ASAHAN: Orang baik itu selalu terdapat di mana-mana Sehabis belanja dapur di supermarkt saya biasa minum kopi di kafetaria yang berada di tingkat bawah. Di sini saya biasa duduk cukup lama sambil menikmati secangkir kopi di tengah lalu lalang orang-orang bebelanja dan juga kadang-kadang di meja tersedia koran gratis untuk dibaca (di Belanda harga koran cukup mahal). Di samping secangkir kopi, saya masih memesan roti yang di warung ini selalu menjual roti segar karena mereka mempunyai dapur sendiri. Dengan harga beberapa puluh sen lebih mahal, tapi rasanya lebih enak daripada roti yang dijual di supermarkt. Jumlah total yang harus saya bayar adalah 3.75 euro cent dan saya bayar dengan credit card (tepatnya giromaat pas) dan cara demikian biasa saja dilakukan orang di Belanda untuk membayar harga yang tidak besar. Di banyak supermarkt banyak ditempel pengumuman yang berbunyi : "Klein bedrag, pinnen mag" yang artinya kira-kira begini: "harga kecil, boleh pakek kartu". Bahkan beli barang seharga 1 euro pun boleh bayar pakek kartu. Tapi rupanya sekali ini kartu saya tidak jalan. Di Kassa elektronik terbaca: "pembayaran batal". Penjual mengusulkan agar saya mencobanya sekali lagi: gagal. Sekali lagi: gagal lagi. Coba lagi hingga gagal total. Saya tidak punya uang kontan padahal kopi sudah tersedia dan juga roti sudah dimasukkan ke dalam tas plastik. Si penjual hanya bilang: "Sayang, mungkin lain kali" dan sayapun merelakan kopi dan roti yang tak terbayar itu terletak di meja penjual. Tapi ketika saya membalik menuju kereta belanjaan saya, seseorang yang juga antri di belakang saya bilang pada saya: "Ik betaal voor u!:"( saya bayar untuk Tuan). Ternyata dia seorang wanita muda dari etnis Asia dan saya lihat dia cukup cantik dan berwajah serius.Tentu saja saya tolak dengan sopan. Tapi belum sempat saya pergi dengan kereta belanja saya, perempuan muda itu dengan cepat memasukkan roti ke kereta belanjaan saya sesudah membayar dengan uang kontan pada si pejual dan dia cepat menghilang di antara orang lalu lalang yang bahkan ucapan terima kasih saya sudah tak sempat didengarnya. Secangkir kopi yang dibayar oleh seorang perempuan muda yang tak saya kenal itu saya nikmati dengan puas dan bahagia. Traktir spontan seharga 3.75 euro bukanlah jumlah berarti tapi nilai kebaikan dari seorang yang begitu cepat memutuskan kesediannya untuk menolong, nilainya beratus kali lebih tinggi dari hanya jumlah uang yang belum sampai 5 euro. Karena saya merasa bahagia, cerita kecil itu saya ceritakan kembali pada istri saya sesampainya di rumah. Istri saya lalu bertanya: "Perempuan atau lelaki?". Saya tidak segra menjawab, tapi saya bermaksud jujur: "Perempuan"kata saya. Tapi istri saya kembali bertanaya: "Muda atau tua?". Maksud saya untuk tetap jujur menjadi goncang dan saya jawab: "Sudah tua". Sekarang saya sampai pada kesimpulan: sifat munafik itu selalu ada dan bersembunyi pada setiap orang. Dan juga pada saya yang sangat merasa mual terhadap kemunafikan. Gadis muda pentraktir saya itu tidak sedikitpun punya pikiran yang aneh-aneh terhadap saya. Saya seorang yang sudah berusia kakek-kakek, sudah seratus persen peot, berambut uban jarang-jarang, setengah linglung tapi tidak berani jujur di depan istri karena merasa masih ditaksir oleh seorang perempuan muda di tengah khalayak. Ah, jij! asahan. Verdomme klootzak!
ASAHAN. Hoofddorp, 17 September 2011.
