnam Utara 
ditukar dengan gula dari
Indonesia. Tahun 1958 menikah dengan Khoe Swan An.

1960 Dengan keluarga pindah ke Jerman, tinggal di Jerman-Barat. Pada tahun 1965 
atas undangan
Kedutaan RRT berkesempatan ke RRT. Disana disebabkan tidak fasih bahasa 
Tionghoa, tidak tahu jalan
dan tidak ada famili, meskipun direstui pihak yang ketika itu berkuasa, 
tersadar dan merasa lebih berguna
kembali ke Jerman. Di Jerman 8 tahun mengerjakan impor bungkil Indonesia ke 
Antwerp-Hamburg
Range (Hamburg, Bremen, Amsterdam, Rotterdam, Antwerpen).

Ketika itu Liem Swie Hwa disamping pedagang besar tembakau telah mendirikan 
perusahaan impor-
ekspor Prodimex di Bremen yang tidak jalan. SHT masuk menjalankan Prodimex 
dengan syarat untung

dibagi 3 dengan Liem Swie Hwa dan Go Ka Him/Tjia Sing Hien di Indonesia. Tahun 
1968 merasa jemu
hidup dalam suasana rasis yang bekas Nazi di Jerman. Setelah itu meninggalkan 
perusahaan dan masuk
Negeri Belanda, mula-mula tinggal gelap selama 4 tahun tanpa ijin tinggal.

Di Nederland menulis di berbagai harian Belanda dan menulis buku “The 6th 
overseas Chinese State”
terbitan Centre for Southeast Asian Studies Townsville Australia. Sekarang 
dengan 4 anak dan 6 cucu
tinggal di Nederland, 1 anak perempuan dan 3 cucu tinggal di US.

Terakhir beliau menulis buku berjudul “Soal-soal yang perlu diperhatikan 
Minoritas Tionghoa-
Indonesia”. Membaca buku ini diharap mengambil soal-soal yang mungkin berguna 
bagi masyarakat.

Catatan: Sie Hok Tjwan selama ini pernah menulis beberapa artikel di majalah 
dwimingguan Indonesia
Media.Beliau termasuk kontributor tulisan dari Belanda kepada 
www.indonesiamedia.com yang terbit di
Amerika.

Acara bedah buku
Seperti pepatah Inggris mengatakan, ” Kebenaran yang tidak di ceritakan bisa 
beracun “. Dalam buku ini
bapak Sie Hok Tjwan mengungkapkan kisah-kisah yang banyak tidak diketahui 
orang. Terutama dalam
peranan suku peranakan Tionghoa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.Menurut 
pendapat beliau
hal ini disebabkan adanya kecendrungan orang Tionghoa peranakan untuk tidak 
menonjolkan diri , yang
terjadi bukan saja di Indonesia tapi juga setelah mereka merantau di Belanda. 
Salah satu penyebab lain
menurut beliau adalah tidak jadinya dibentuk pasukan khusus warga Tionghoa 
melawan Belanda, tapi
dianjurkan untuk berbaur dengan pasukan pribumi yang sudah ada.

Pada tahun 1946 Di stadion Solo olahragawan Tony Wen dengan istrinya yang 
dibilang bintang film
Tionghoa menyeruhkan untuk membentuk barisan berani mati (cibaku-tai,kamikaze) 
melawan Belanda.
Di Malang, sesuai contoh batalyon Nisei generasi ke II Jepang di USA yang ikut 
dalam perang dunia ke
II, Siauw Giok Bie, adiknya Siauw Giok Tjhan, ingin mempersenjatai Angkatan 
Muda Tionghoa (AMT)
sebagai batalyon Tionghoa berdampingan dengan lain – lain kesatuan bersenjata 
seperti Laskar Rakyat,
Pesindo, Kris (gol.Menado), Trip (pelajar) dll. Namun pimpinan Tionghoa kuatir 
provokasi kolonial
dapat menimbulkan bentrokan bersenjata dengan kesatuan Pribumi. Pembentukan 
batalyon tersebut
ditolak.

Orang – orang Tionghoa yang ingin ikut melawan Belanda dianjurkan untuk masing 
– masing masuk
kesatuan-kesatuan Pribumi menurut kecocokan pribadi. Hal ini juga disebut di 
hal.79 memoar Siauw
Giok Tjhan “Lima Jaman”. Pendirian Baperki kemudian pun menjumpai pertentangan 
dalam pimpinan
minoritas Tionghoa, tetapi Siauw GT berhasil meneruskannya.Meskipun dapat 
dimengerti, keputusan


Butce (Bruce) , Moderato

untuk tidak membentuk Batalyon Tionghoa ternyata merupakan kelemahan yang 
akibatnya terasa
hingga kini. Memang tidak ada pemimpin besar atau kecil tanpa kesalahan dan 
kelemahan.Kedudukan
gol. Tionghoa sebagai “Cino nanggung, Jowo durung” (Tionghoa sudah 
setengah-setengah, Jawa belum)
membutuhkan sikap yang menyata, yang asertip. Keputusan pimpinan ket. Tionghoa 
menunjukan sikap
yang dalam hal politik tidak mandiri.

Golongan Tionghoa ketika itu ibarat terkena injakan rem dalam usaha untuk 
ramai-ramai maju ke depan,
sehingga sebagai golongan minoritas Tionghoa dirasakan tidak ikut arus nasional 
yang berkobar-
kobarmelawan Kolonialis Belanda. Di Indonesia suasana kawan seperjuangan 
seperti dialami
golongan Tionghoa thn 1946 di kota Malang tidak diperkembangkan lebih lanjut 
oleh pimpinan Tionghoa
Indonesia dan lambat laun memburuk hingga bisa terjadi pelecehan dan perkosaan 
pertengahan bulan
Mei 1998. Oleh karena keputusan pimpinan Tionghoa Indonesia di atas, kemudian 
orang Tionghoa
SEBAGAI GOLONGAN dirasakan tidak ikut andil dalam penegakan Republik Indonesia 
. Sebagai
golongan, orang Tionghoa tidak memiliki KURSI dan tidak memiliki SUARA 
(prestise, martabat)

sebagai veteran. Padahal di Indonesia yang berkuasa di belakang dan di depan 
layar adalah kaum veteran.

Kebenaran lain yang diungkapkan dalam buku ini adalah adanya 3 republik besar 
di Kalimantan Barat
sebelum lahirnya negara Republik Indonesia. Juga perbedaan sikap dan perlakuan 
antara kolonialisme
Timur ( Raja Tiongkok ) dan kolonial Barat.

Banyak orang Tionghoa yang telah berjasa mendirikan fasilitas kesehatan untuk 
umum yang
meringankan beban rumah sakit umum pemerintah diberbagai penjuru Indonesia, 
antara lain RS Yang
Seng Ie (Husada) yang didirikan oleh dr. Kwa Tjoen Sioe, RS Chung Hoa Iyen 
(Iyen Kebon Jati,
Bandung) , Tionghoa Ie Wan di Surabaya, Tiong Hoa Ie Hsia di Malang, dan RS 
mata dr. Yap (hong
Tjoen) di Jogya, RS Panti Kosawa dr Oen Boen Ing (KRT Obi Darmohusodo) di Solo. 
Kemudian yang
terakhir sempat terekam adalah klinik dr. Lo Siaw Ging yang banyak merawat 
masyarakat secara gratis di
Solo, bahkan sampai ke RS Kasih Ibu.

Indonesia terdiri dari bekas negara /kerajaan/kesultanan , bahkan beberapa 
republik yang mempunyai
kedaulatan sendiri, seperti Aceh, Sriwijaya, Singosari, Kediri, Majapahit, 
Blambangan, Demak,
Pontianak, Ternate, Banten, Cirebon, Mataram, Solo, Mangkunegran, Jogya, 
Pakualaman, Timor, Bali,
Lombok, dan seterusnya. Dalam abad ke 18 dan ke 19 di Kalimantan-Barat terdapat 
sejumlah republic.
Berapa jumlah seluruhnya tidak jelas. Sumber sejarah menyebutkan ada 3 republik 
yang besar , yaitu
Republik Thai Kong dengan tentara 10.000 orang, Republik Lan Fang dengan 
tentara 6000 orang, dan
Lara Sin-Tai-Kiou yang 5000 orang. Republik Lan Fang sendiri eksis lebih dari 
100 tahun.

Salah satu tokoh Tionghoa yang disinggung oleh Bapak Sie adalah Kong Siu Tjoan 
( Kakek buyut dari
saudara Butce ). Yang disebutkan berperan secara tidak langsung dalam 
menghentikan pembunuhan
korban 40 ribu jiwa oleh Westerling di Makassar. Pada tahun 1946 terjadi 
pembersihan merah putih
oleh tentara KNIL. Mereka merazia setiap rumah dikawasan Maccini, dan apabila 
didapatkan merah
putih seluruh penghuninya ditangkap dan ditembak mati. Kebetulan eksekusi 
tersebut dilakukan di
hutan bambu tidak jauh dari rumah Kong Siu Tjoan di Tamajene. Ratap tangis 
memilukan dan teriakan
minta ampun terdengar dari korban yang disuruh untuk menggali lubang kuburan 
mereka sendiri. Suara
tembakan terdengar tidak henti-hentinya ,suasana sangat mencekam.

Kong Sioe Tjoan sebagai seorang tokoh palang merah dari Sun Yat Sen segera 
menulis surat rahasia ,
dan diantar oleh kurir kepada konsul Wang Tek Fung, , dia menjelaskan bahwa 
tindakan itu melanggar
undang undang hukum perang Volkenborn, dan minta konsul utk segera bertindak 
menghentikan
kebiadaban itu. Berkat surat itu, konsul Wang Tek Fung datang satu mobil 
bersama Gubernur Belanda
dan memerintahkan untuk menghentikan penangkapan dan pembunuhan. Kong Siu Tjoan 
ini lahir dari
perkawinan campuran antara Kong Hok Tien dan putri dari kerajaan Maros, Ida 
Kuneng. Walaupun
begitu karena jasa-jasanya dalam palang merah dia dianugrahi jabatan sebagai 
gubernur di Nanking
oleh Presiden Sun Yat Seng. Namun jabatan itu ditolak dan dia memilih untuk 
tetap tinggal di Makassar
karena kecintaannya pada ibunya.

Sie Hok Tjwan masih banyak membuka sejarah yang nyaris belum pernah ditulis 
sebelumnya seperti
setelah kejatuhan Sriwijaya Cheng Ho menyebarkan Islam Tionghoa disana , lalu 
Sultan Demak, Raden
Patah (Jin Bun) ayahnya berasal dari Tionghoa muslim Palembang , dan lainnya.

Edisi pertama dari buku ini tidak dicetak banyak , sekarang sudah menipis 
persediaannya .Untuk itu
rencana kedepan Pak Sie Hok Tjwan akan menerbitkan ulang edisi kedua, yang 
sedikitnya setebal lebih
dari 200 halaman.

Kirim email ke