http://arrahmah.com/read/2011/09/16/15248-pengamat-intelejen-pemerintah-lakukan-pembiaran-kerusuhan-ambon.html

Pengamat Intelejen: "Pemerintah lakukan pembiaran kerusuhan Ambon"
Rasul Arasy

Jum'at, 16 September 2011 13:24:29

Hits: 2675

 
JAKARTA (Arrahmah.com) – Pemerintah diduga telah melakukan pembiaran terhadap 
kerusuhan di Ambon. Jika pemerintah terus membiarkan kejahatan ini berlangsung, 
maka pemerintah bisa diseret ke Pengadilan PBB dengan pasal pelanggaran HAM 
berat.

Hal tersebut diungkapkan pengamat intelijen Umar Abduh menyikapi berbagai 
keganjilan pemerintah dalam mengangani kasus kerusuhan di Ambon 11 September 
lalu,

Meskipun berbagai media memberitakan bahwa Ambon sudah kondusif pascakerusuhan, 
namun insiden yang diawali dengan terbunuhnya tukang ojek Muslim di kampung 
Kristen tersebut masih menyisakan banyak keganjilan.

Banyak pihak yang mencurigai pemerintah menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya 
yang membumihanguskan beberapa kampung Islam di Ambon. Menyembunyikan 
fakta-fakta di balik kerusuhan, memang jurus ampuh untuk memenangkan satu pihak 
dan membungkam pihak lain.

Kasus pembunuhan tukang ojek Muslim di wilayah Kristen misalnya, fakta-faktanya 
jelas ada penganiayaan tetapi aparat selalu saja mengklaim bahwa hal tersebut 
adalah kecelakaan tunggal. Namun sampai sekarang pemerintah telah menurunkan 
tim penyidik untuk mengautopsi ulang jenazah tukang ojek karen abanyak 
pemberitaan media yang mengungkapkan tentang kemungkinandibunuhnya tukang ojek 
tersebut.

Keganjilan makin diperparah dengan tewasnya beberapa warga Muslim dengan luka 
tembak. Menanggapi situasi tersebut, tanpa ragu-ragu Umar Abduh menyebut 
pemerintah telah melakukan kebohongan jika tidak mengetahui kejahatan massal 
yang terjadi di Ambon.

“Kalau pemerintah tidak mengetahui kejahatan massal yang seperti itu, itu jelas 
bahwa pemerintah berbohong. Kalau ini terjadi berarti itu memang by design, 
disetujui oleh pemerintah,” ujar Abduh pada Rabu (14/9/2011) sore.

Menurut Umar Abduh, kezaliman pihak Kristen di kepada umat Islam di Ambon itu 
terjadi karena pemerintah memberikan kebebasan kepada Salibis, untuk mengikuti 
keinginan luar negeri, untuk melawan Islam.

“Kita tahu salibis itu seperti itu, bahwasanya pemerintah memberikan kebebasan 
salibis karena perintah dari majikannya di sana. Harus dipersenjatai karena 
mereka itu terancam oleh Islam. Mereka yang merasa sebagai minoritas, padahal 
di Ambon mereka itu kan seimbang,” papar mantan tapol kasus Woyla di masa Orde 
Baru itu.

Dengan sikap yang  lebih mengikuti apa maunya asing atau maunya luar negeri 
itu, jelas Umar Abduh, mengakibatkan pemerintah tidak tahu betapa besar 
kekuatan kelompok separatis di Ambon.

“Apa yang ada di tangan orang kafir atau salibis yang terang-terangan. Mereka 
itu jagonya banyak, snipernya banyak atau daya represifnya tinggi itu tidak 
pernah dihitung (oleh pemerintah, red). Jadi di sini menunjukkan bahwa memang 
ini skenario pemerintah,” jelasnya.

“Pura-pura saja mereka, tidak ada intelijen tidak tahu itu tidak ada, kalau 
intelijen sampai tidak tahu itu namanya bukan negara!” tambahnya.

Abduh mengungkapkan jika pemerintah terus melakukan pembiaran terhadap 
pembantaian massal di Ambon, maka pemerintah bisa saja diseret ke Pengadilan 
PBB dengan pasal pelanggaran HAM berat dan pemerintahnya terancam dibubarkan.

Namun dilaporkan ke PBB atau tidak pada dasrnya tak berpegaruh, karena PBB 
merupakan kaki tangan Amerika dan perpenjangan tangan zionis Israel. Hari gini 
percaya PBB? Capek deh!  (voaI/arrahmah.com)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke