Hanya Tuhan yang Bisa Menilai Keimanan Seseorang 
Ilham Khoiri | Robert Adhi Ksp 
 
JAKARTA, KOMPAS.com -Masyarakat menolak campur tangan negara dan institusi lain 
di luar agama dalam soal keyakinan karena itu merupakan urusan privat. Hanya 
Tuhan yang dianggap sebagai satu-satunya yang berwewenang meminta 
pertanggungjawaban dari keimanan seseorang. 

Demikian salah satu kesimpulan survei opini publik "Keberagaman Publik dan 
Sikapnya terhadap Ahmadiyah" oleh Setara Institute, yang disampaikan di 
Jakarta, Kamis (8/9). 

Hadir, Ketua Badan Pengurus Setara Institute Hendardi, Wakil Ketua Setara Bonar 
Tigor Naipospos, dan peneliti Ismail Hasani. Survei melibatkan 3.000 responden 
dengan teknik random/ acak. Penelitian tersebar di 47 kabupaten/ kota di 10 
provinsi, pada 10-15 Juli 2010. 

Hasil survei itu menunjukkan, masyarakat menempatkan keimanan seseorang dalam 
beragama sepenuhnya bersifat privat. Dengan begitu, tidak seorang atau kelompok 
mana pun yang dapat meminta pertanggungjawaban keimanan seseorang. Sikap ini 
didukung oleh mayoritas (72,6 persen) responden. Mereka menolak upaya 
sekelompok orang yang meminta pertanggungjawaban atas keimanan seseorang. 

Hanya sebagian kecil (12,8 persen) yang mendukung upaya itu. Mayoritas (89,8 
persen) responden juga berpandangan, bahwa hanya Tuhan sebagai satu-satunya 
pihak yang memiliki hak mutlak dan eksklusif untuk meminta pertanggungjawaban 
atas keimanan seseorang. 

Hanya sedikit (4,2 persen) responden yang membolehkan pihak selain Tuhan yang 
meminta pertanggungjawaban keimanan itu. Selain itu, sebagian besar (39 persen) 
responden beranggapan, semua agama menjamin keselamatan bagi pemeluknya. 

Sekitar 29 persen responden berpendirian, hanya agama yang dianut yang dapat 
memberikan jaminan keselamatan. 

Menurut Bonar Tigor Naipospos, hasil survei bagian ini menggambarkan, secara 
umum masyarakat masih mendukung kebebasan beragama dan antikekerasan dalam 
penyebaran agama. Masyarakat juga menolak campur tangan negara dan institusi di 
luar agama dalam soal keyakinan. 

"Jadi, sebenarnya masih ada toleransi antarumat beragama di tingkat masyarakat 
bawah di Indonesia. Ini merupakan modal sosial yang baik untuk terus 
dikembangkan ke depan," katanya.
Kunjungi :

BLOG & Feed Tionghoanet
http://tionghoanet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Tionghoanet

BLOG & Feed LowonganNet
http://lowonganNet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Lowongannet

BLOG & Feed Export Import Marketplaces
http://export-import-indonesia.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Export-import-indonesia

BLOG & Feed Bethany Indonesia
http://bethany-indonesia.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Bethany-indonesia

BLOG & Feed Bethani Indonesia
http://bethani-indonesia.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/bethani-indonesia



Kirim email ke