Nazar Mengaku Ada Skenario di Balik Pelariannya
Icha Rastika | Heru Margianto | Jumat, 9 September 2011 | 07:46 WIB 

 KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad 
Nazaruddin meninggalkan Komisi Pemberantasan korupsi (KPK), Jakarta, Minggu 
(14/8/2011) malam usai serah terima dari tim penjemput ke KPK. Tersangka kasus 
dugaan suap pembangunan wisa atlet Sea Games tersebut ditahan di rutan Brimob 
Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. 

JAKARTA, KOMPAS.com - Tersangka kasus dugaan suap wisma atlet, Muhammad 
Nazaruddin, mengaku, ada skenario di balik perjalanan buronnya ke sejumlah 
negara beberapa waktu lalu. Hal itu disampaikan Ketua Komite Etik KPK Abdullah 
Hehamahua, Kamis (8/9/2011) malam. 

Abdullah mengungkapkan hasil pemeriksaan Komite Etik terhadap Nazaruddin yang 
berlangsung kemarin. Namun, ketika ditanya siapa yang merekayasa pelariannya, 
Nazaruddin menurut Abdullah, enggan menjawab. 

"Direkayasa sama siapa? Dia bilang 'Ya Bapak tahu lah'. Dia (Nazaruddin) 
mengaku kembali dari umroh, dia bilang mau dipecat, 'kenapa saya dipecat? Uang 
ini uang itu tidak saya terima', segala macam," tutur Abdullah menirukan Nazar. 

Nazaruddin sempat buron selama hampir tiga bulan. Dia kemudian tertangkap di 
Cartagena, Kolombia, sebulan yang lalu dan dipulangkan ke Indonesia. 
Berdasarkan penuturan Nazaruddin kepada Komite Etik, lanjut Abdullah, mantan 
Bendahara Umum Partai Demokrat itu mulanya hanya berobat ke Singapura. Namun, 
saat akan kembali ke Indonesia, dia dilarang. 

"Bahwa dia berangkat ke Singapura itu karena mau berobat, rencana (akan) 
kembali. Tapi kemudian dia dilarang," ujar Abdullah. 

Nazaruddin, lanjutnya, diskenario agar tidak tidak kembali ke Indonesia. 
"Sampai akhirnya ke Kolombia. Kemudian dari Kolombia, KPK kerjasma dengan 
Kepolisian untuk proses pengembalian," ungkapnya. 

Abdullah juga mengatakan, Komite Etik tidak akan percaya seratus persen 
terhadap ucapan Nazaruddin. Komite akan mengecek pengakuan Nazaruddin itu 
kepada saksi lain. "Komite Etik belum sempat rapat, mungkin besok, merumuskan 
tingkat kebohongan Nazaruddin, di cross chek dengan saksi-saksi yang lain baik 
eksternal (KPK) maupun internal (KPK)," ujar Abdullah. 

Selain soal pelariannya, kepada Komite Etik, Nazaruddin juga menyampaikan soal 
pertemuannya dengan Wakil Ketua KPK Chandra M Hamzah dan mantan Deputi 
Penindakan KPK, Ade Rahardja. 

Nazaruddin mengaku lima kali bertemu Chandra dengan rincian dua kali di 
rumahnya, dua kali di luar rumah, dan sekali di gedung KPK. Pertemuan itu turut 
membahas kasus. 

Nazaruddin juga mengaku bahwa singkatan nama CDR yang tercatat sebagai penerima 
dana Grup Permai adalah Chandra M Hamzah. Nazar berencana memberikan uang 100 
ribu dollar AS kepada Chandra terkait proyek pengadaan baju hansip dan satpam. 
Namun uang tersebut tidak jadi diberikan. Saat ditanya Komite soal maksud 
rencana pemberian uang itu, Nazaruddin enggan menjawab. 

Kemarin, Komite Etik memeriksa Nazaruddin. Pemeriksaan tersebut atas dasar 
insiatif Nazar. Pengacara Nazar bekali-kali menghubungi Komite Etik dan 
menyampaikan bahwa kliennya siap buka mulut. Padahal sebelumnya mantan anggota 
DPR itu bersikeras bungkam. 

Menurut Abdullah, kepada Komite Etik Nazaruddin mengaku bahwa perubahan 
sikapnya itu akibat nasihat neneknya yang datang menjenguk saat Idul Fitri. 
"Nenek saya sudah umur 80 tahun lebih nasihati saya, urusan dunia diselesaikan 
di dunia," ucap Abdullah menirukan Nazaruddin. 



Nasihat Nenek 'Bikin' Nazaruddin ke KPK   
Jum'at, 09 September 2011 | 07:03 WIB
Besar Kecil Normal 
  
TEMPO/Eko Siswono Toyudho


TEMPO Interaktif, Jakarta - Apa yang membuat Muhammad Nazaruddin, tersangka 
kasus suap wisma atlet SEA Games, Palembang, mau ke Komisi Etik KPK dan bicara 
blak-blakan? Kata Ketua Komisi Etik Abdullah Hehamahua, perubahan sikap 
Nazaruddin itu karena ia teringat nasihat neneknya. "Dia (Nazaruddin) ingat 
sama nasihat neneknya yang berusia 80 lebih," kata Abdullah di Jakarta, Kamis, 
8 September 2011 malam.



Nasihat neneknya, sambung Abdullah, yaitu untuk menyelesaikan segala urusan 
duniawi karena itu akan dipertanggungjawabkan di akhirat. "Nenek saya 
(Nazaruddin) menasihati saya kalau urusan dunia harus diselesaikan di dunia," 
kata Abdullah menirukan Nazaruddin.



Nazaruddin, lanjut Abdullah, bahkan bersumpah menggunakan nama nenek, kakek, 
dan ibunya. "Dia bersumpah demi neneknya, kakeknya, dan ibunya. Beliau 
(Nazaruddin) itu anak yatim," kata Abdullah.



Meski begitu, Abdullah Hehamahua mengaku belum bisa yakin sepenuhnya dengan 
pengakuan Nazar. Dia bahkan meragukan apa yang dikatakan Nazaruddin adalah 
sebuah kebenaran. "Dia kan antara pembohong dan ragu, dia tak berani tegas," 
katanya.



Namun apa pun yang disampaikan Nazar, kata Abdullah, akan dikonfrontasikan 
dengan keterangan sejumlah saksi lain. "Nanti itu akan dikomperasi dengan 
saksi-saksi dan berapa kebenarannya juga kita kroscek dari saksi-saksi," 
ujarnya. "Kami juga masih menerima jika Nazaruddin mau curhat lagi pada KPK. 
Dia berjanji datang kalau diperlukan." 



Keraguan Komisi Etik atas kesaksian Nazaruddin karena eks Bendahara Umum Partai 
Demokrat itu tidak bisa menunjukkan CCTV yang selama ini diakui oleh Nazar 
bahwa ia memilikinya. Nazar juga dianggap tidak berani dengan tegas menjelaskan 
jika dia berniat memberikan uang kepada Wakil Ketua KPK Chandra M. Hamzah. 



Dalam pemeriksaannya, Nazaruddin mengaku bertemu salah satu pimpinan KPK, 
Chandra Hamzah, sebanyak lima kali. Pertemuan itu dua kali digelar di kediaman 
pribadi Nazar, dua kali di KPK, dan satu kali di luar.



Dia juga mengaku dirinya memiliki rekaman CCTV pertemuan dengan Chandra Hamzah 
di kediamannya. Namun rekaman CCTV itu ia simpan di tas yang disita KPK. Namun 
anehnya, saat tas tersebut dibuka KPK, tidak ditemukan rekaman CCTV pertemuan 
Nazar dan Chandra Hamzah.



RUSMAN P


http://www.suarapembaruan.com/home/nazaruddin-akan-buka-borok-kpk/11012#Scene_1

Nazaruddin Akan Buka Borok KPK
Kamis, 8 September 2011 | 16:00

 Tersangka kasus suap pembangunan Wisma Atlet, Palembang, Muhammad Nazaruddin 
(Foto: Okezone.com) 



[JAKARTA] Tersangka kasus suap Wisma Atlet, Muhammad Nazaruddin mengatakan akan 
bicara kepada Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) semuanya mengenai 
tudingan yang pernah disampaikannya terkait adanya dugaan pelanggaran etik oleh 
pimpinan KPK.

"Saya mau bicara apa adanya tentang pimpinan (KPK)," kata Nazaruddin ketika di 
gedung KPK, Jakarta, Kamis (8/9).

Nazaruddin yang datang ke KPK sekitar jam 14.45 WIB terlihat mengenakan kemeja 
lengan panjang warna putih yang dipadu dengan celana jeans warna biru gelap. 

Pemeriksaan Nazaruddin oleh Komite Etik KPK ini adalah pemeriksaan untuk kedua 
kalinya. Pada pemeriksaan pertama Nazaruddin memilih bungkam.

Hal senada diungkapkan kuasa hukum Nazaruddin, Otto Cornelis Kaligis. Menurut 
Kaligis, Nazaruddin menjanjikan akan memberikan testimoni terkait Ketua KPK, 
Busyro Muqoddas dan Wakil Ketua KPK Bidang Penindakan, Chandra M.Hamzah.

"Dia (Nazaruddin) bilang kan (kata) Presiden kan harus terang benderang. Jadi, 
dia mau buka mengenai Busyro dan Chandra," kata Kaligis di kantor KPK, Jakarta, 
Kamis (8/9). 

Hanya saja, Kaligis enggan mengungkap hal apa saja yang akan diungkapkan oleh 
tersangka kasus suap proyek wisma atlet terkait dua pimpinan KPK tersebut.

Menurut Kaligis, testimoni yang akan disampaikan Nazaruddin tersebut akan 
didukung oleh bukti-bukti. Sehingga, tidak hanya sekadar omongan saja. "Ini 
saya lagi bawa bukti. Poinnya apa, you nggak boleh tahu," ujar Kaligis.

Lebih lanjut, Kaligis mengaku tidak tahu mengapa kliennya tersebut akhirnya 
bersedia buka suara terkait dugaan pelanggaran etik yang dilakukan oleh 
pimpinan KPK.

Tetapi, Kaligis membantah jika dikatakan keputusan kliennya untuk bicara 
dilatarbelakangi kesepakatan (deal) politik tertentu. "Saya tidak pernah 
ngatur-ngatur soal deal. Itu kan acara (pemeriksaan) saja, dia ditanya dia 
menjawab. Pertama kan Chandra mengaku tidak ketemu, dia akhirnya mengaku. 
Busyro juga nggak mengaku ketemu nanti kita liat apa yang dia (Nazaruddin) 
bilang," tegas Kaligis.

Sebelumnya, Kabag Pemberitaan dan Informasi KPK, Priharsa Nugraha membenarkan 
bahwa pada Kamis (8/9) ini, Komite Etik akan memeriksa mantan Bendahara Umum 
(Bendum) Partai Demokrat tersebut. "Iya, benar," kata Priharsa ketika 
dikonfirmasi apakah benar Nazaruddin dijadwalkan diperiksa pada Kamis (8/9) 
ini. [N-8]






[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke