China Kembangkan Keterbukaan Layanan Masyarakat
Tri Agung Kristanto | Nasru Alam Aziz

KUNSHAN, KOMPAS.com Pemerintah China dan pengurus Partai Komunis China (PKC) 
terus mengembangkan keterbukaan dan efisiensi dalam layanan kepada masyarakat. 
Keterbukaan itu, selain untuk membuat kualitas layanan pada masyarakat, 
terutama yang terkait dengan perizinan dan lelang menjadi lebih cepat dan 
terjamin ketepatan waktunya, juga untuk mencegah terjadinya korupsi di instansi 
pemerintah.
Upaya pengembangan keterbukaan itu setidaknya dilakukan Pemerintah Kota Wu Xi, 
Pemerintah Kota Kunshan, dan Pemerintah Kota Nanjing di Provinsi Jiangsu, serta 
Pemerintah Kota Huangzhou di Provinsi Zhejiang, seperti yang diperlihatkan 
kepada 20 wartawan, yang berasal dari 19 negara di Asia, Afrika, Amerika, dan 
Eropa, yang mengunjungi wilayah itu sejak Selasa (6/9/2011).

Kunjungan itu berlangsung hingga Jumat (9/9/2011), dengan mengunjungi kota 
Ningbo di Provinsi Zhejiang, untuk memperlihatkan bahwa Pemerintah China dan 
PKC serius mengembangkan keterbukaan dalam melayani masyarakat dan mencegah 
korupsi.

Berbeda dengan pemerintah kota lain yang mengembangkan keterbukaan dengan 
membuat layanan satu atap, dengan waktu layanan yang pasti, Pemerintah Kota 
Kunshan dan pengurus PKC Kota Kunshan juga mengembangkan pengawasan layanan 
publik melalui sistem online dan video realtime.

Seperti diperlihatkan Direktur Monitoring Elektronik Pemerintah Kota Kunshan 
Chen Zhiqiang, Rabu (7/9/2011) di Kunshan, sebanyak 44 video monitoring 
dipasang di berbagai pusat layanan masyarakat. Dari video itu bisa diketahui 
kualitas layanan dari aparat pemerintah setempat, dan setiap minggu dilakukan 
evaluasi.

Secara online, serta bisa dimunculkan melalui monitor di Direktorat Monitoring 
Elektronik, proses perizinan atau komplain dari masyarakat bisa diketahui 
tindak lanjutnya, termasuk waktu penyelesaiannya.

Cao Ping, Komisioner pada Komisi Pengawasan Disiplin Pengurus PKC Kota Kunshan, 
menjelaskan, dengan menerapkan pengawasan melalui video dan online, bukan hanya 
layanan pada masyarakat kian lancar, cepat, dan efisien, melainkan juga 
pemerintahan yang bersih dapat terwujud.

Kunshan menjadi kota bisnis terbaik selama dua tahun berturut-turut versi 
majalah Forbes dan ranking pertama selama tiga tahun terakhir sebagai kota 
ternyaman untuk investasi versi Taiwan Electrical and Electronic Manufactures 
Association (TEEMA).



Transportasi Udara
China Butuh 5.000 Pesawat Penumpang Baru
Dahono Fitrianto | Nasru Alam Aziz | Rabu, 7 September 2011 | 20:31 WIB

1
boeing.mediaroom.com
Pesawat Boeing 737-800NG pertama pesanan China Airlines siap diserahkan ke 
maskapai tersebut, 1 Februari 2011. Boeing memprediksi China akan membutuhkan 
5.000 pesawat penumpang baru pada 2030.

BEIJING, KOMPAS.com — Pada tahun 2030, China akan membutuhkan paling tidak 
5.000 pesawat penumpang baru untuk melayani booming transportasi udara di 
negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Demikian diungkapkan Randy Tinseth, Wakil Presiden Pemasaran Pesawat Komersial 
Boeing, di Beijing, China, Rabu (7/9/2011).

Menurut Tinseth, pihak Boeing telah merevisi perkiraan pertumbuhan kebutuhan 
pesawat penumpang di China setelah melihat perkembangan sektor transportasi 
udara di China ternyata jauh lebih baik dari yang diperkirakan semula. Tahun 
lalu, Boeing memprediksi China "hanya" akan membutuhkan 4.330 pesawat baru pada 
2029.

"Pertumbuhan ekonomi yang terus bertahan kuat, aktivitas perdagangan yang 
meningkat, kenaikan kemakmuran dan pendapatan pribadi, dan liberalisasi pasar 
yang terus berlanjut akan menjadi faktor pendorong pembentukan pasar perjalanan 
udara di China," tutur Tinseth.

Boeing memprediksi, dalam kurun 20 tahun mendatang, armada pesawat udara 
maskapai penerbangan China akan bertambah dari jumlah saat ini, yakni 1.750 
pesawat, menjadi 5.930 pesawat. Dari total kebutuhan 5.000 pesawat baru, 16 
persen di antaranya dibutuhkan untuk menggantikan armada yang mulai menua, 
sementara 84 persen sisanya adalah kebutuhan penambahan pesawat.

Menurut data resmi Pemerintah China, tahun lalu tercatat ada 267 juta 
perjalanan udara yang dilakukan masyarakat China, atau naik 15,8 persen dari 
tahun sebelumnya.

Tinseth mengatakan, Boeing mematok target mempertahankan penguasan 51-52 persen 
pasar pesawat penumpang di China. "Kami makin Asia-sentris. Untuk pertama 
kalinya, tahun lalu, pasar perjalanan (udara) di Amerika Utara telah dilampaui 
(volume) perjalanan di (kawasan) Asia Pasifik. China akan menyumbangkan lebih 
dari 40 persen dari total permintaan (perjalanan udara) di Asia Pasifik dalam 
20 tahun mendatang," papar Tinseth.

Meski menjanjikan pasar yang menggiurkan, Tinseth menegaskan, Boeing tidak akan 
membuka pabrik di China. Saingan utama Boeing, yakni pabrikan Airbus dari 
Eropa, sudah mengoperasikan pabrik pesawat Airbus A320 di kota Tianjin di China 
utara.

Dalam waktu dekat, persaingan pesawat jet penumpang jarak menengah, yang selama 
ini didominasi A320 dan pesawat penumpang andalan Boeing, B-737, akan 
diramaikan pesawat jet buatan China, yakni C919, yang dikembangkan Korporasi 
Pesawat Komersial China (Comac).
Kunjungi :

BLOG & Feed Tionghoanet
http://tionghoanet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Tionghoanet

BLOG & Feed LowonganNet
http://lowonganNet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Lowongannet

BLOG & Feed Export Import Marketplaces
http://export-import-indonesia.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Export-import-indonesia

BLOG & Feed Bethany Indonesia
http://bethany-indonesia.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Bethany-indonesia

BLOG & Feed Bethani Indonesia
http://bethani-indonesia.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/bethani-indonesia




Kirim email ke