Waspada! Ada 40 Titik Jebakan Oknum Polantas di JakartaOleh Abdul 
Qodir | TRIBUNnews.com – Kam, 27 Okt 2011
KONTEN TERKAIT
        * Perbesar Foto
Waspada! Ada 40 Titik Jebakan Oknum Polantas di Jakarta
BERITA NASIONAL LAINNYA
        * Setelah SBY, Sekarang Giliran Acara Wapres Boediono Ada yang 
'Nyelonong' Masuk
Republika - 13 jam yang lalu
        * Perempuan Pembaca Naskah Sumpah Pemuda itu Ditangkap
TRIBUNnews.com - 18 jam yang lalu
        * Rhenald Kasali: Fadel Berpotensi jadi 'Muhammad Yunus'-nya Indonesia
Republika - 12 jam yang lalu
More »

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kemacetan adalah makanan sehari-hari masyarakat di 
ibukota Jakarta. Miris kala kemacetan parah itu terjadi di sekitar kantor 
polisi, terutama di Polda Metro Jaya.
Selain pasrah, aparat polisi lalulintas (polantas) seakan tidak mampu memberi 
formula untuk merekayasa dan mengurai kemacetan itu. Tragisnya, di saat 
bersamaan, di lokasi yang lain oknum-oknum polantas Polda Metro Jaya asyik 
melakukan jebakan-jebakan untuk pungutan liar (pungli) kepada masyarakat yang 
frustrasi dengan kemacetan yang parah.
Temuan Indonesia Police Watch (IPW) di lapangan, ada 40 titik lokasi jebakan 
oknum polantas di provinsi yang dipimpin Gubernur Fauzi Bowo ini. "Saat ini ada 
40 titik lokasi penjebakan yang dilakukan oknum polisi lalulintas di Jakarta. 
Aksi menjebak pengendara untuk melakukan pungutan liar itu terus menerus 
dibiarkan. Sejak awal 2011 sampai sekarang aksi penjebakan terus berlangsung," 
kata Neta dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Kamis (27/10/2011).
Neta menjelaskan, ke 40 titik yang kerap dijadikan lahan pungutan liar itu 
terjadi hampir di seluruh jalur busway. Selain itu, hampir di seluruh flyover 
dan underpass, seperti di Pasar Minggu, Pramuka, Tanah Tinggi, Pesing, dan 
lain-lain.
Kenapa dikatakan menjebak, lanjut Neta, karena polisi bukannya mengurai 
kemacetan di titik kemacetan, mereka justru berdiri tersembunyi di ujung jalan. 
Akhirnya, pengendara yang frustrasi dengan kemacetan, nekat menerobos masuk 
jalur busway dan kemudian terjebak alias tertangkap polisi.
Seharusnya, jika polisi memang ingin mengurai kemacetan dan memberikan imbauan 
kepada masyarakat, mereka berdiri di depan di titik kemacetan. "Aksi polisi ini 
sudah banyak dikeluhkan publik, tapi para petinggi Polda Metro Jaya tetap saja 
tidak peduli dan membiarkannya," keluhnya.
IPW menyesal aksi oknum-oknum polantas. Sebab, polisi saat ini sudah mendapat 
remunerasi, tapi aksi pungli masih terus terjadi dan dibiarkan makin menggila.
Karena itu, IPW mengimbau para petinggi Polda Metro Jaya peduli dengan keluhan 
publik ini dan segera menertibkan ulah oknum-oknumnya.
Neta menegaskan, keberadaan polantas adalah sesuatu yang strategis di Polri, 
sebab ia adalah etalasenya Polri. "Jika etalasenya dibiarkan begitu buruk, 
citra Polri akan semakin terpuruk," tandasnya.
Untuk itu, Polri harus terus-menerus merawat, menjaga, dan menata etalasenya 
ini dari ulah oknum-oknum yang kerap melakukan pungli.
Selain itu, lalulintas jangan dijadikan ATM atau mesin uang oleh oknum-oknum 
pejabat kepolisian. Sebab, inilah yang membuat oknum polantas di lapangan 
berbuat hal yang melanggar hukum, melakukan pungli, dan tidak serius menangani 
kemacetan lalulintas di Jakarta.
Please visit : 

http://export-import-indonesia.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com/
http://indonesiaupdates.blogspot.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke