http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=34417

SABTU, 23 September 2011 | 



Generasi Miskin Keteladanan


Kutipan Puisi diatas paling tidak mengekspresikan kegalauan hati sang pengarang 
HS. Djurtatap dan sebahagian dari masyarakat kita terkait keadaan Bangsa saat 
ini. Kemiskinan yang terus bertambah, kesenjangan pendapatan yang terus 
melebar,.

kerusakan lingkungan yang luar biasa hebatnya, gunung-gunung digunduli dan 
dirampas, korupsi yang menggurita semuanya merukan contoh kondisi Bangsa saat 
ini yang sedang ditanami ranjau. 

Rakyat menjadi frustrasi pada saat tuntutan-tuntutan politik mereka yang tidak 
pernah tersampaikan, dan kemudian memilih jalannya sendiri, Kubangun sendiri 
laut dihatiku dan Kulayari sampai jauh. Boleh jadi kekerasan yang muncul 
belakangan ini di hampir seantero Nusantara merupakan ekspresi tidak hanya 
terhadap kualitas hidup rakyat yang rendah, tetapi mungkin juga karena 
tersumbatnya semua saluran aspirasi mereka.

Ranjau-ranjau ini setiap saat bisa saja meledak, sehingga diperlukan 
langkah-langkah tepat dan cepat. Saat ini makin banyak tindakan “abuse of 
power” seperti korupsi yang merajalela sehingga memiskinkan rakyat, tindakan 
mementingkan kelompok diatas kepentingan bersama, pornografi dan kebohongan 
tampak nyata sampai rasanya biasa-biasa saja. 

Kita sudah tak malu untuk mempertontonkan gaya hidup yang tak wajar ditengah 
rakyat yang miskin. Anak-anak kita tidak hanya menjadi korban dari gaya hidup 
konsumerisme yang berlebih bahkan kita orang tua menfasilitasi mereka untuk itu 
(apalagi kalau dari uang haram). Mereka dan kita menjadi target utama dari cara 
hidup konsumtif yang ditawarkan oleh adab global. 

Tidak heran jika kemudian alam dirusak, sumber daya dieksploitasi secara 
berlebihan, hutan-hutan digunduli, semuanya demi kepentingan kita sehingga 
bencana banjir pun datang pada musim penghujan, dan kita kekeringan disaat 
musim panas. Burung-burung yang berkicau pun kita usir dari kehidupan. Adab 
global yang ditawarkan begitu dahsyat sehingga kita merasa tak mampu menjadi 
penyeimbang pengaruhnya.

Anak-anak kita di luar jam sekolah dan waktu tidur dapat menggapai dan 
menginternalisasi nilai dan norma dari koran, televisi, internet, game station, 
dan pergaulan. Itulah media, yang tidak hanya bersifat mendidik namun bila kita 
cermati meinginformasikan bahkan mengajarkan kekerasan ke dalam pikiran dan 
batin kita terutama anak-anak kita.

Anak -anak kita juga miskin keteladanan orang dewasa. Kita mencontohkan hal 
yang salah, menawarkan hal yang tidak benar kepada generasi penerus. Lembaga 
Pendidikan (sekolah, perguruan tinggi) yang diharapkan ternyata juga tak mampu 
sebagai institusi penyeimbang pengaruh eksternal tersebut. Suruji, menyebutkan 
bahwa karakter masyarakat adalah gambaran lembaga pendidikan pada umumnya. 
Karena itu apa yang terjadi di lembaga pendidikan, begitulah yang terjadi 
dimasyarakat. Lembaga pendidikan merupakan tempat belajar dan mengajar, tempat 
menerima dan memberi pelajaran. 

Lembaga pendidikan merupakan tempat aktivitas fisik dan psikis, berupa membaca, 
mendengar, mengamati dan melihat segala macam objek belajar sehingga membawa 
pengaruh kepada peserta didik dalam bersikap, bertingkah laku dan berbuat dalam 
kehidupan sehari-harinya. Pendidikan menempati peran yang sangat strategis 
sebagai modal besar peradaban Bangsa. Tetapi bagaimana dengan pendidikan kita 
saat ini ? 
Kita masih ribut dengan Ujian Nasional, kita bicara untuk Sekolah standar 
Internasional, kita semua bicara untuk aspek-aspek kognitif, sehingga semua 
dari kita merasa gagal jika anak-anak tak pandai Matematika. 

Kita semua lupa untuk bicara aspek afektif dan psikomotorik, sehingga mungkin 
saja kekerasan yang muncul saat ini, korupsi yang menggurita, kejujuran yang 
langka didapat di masyarakat kita merupakan benih yang kita tanam sendiri 
karena kita tidak mengurusi pendidikan secara baik dan tepat. 

Anggaran Pendidikan juga terkadang lupa dalam membuat perencanaan dan belanja 
anggaran yang lebih mementingkan pembentukan sikap dan karakter anak didik yang 
baik dan dipercaya. Kebanyakan anggaran pendidikan lebih berorientasi pada 
belanja fisik semata dan lupa untuk mengurusi yang bersifat pembentukan 
karakter peserta didik.

Bagaimana Kita di Ambon ?
Kejadian konflik terakhir di Ambon dan bentrok yang terjadi di Universitas 
Pattimura semestinya menjadi bagian dari introspeksi bersama kita untuk 
membenahi Ambon yang lebih baik di masa depan. Ambon yang lebih baik harus 
dibangun atas dasar persaudaraan, atas dasar saling membesarkan antar sesama 
orang basudara. 

Ambon yang lebih baik hanya dapat muncul dari keteladanan Pemimpin, saling 
“trust” antar pemimpin dan antar peminpin dengan masyarakat serta antar orang 
basudara. Lembaga pendidikan semestinya merupakan garda terdepan untuk mendidik 
masyarakat dari semua aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Sekolah-sekolah semestinya menjadi bagian untuk semua komunitas belajar dan 
tidak tersegregasi seperti saat ini sehingga kehidupan masyarakat yang plural 
tercermin di sekolah-sekolah. Benih benih yang baik harus terus kita tanamkan 
sejak dini kepada generasi penerus sehingga kita akan petik buah yang baik 
dimasa datang. Jangan lagi laut kita Tanami dengan ranjau-ranjau, Generasi 
penerus kita perlu kompas untuk berlayar jauh agar menjadi orang Maluku yang 
berprestasi, berkarakter dan bermartabat. Semoga !

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke