"Small Minds discuss people, Average Minds discuss events, Great Minds
discuss ideas".
“Pikiran Kecil membicarakan orang (Gosip) . Pikiran Sedang membicarakan
peristiwa ( Pengetahuan) . Pikiran Besar membicarakan gagasan”(Solusion)....
( seperti halnya SOLUTION yg dilakukan si Wanita Etnis Asia yg cantik dan
muda itu... terhadap masalah yg Bung Asahan hadapi sendiri :
Selamat siang : "Ik betaal voor u!:" ........ dan Orang baik pasti
selalu ada dimana2 ........
mrc
-
------Original Message-------
From: ASAHAN
Date: 20.9.2011 4:24:35
To: [email protected]
Subject: [inti-net] Fw: ORANG BAIK ITU SELALU TERDAPAT DI MANA-MANA
ASAHAN:
Orang baik itu selalu terdapat di mana-mana
Sehabis belanja dapur di supermarkt saya biasa minum kopi di kafetaria yang
berada di tingkat bawah. Di sini saya biasa duduk cukup lama sambil
menikmati secangkir kopi di tengah lalu lalang orang-orang bebelanja dan
juga kadang-kadang di meja tersedia koran gratis untuk dibaca (di Belanda
harga koran cukup mahal). Di samping secangkir kopi, saya masih memesan roti
yang di warung ini selalu menjual roti segar karena mereka mempunyai dapur
sendiri. Dengan harga beberapa puluh sen lebih mahal, tapi rasanya lebih
enak daripada roti yang dijual di supermarkt. Jumlah total yang harus saya
bayar adalah 3.75 euro cent dan saya bayar dengan credit card (tepatnya
giromaat pas) dan cara demikian biasa saja dilakukan orang di Belanda untuk
membayar harga yang tidak besar. Di banyak supermarkt banyak ditempel
pengumuman yang berbunyi : "Klein bedrag, pinnen mag" yang artinya kira-kira
begini: "harga kecil, boleh pakek kartu". Bahkan beli barang seharga 1 euro
pun boleh bayar pakek kartu. Tapi rupanya sekali ini kartu saya tidak jalan.
Di Kassa elektronik terbaca: "pembayaran batal". Penjual mengusulkan agar
saya mencobanya sekali lagi: gagal. Sekali lagi: gagal lagi. Coba lagi
hingga gagal total. Saya tidak punya uang kontan padahal kopi sudah tersedia
dan juga roti sudah dimasukkan ke dalam tas plastik. Si penjual hanya
bilang: "Sayang, mungkin lain kali" dan sayapun merelakan kopi dan roti yang
tak terbayar itu terletak di meja penjual. Tapi ketika saya membalik menuju
kereta belanjaan saya, seseorang yang juga antri di belakang saya bilang
pada saya: "Ik betaal voor u!:"( saya bayar untuk Tuan). Ternyata dia
seorang wanita muda dari etnis Asia dan saya lihat dia cukup cantik dan
berwajah serius.Tentu saja saya tolak dengan sopan. Tapi belum sempat saya
pergi dengan kereta belanja saya, perempuan muda itu dengan cepat memasukkan
roti ke kereta belanjaan saya sesudah membayar dengan uang kontan pada si
pejual dan dia cepat menghilang di antara orang lalu lalang yang bahkan
ucapan terima kasih saya sudah tak sempat didengarnya. Secangkir kopi yang
dibayar oleh seorang perempuan muda yang tak saya kenal itu saya nikmati
dengan puas dan bahagia. Traktir spontan seharga 3.75 euro bukanlah jumlah
berarti tapi nilai kebaikan dari seorang yang begitu cepat memutuskan
kesediannya untuk menolong, nilainya beratus kali lebih tinggi dari hanya
jumlah uang yang belum sampai 5 euro.
Karena saya merasa bahagia, cerita kecil itu saya ceritakan kembali pada
istri saya sesampainya di rumah. Istri saya lalu bertanya: "Perempuan atau
lelaki?". Saya tidak segra menjawab, tapi saya bermaksud jujur: "Perempuan
kata saya. Tapi istri saya kembali bertanaya: "Muda atau tua?". Maksud saya
untuk tetap jujur menjadi goncang dan saya jawab: "Sudah tua".
Sekarang saya sampai pada kesimpulan: sifat munafik itu selalu ada dan
bersembunyi pada setiap orang. Dan juga pada saya yang sangat merasa mual
terhadap kemunafikan. Gadis muda pentraktir saya itu tidak sedikitpun punya
pikiran yang aneh-aneh terhadap saya. Saya seorang yang sudah berusia
kakek-kakek, sudah seratus persen peot, berambut uban jarang-jarang,
setengah linglung tapi tidak berani jujur di depan istri karena merasa masih
ditaksir oleh seorang perempuan muda di tengah khalayak. Ah, jij! asahan.
Verdomme klootzak!
ASAHAN.
Hoofddorp, 17 September 2011.
[Non-text portions of this message have been removed]