http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=34338
RABU, 20 September 2011 | Satukan Hati Bangun Perdamaian 11 September lalu Kota Ambon kembali bergolak. Kejadian yang tentunya memilukan, sekaligus memalukan bagi kehidupan Orang Basudara di daerah ini. Pengalaman mahal keluar dari konflik sosial sejak tahun 1999 s/d 2002, ternyata warga Kota Ambon masih mudah tersulut provokasi. Padahal sejak deklarasi Malino II, 12 Februari 2002 di Malino, Sulawesi Selatan, kita semua berhasil keluar dari dendam, lalu merajut hidup damai dengan sesama. Konflik yang kembali melanda Ambon membuat harga perdamaian semakin mahal. Padahal selama ini, sebelum konflik melanda Ambon 19 Januari 1999, daerah ini merupakan contoh terbaik toleransi antara umat beragama di Indonesia. Hidup sebagai orang basudara senantiasa memberikan kesejukan, penghormatan atas sesama, dan juga saling membahu membangun Kota Ambon. Budaya pela dan gandong, sebagai warisan para leluhur masyarakat di negeri Seribu Pulau ini merekatkan masyarakat dalam suasana damai. Karena itu, kultur yang terbangun dalam masyarakat memiliki nilai dan sendi pada kemajuan, kebersamaan dalam bingkai orang basudara. Persaudaraan itu harus menjadi bagian awal dalam membangun Ambon Manise. Karena persaudaraan tidak menyekat perbedaan agama, suku dan antar golongan. Di tengah kemajuan teknologi informasi dan kemajuan zaman, eksistensi budaya dan kearifan lokal masyarakat di Ambon, dan Maluku pada umumnya, harus kita jaga secara transformatif. Budaya masyarakat yang bertumpuh pada rasa saling menghargai, bahu membahu (masohi) dan ale rasa beta rasa itu, kini terganggu dengan semangat individual dan liberalisme. Padahal sebagai masyarakat berbudaya, warga Kota Ambon senantiasa menjunjung tinggi persaudaraan dan perdamaian. Jika dilihat dari konflik yang terjadi, baik pada 19 Januari 1999 maupun 11 September 2011, ada beberapa hal yang mestinya kita perhatikan. Pertama, konflik yang terjadi, sebenarnya tidak mewakili karakter hidup rukun yang ada dalam semangat orang basudara. Namun karena kehidupan modern yang semakin kompetitif dan terbuka, sehingga perubahan seperti itu pasti menimbulkan ekses. Nah ekses ini yang mestinya kita antisipasi, sehingga hasilnya tidak destruktif dan merusak, namun konstruktif dan positif. Kedua, situasi sosial – politik yang lebih terbuka berpengaruh pada daya tahan masyarakat menerima gejala perubahan dan dinamika. Kepentingan segelintir orang yang ingin atau mencapai kekuasaan dengan cara yang tidak sehat, mempengaruhi perubahan perilaku dan budaya politik masyarakat dalam berkompetisi. Pada masyarakat bertipe komunal, dengan nilai-nilai hidup bersama yang kental, perubahan situasi sosial-politik seperti ini ikut memberikan gesekan dan konflik kepentingan. Serta ketiga, gaya hidup instan, yang ingin cepat menikmati hasil tanpa usaha yang keras, membuat karakter hidup sosial masyarakat mulai tidak teratur dan mudah terpengaruhi hasutan. Berkembangnya isu dan SMS provokasi ternyata cukup menyulut amarah dan melemahkan daya tahan masyarakat dalam konflik. Tiga alasan tersebut, dengan seksama harus kita pelajari agar tidak mudah masyarakat tersulut amarah dan provokasi. Sebab tidak semua orang ingin kedamaian tercipta ditengah-tengah masyarakat Kota Ambon yang cinta damai. Entah karena motivasi politik maupun karena motivasi sosial-ekonomi. Oleh karena itu, dalam mengantisipasi bahaya merambatnya konflik, yang lebih besar, ada baiknya seluruh komponen masyarakat, baik pemerintah, aparat keamanan, maupun tokoh masyarakat dan agama, mengambil peran efektif dalam penciptaan perdamaian. Karena upaya membangun perdamaian adalah tugas semua kalangan, tidak hanya berada di pundak aparat TNI dan Polri. Karena itu, saya mengusulkan beberapa saran dan usul. Pertama, pendekatan perdamaiaan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni pada RT/RW dan desa/kelurahan. Pada daerah yang padat penduduk Ketua RT/RW memegang peran cukup penting, karena jumlah masyarakatnya banyak. Sedangkan pada daerah yang jarang penduduk, tugas utama tokoh pemuda, agama dan masyarakat di desa dan kelurahan harus bahu membahu bersinerji dan bekerjasama. Kedua, dengan terbatas dan minimnya aparat keamanan (TNI dan Polri), setiap isu dan keadaan yang membahayakan, harus dilaporkan secara berkala kepada petugas polisi atau TNI, yang terdekat dari lokasi. Dengan cara seperti ini, pencegahan terhadap setiap ancaman dan konflik dapat di redam. Tugas untuk mendeteksi dan mengetahui gejala kamtibmas, sebenarnya ada pada semua masyarakat, yang dengan sigap membantu situasi kamtibmas yang dijalankan oleh aparat keamanan. Serta ketiga, dalam masa konflik, pemerintah daerah harus mengedepankan komunikasi intensif dan lintas batas hingga di level bawah. Fungsi pemerintah yang begitu besar dan luas dalam menjaga perdamaian dan pembangunan, harus didukung oleh kemampuan komunikasi sosial yang familiar dan luwes. Dalam hal ini Walikota Richard Louhenapessy dan Bung Sam Latuconsina, telah menunjukan itikad itu dengan baik. Sejak awal konflik kedua pemimpin ini telah merespon dengan cepat situasi dengan mengunjungi masyarakat korban konflik. Selain tiga kekuatan utama itu, yakni dari basis komunitas, institusi TNI dan Polri, serta pemerintah daerah, lembaga-lembaga keagamaan memiliki peran sangat penting dalam menyerukan perdamaian lewat mesjid dan gereja. Otoritas pendeta dan ulama sangat penting memberikan pengaruh bagi mengembalikan roh perdamaian di tengah-tengah masyarakat Kota Ambon. Kita mahfum bahwa konflik yang terjadi, karena pemahaman agama yang salah dan keliru, justru mendorong orang melakukan kekerasan atas nama agama dan Tuhan. Kesadaran untuk menghentikan konflik adalah ajaran semua agama. Tugas agama yang profan dan luhur bagi kemanusiaan, harus senantiasa memotivasi tenaga kita semua untuk keluar dari konflik. Konflik tidak membawa hasil apapun yang baik bagi kemanusiaan. Karena itu, detik ini dan seterusnya, mari warga Kota Ambon yang tercinta, kita sudahi konflik. Konflik adalah musuh bagi semua orang yang percaya dan takut akan Tuhan. Lewat altar dan mimbar mesjid dan gereja, mari kita lawan setiap upaya yang ingin memprovokasi kerusahan kembali di tanah Ambon Manise. Pengalaman konflik yang memilukan telah kita lewati di masa lalu. Ketika pada saat itu kita kehilangan harta dan benda dan orang-orang yang kita cintai. Dari niat suci membangun perdamaian seperti ini, marilah segenap warga kita bangkit menggapai mimpi yang terbaik, yakni merajut dan membangun rasa saling percaya, membangun budaya pela gandong yang retak, serta mengisi pembangunan dengan prestasi dan karya. Sampe jua, Damailah Ambon-ku. [Non-text portions of this message have been removed]
