http://www.sinarharapan.co.id/content/read/motif-bom-solo-dipastikan-jihad/

26.09.2011 14:25

Motif Bom Solo Dipastikan Jihad
Penulis : Deytri Aritonang/M Bachtiar Nur/Lili Sunardi/Retno Manuhoro   

 (foto:SH/Edy Wahyudi)
JAKARTA – Polri memastikan serangan bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil 
Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, Jawa Tengah, pada Minggu (25/9) pagi bermotif 
jihad. 

Pelaku diduga kuat adalah Ahmad Yosepa Hayat alias Hayat alias Ahmad Abu Daud 
alias Raharjo. Pria ini telah masuk daftar buron terkait serangan bom bunuh 
diri di Masjid Az-Zikro, Polresta Cirebon, April lalu.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Boy Rafli Amar 
menyatakan hal itu melalui pesan singkat kepada SH, Senin (26/9) pagi ini.

Tetapi, Polri kini tengah mengonfirmasi identitas yang bersangkutan, termasuk 
dengan melakukan uji deoxyribonucleic acid (DNA).

"Pelaku bom bunuh diri diduga kuat terkait bom Cirebon. Kepastiannya menunggu 
hasil pemeriksaan tim forensik dan DNA, serta hasil pemeriksaan saksi-saksi," 
kata Boy.

Dia mengatakan, Senin ini tim masih memeriksa jenazah terduga pelaku bom bunuh 
diri, di Rumah Sakit Polri Soekamto, Kramat Jati, Jakarta Timur. Dia berharap, 
pemeriksaan dapat diselesaikan Selasa (27/9). "Semoga besok selesai dan 
hasilnya bisa diumumkan," tambahnya.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam mengatakan, penyidik menduga 
pelaku adalah Hayat yang merupakan DPO (daftar pencarian orang) kasus Bom 
Cirebon.

"Sementara namanya sih memang dia (Hayat- red). Tapi kami cek dulu ke 
keluarganya. Masih dilakukan tes DNA. Kita tunggu saja hasil dari tim forensik 
dan Inafis (Divisi Indonesia Automatic Fingerprints Identification System 
Polri-red)," kata Anton saat dihubungi SH secara terpisah pagi ini.

Jenazah lelaki yang diduga sebagai pelaku pemboman bunuh diri di GBIS Kepunton, 
Solo, Jawa Tengah, Senin pagi sekitar pukul 07.05 WIB tiba di Rumah Sakit Polri 
Kramat Jati, Jakarta Timur. Tim uji forensik langsung mengidentifikasi jenazah. 
Pengujian diperkirakan memakan waktu sekitar dua minggu.

Kapolri Jenderal Timur Pradopo seusai penanaman pohon di Sentul, Jawa Barat, 
bersama Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Senin pagi ini mengatakan, 
pihaknya baru akan menyampaikan soal identitas pelaku bom bunuh diri dan siapa 
yang dicurigai terlibat pada Selasa. 

Sementara Agus mengatakan, sebagai tindak lanjut instruksi internal intelijen 
yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Minggu (25/9), ia 
telah mengintrusksikan aparat kewilayahan untuk lebih berperan aktif, khususnya 
di daerah dan di desa untuk menjadi alat deteksi dini. 

Panglima menerangkan, hingga kini kegiatan terorisme di Indonesia, seperti 
peristiwa di Solo, masih belum menyentuh masalah pertahanan. Ditanya mengenai 
adanya penambahan pasukan mengantisipasi kekhawatiran Ibu Kota sebagai target 
teroris berikutnya, panglima secara tegas mengatakan, tidak. 

Jakarta, menurut dia, masih dalam kondisi aman. 
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal 
Ketut Untung Yoga di Jakarta, Senin, mengatakan, penyidik Mabes Polri 
mengonfirmasi ada empat saksi yang melihat seseorang tidak dikenal sempat 
menanyakan lokasi gereja dan warung internet (warnet) di sekitar lokasi 
kejadian. 

"Orang itu mondar-mandir, kemudian bertanya lokasi gereja dan warnet terdekat," 
katanya. Dia mengatakan, keempat saksi menyebutkan orang tidak dikenal itu 
berada di sekitar lokasi kejadian pada Sabtu (24/9) atau sehari sebelum 
kejadian bom di Solo.

Penyidik mendapatkan informasi, orang tidak dikenal itu berlogat Sunda dan 
diduga menumpang kereta api menuju Solo dari arah Jawa Barat. "Ada ciri fisik 
yang mudah dikenal," ujarnya. Korban luka akibat bom bunuh diri dilarikan ke RS 
dr Oen, Solo.

Korban yang menjalani rawat inap adalah Novia (27), Septy Rodik (22), Restiono, 
Yulianti (78), dan Delfiana (18). Selain itu yang juga dirawat inap adalah 
Hariyoko (78), Fabe (57), Gangsihan, Setafanus Surianto (73), dan Febriana. 
Sementara korban yang menjalani rawat jalan, yaitu Ferdianta (14), Belarmin 
Boris (22), Sugianto (48), dan Anggrayani (15).

Jejak Pelaku

Pelaku bom bunuh diri di GBIS Kepunton menyisakan jejak yang mulai terlacak. 
Sebelum beraksi, pemuda itu mengunjungi warnet dan membuka situs tertentu yang 
berisikan artikel tentang mati syahid.

Pemilik warung internet Solonet, Sunu Prasetya, mengatakan, sebelum kejadian 
bom itu, seorang pria masuk ke warnetnya dan langsung menuju kamar mandi. 
“Sebelumnya baju yang dipakainya bukan itu, jadi ia ganti baju di dalam kamar 
mandi,” kata Sunu.

Dengan penampilan baru, pemuda itu lalu masuk ke bilik lantas log in dua kali 
dengan dua nama, Oki dan Eko. Jarak antara nama log in pertama dan log in 
berikutnya hanya selisih sedikit.

“Pukul 10.15 ia log out lalu log in lagi dengan nama Eko dan searching ke satu 
situs,” lanjutnya.

Pelaku juga sempat menitipkan tas besar kepada penjaga warnet, namun oleh 
penjaga warnet diminta untuk segera mengambil kembali tasnya karena pihak 
warnet tidak ingin dituntut jika ada kehilangan barang. 

Namun oleh pemuda misterius itu dijawab nanti akan segera diambil setelah 
urusannya selesai. Dari warnet, pria yang mengenakan kemeja biru terang itu 
menuju GBIS Kepunton yang berjarak hanya sekitar 200 meter dari warnet. 

GBIS Kepunton memiliki 5.000 jemaat setiap minggunya dengan jadwal kebaktian 
tiga kali. Kebaktian pertama pada pukul 06.00 pagi, dilanjutkan pada pukul 
09.00, dan sore hari pukul 17.00. 

Pria misterius itu memasuki gereja mendekati pukul 11.00 tepat saat bubaran 
kebaktian yang dipimpin oleh Pendeta Sigit Purbandoro dari Surabaya. Beberapa 
petugas gereja sempat mengenali pria itu karena terlihat mondar-mandir sebelum 
berbaur dengan jemaat gereja. 

Beberapa saksi melihat pelaku masuk bukan dari pintu depan, namun dari pintu 
samping belakang dan bergerak mendekati pintu utama. 

Sekitar pukul 10.55 ledakan dahsyat menggelegar di ruangan gereja dan mengubah 
suasana salam damai menjadi jerit tangis histeris jemaat. Pria misterius itu 
tergeletak dengan usus terburai dan menjadi satu-satunya korban tewas.

Dari rekaman CCTV milik gereja, orang yang diduga pelaku masuk dari pintu 
belakang sisi barat, dan terlihat jelas pelaku meledakkan diri bersamaan 
kerumunan jemaat di pintu utama keluar.

Anton Bachrul Alam mengatakan, bom bunuh diri di GBIS Kepunton Solo dilakukan 
setelah pelaku ikut masuk ke gereja bersama jemaat gereja lainnya yang 
melaksanakan ibadah.

Ia mengemukakan, pelaku meledakan bomnya di pintu masuk gereja, sesaat setelah 
jemaat selesai melaksanakan ibadah. Menurut dia, berdasarkan keterangan saksi 
mata, pelaku sebelum melakukan aksi bom bunuh diri tersebut memang terlihat 
ikut masuk ke gereja tersebut. 

"Informasi yang kita dapatkan dari saksi-saksi, saat jemaat selesai 
melaksanakan ibadah, kemudian sebagian jemaat keluar. Begitu juga pelaku yang 
ikut keluar, tapi saat tiba di pintu utama, pelaku meledakkan bom yang 
mengakibatkan korban jiwa," katanya di Jakarta, Minggu.

Anton mengungkapkan, ada beberapa saksi mata yang memang mengenal pelaku 
pengeboman tersebut. Hasil identifikasi sementara, pelaku berusia sekitar 31 
tahun dan menggunakan kemeja putih, celana hitam, dan sepatu kets saat 
melaksanakan aksinya.

Namun, dia belum dapat memastikan apakah pengeboman yang mengakibatkan 
sedikitnya 19 orang luka-luka tersebut terkait jaringan terorisme yang telah 
ada sebelumnya atau tidak. 


BERITA TERKAIT
  a.. Bom bunuh diri meledak di Solo. 
  b.. Bom Bunuh Diri Tewaskan 26 Orang di Pakistan 
  c.. Bom Bunuh Diri Saat Salat Jumat, 48 Tewas


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke