RefL. Negara Ironni berumur 66 tahun merdeka. Alangkah hebat!

http://www.antaranews.com/berita/275925/bayi-siti-rahmah-ironi-bagi-negeri

Bayi Siti Rahmah, ironi bagi negeri
Sabtu, 17 September 2011 11:21 WIB | 

FB Anggoro

 
Sejumlah paramedis dan dokter membawa Siti Rahmah, bayi dengan jantung di luar 
tubuh, menggunakan kotak inkubator di RS Ibnu Sina, Pekanbaru, Riau, Sabtu 
(17/9). Bayi berusia lima hari itu batal diberangkatkan ke RS Harapan Kita 
Jakarta karena tak mendapat penerbangan yang memadai dengan pesawat komersil, 
sedangkan pemerintah daerah tak sanggup membiayai carter pesawat menggunakan 
biaya Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) untuk keluarga miskin. (FOTO 
ANTARA/FB Anggoro/ss/ama/11)


Tangis bayi Siti Rahmah terdengar keras dari dalam kotak inkubator yang terbuat 
dari plastik bening di RS Ibnu Sina, Pekanbaru, Riau, Jumat (16/9) lalu. 

Nasib malang membawa bayi itu terpisah dari keluarganya, jauh dari peluk hangat 
ayahnya dan belum setetes pun merasakan susu dari bundanya.

Putri pertama dari pasangan Khairuddin dan Diana itu lahir dengan kelainan 
jantung. Organ vital milik bayi Siti Rahmah menjuntai keluar dari rongga 
dadanya. Sebuah pemandangan yang memilukan dan menyayat hati setiap orang yang 
melihatnya.

Kini selang oksigen dan infus seakan "tumbuh menjalar" di tubuh mungil itu, 
karena hidup si bayi malang sangat bergantung dengan alat bantuan medis. 
Sedangkan, jantung mungilnya yang sebesar jambu air terlihat berdegup cukup 
cepat meski ditutupi dengan kain kasa.

Siti Rahmah lahir lewat persalinan normal meski tanpa fasilitas kesehatan yang 
layak di rumah orang tuanya di Desa Muara Basung, Kecamatan Pinggir, Kabupaten 
Bengkalis, Riau, pada 12 September lalu. Keluarganya sangat miskin hingga hanya 
mampu menggunakan jasa dukun kampung.

Khairuddin, ayah si bayi malang, hanya seorang buruh yang bekerja serabutan 
untuk menopang hidup keluarganya. Ia juga tak punya cukup uang untuk 
memeriksakan kondisi bayi Siti Rahmah saat masih dalam kandungan. 

"Saya baru tahu kondisi anak saya ketika ia dilahirkan," ujar Khairuddin.

Pria kurus itu kini hanya bisa berharap mukjizat dari Tuhan dapat menolong 
putrinya. Ia mengaku tak tega melihat kondisi Siti Rahmah, meski ia sendiri tak 
mau berpisah jauh dari bayinya. 

Persalinan
Khairuddin kini tinggal untuk sementara di sebuah lorong di sudut ruangan RS 
Ibnu Sina selama anaknya menjalani perawatan. Di lorong yang gelap itu juga 
Khairuddin selalu terkenang peristiwa kelahiran putrinya yang malang.

"Waktu melahirkan, dukun kampung menyembunyikan bayi saya dengan 
menelungkupkannya supaya bagian depan badan bayi tak keliatan ibunya," ujarnya 
Khairuddin.

"Sebagai ayah dari bayi itu tentu saya sangat sedih, apalagi itu adalah anak 
pertama saya," lanjut Khairuddin sambil berlinang air mata.

Di tengah rasa kalut, ia segera membawa bayinya ke RSUD Duri di Kabupaten 
Bengkalis namun pihak rumah sakit mengaku tak sanggup untuk merawat bayi Siti 
Rahmah. Akhirnya, bayi itu sempat menginap di RS swasta Permata Hati, Duri, 
sebelum pada esok harinya Khairuddin membawanya ke RSUD Arifin Achmad di Kota 
Pekanbaru dengan harapan segera mendapat perawatan yang memadai.

Namun, nasib baik belum kunjung menghampiri keluarga bayi Siti Rahmah. 
Khairuddin mengatakan pihak RSUD Arifin Achmad tak bisa menampung bayinya 
dengan alasan ruangan perawatan khusus untuk bayi (NICU) sudah penuh.

Sempat tersirat di benak Khairuddin, mungkinkah penolakan itu dikarenakan 
dirinya adalah seorang miskin. Padahal, ia sangat berharap pihak RSUD bisa 
membantu anaknya mendapat bantuan biaya kesehatan gratis untuk keluarga miskin 
melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). 

"Sampai satu jam saya di RSUD tapi tak juga mendapatkan layanan, akhirnya saya 
bawa ke rumah sakit Ibnu Sina demi keselamatan anak saya," keluhnya.

Lagi-lagi kabar buruk datang lagi ke Khairuddin ketika pihak RS Ibnu Sina 
menyatakan tak sanggup mengobati bayi Siti Rahmah. Dokter rumah sakit itu 
merekomendasikan bayi Siti Rahmah dibawa ke Jakarta atau Padang, dimana tenaga 
ahli dan peralatan medis lebih memadai.

"Saya masih berharap anak saya bisa normal, tapi duit dari mana saya bisa 
membawa anak saya berobat ke Jakarta atau Padang," kata Khairuddin dengan 
perlahan.


"Gelombang" Dukungan
Sepercik harapan akhirnya mulai menghampiri bayi Siti Rahmah. Gelombang 
dukungan hingga bantuan dana perlahan mulai berdatangan dari warga yang 
bersimpati terhadap nasib bayi Siti Rahmah.

Salah satunya adalah penggalangan dana melalui jejaring sosial Twitter yang 
meraih tanggapan cukup baik dari masyarakat.

"Dalam dua hari total donasi yang terkumpul sekitar Rp5 juta," kata Doddy 
Vladimir, penggagas donasi yang kebetulan adalah seorang jurnalis yang mengaku 
terdorong melakukan aksi sosial setelah meliput Siti Rahmah.

Dukungan dana lainnya juga datang dari sejumlah donatur dan manajemen RS Ibnu 
Sina yang berjanji membantu biaya pengobatan bayi Siti Rahmah selama di 
Pekanbaru. 

Bahkan, dukungan juga datang dari Menteri Kesehatan Endang Rahayu Setyaningsih 
yang langsung menginstruksikan agar tim dokter spesialis dari Jakarta segera 
dikirim khusus untuk bayi Siti Rahmah. Alhasil, tiga dokter spesialis bedah 
jantung dan spesialis anak dari RS Harapan Kita, Jakarta, langsung datang ke 
Pekanbaru untuk mengecek kondisi dan mengupayakan tindakan penyelamatan bagi 
bayi Siti Rahmah.


Ikhtiar
Dr Totok Wisnu, dokter Spesialis Anak juga konsultan neonatologi di RS Harapan 
Kita mengatakan kasus yang menimpa bayi Siti Rahmah tergolong langka. Bayi 
tersebut didiagnosa mengalami "ectopic cordis" artinya jantung tidak berada di 
dalam rongga dada. Penyebabnya belum dipastikan, namun bisa diketahui bahwa 
pembentukan rongga dada tidak berlangsung sempurna saat bayi ada dikandungan. 
Dampak lain dari hal tersebut mengakibatkan paru-paru tak tumbuh dan penciutan 
pembuluh darah paru-paru (hipertansi polmonal).

Menurut dia, sekitar 90 persen dari organ jantung bayi itu menggantung ke 
bagian bawah di luar badan, hanya pembuluh darah besar yang berada di dalam 
rongga dadanya. Kondisi struktur jantung juga mengalami kebocoran pada biliknya.

"Peluang kasus seperti ini terjadi hanya lima dari 1 juta kelahiran di dunia," 
ujarnya.

Menurut dia, RS Harapan Kita baru pernah menangani tiga kasus serupa namun 
semuanya tak sanggup hidup akibat infeksi pascaoperasi. Kasus bayi "ectopic 
cordis" sebelumnya pernah terjadi di Surabaya pada April 2011, tapi akhirnya 
juga meninggal dunia pada hari kelima setelah lahir.

"Tak banyak bayi yang hidup dari kasus ini karena tantangan dari tekanan darah 
yang meninggi sehingga pembuluh darah menciut dan juga infeksi setelah 
operasi," ujarnya.

Menurut dia, penanganan yang dilakukan untuk bayi Siti Rahmah sebaiknya 
dilakukan di Jakarta. Meski begitu, ia mengatakan tim dokter terkendala 
minimnya fasilitas medis dan alat transportasi untuk membawanya dari Pekanbaru 
ke Jakarta.

"Kalau secara prosedur medis standar, bayi ini memerlukan penerbangan 
menggunakan pesawat carteran karena kalau penerbangan komersil saya tak yakin 
bisa menjaminnya," ujar Dr Totok.

Menurut dia, penyempitan pembuluh darah mengakibatkan aliran pertukaran oksigen 
dari paru-paru ke jantung sangat minim. Karena itu, bayi Siti Rahmah 
membutuhkan peralatan penunjang keselamatan yang canggih seperti kotak 
inkubator lengkap dengan tabung oksigen, infus, alat pemantau pacu jantung, 
serta alat penstabil suhu badan.

Masalahnya, lanjut Totok, hingga kini belum ada rumah sakit di Indonesia 
memiliki perangkat kesehatan seperti itu. 

"Kalau naik pesawat komersil, tabung oksigen tak bisa di kabin pesawat karena 
bisa meledak," ujarnya. 

Ia mengatakan kondisi bayi kurang aman untuk penerbangan karena telah terdapat 
tanda-tanda infeksi dan kadar oksigen di darah bayi sangat rendah. Saat 
menerima sentuhan, lanjutnya, kadar oksigen bayi turun drastis dari 85-88 
persen menjadi tinggal 70 persen.

"Bayangkan, saat dalam penerbangan dua jam menuju Jakarta si bayi bagaikan 
seperti tercekik karena kekurangan oksigen di darah dan dia bisa mati saat di 
perjalanan," katanya.

Karena itu, ia mengatakan tim dokter merekomendasikan agar bayi Siti Rahmah 
menggunakan pesawat carter ke Jakarta. Ia memperkirakan, biaya untuk antar 
jemput menggunakan pesawat carteran untuk bayi Siti Rahmah bisa mencapai Rp250 
juta sampai Rp600 juta.

"Tapi kalau memang tidak bisa, maka yang bisa kita lakukan adalah `ikhtiar` dan 
mencoba semua hal sebisa mungkin saat kondisi darurat," katanya.

Pejabat Sementara Dirut RS Ibnu Sina, Dr Amiral Amra, mengatakan pihaknya 
mendapat konfirmasi bahwa biaya pemindahan bayi Siti Rahmah akan ditanggung 
melalui dana Jamkesmas yang diurus oleh Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Namun, 
ia tak meyakini bahwa Jamkesmas bisa menanggung biaya carter pesawat yang 
sangat mahal.

"Dana pemberangkatan tak jelas, Jamkesmas belum jelas karena mana bisa untuk 
biaya semahal itu," ujarnya.

Anggota Komisi IV (bidang Kesra) DPRD Bengkalis Dr Fidel Fuadi Dt Majowasa 
mengkritisi sikap Pemerintah Kabupaten Bengkalis yang lamban membantu bayi Siti 
Rahmah. 

"Pemerintah daerah seharusnya jangan menunggu laporan, tapi mendengar dan 
jangan sampai warga tak mampu sampai terlantar," katanya.

Menurut Fuadi, seharusnya Pemkab Bengkalis segera bersikap proaktif memberikan 
upaya maksimal untuk memberikan bantuan untuk menyelamatkan bayi Siti. Apalagi, 
lanjutnya, daerah yang kaya akan minyak bumi itu menganggarkan dana lebih dari 
Rp200 miliar untuk pos kesehatan di APBD tahun ini.

Bahkan, ia mengatakan anggaran Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) di APBD 
Bengkalis pada tahun ini mencapai Rp3 miliar per bulan, artinya total dana 
mencapai Rp36 miliar.

"Sejauh ini dana Jamkesda yang sudah dicarikan sekitar Rp15 miliar, dan 
seharusnya bayi Siti bisa mendapatkan bantuan dari itu," ujar politisi PKS itu. 

Bayi Siti Rahmah kini butuh mukjizat untuk kesembuhannya. Terlebih dari itu, 
bayi malang itu sangat membutuhkan uluran tangan dari pemerintah agar harapan 
keluarganya tak menghilang di lorong gelap rumah sakit. Dan agar cap buruk 
"Orang Miskin Dilarang Sakit" tak terbukti.


Berita Terkait
  a.. Bayi Siti Rahmah akan diterbangkan ke Jakarta 
  b.. Melestarikan kain tradisional dari kulit kayu
  c.. Hilangnya rasa aman perempuan di transportasi umum 
  d.. Tipe kepribadian tentukan kesuksesan berkomunikasi 
  e.. Terjepit tarif dan layanan 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke