http://epaper.korantempo.com/PUBLICATIONS/KT/KT/2011/12/03/index.shtml

George Diminta Keluar dari Yogya 
SLEMAN 

Polisi meminta warga tak main hakim sendiri.

Sekelompok orang yang menamakan diri Forum Paksi Keraton dan Forum Jogja Rembug 
kemarin menggeruduk rumah kontrakan George Junus Aditjondro di Deresan, 
Caturtunggal, Depok, Kabupaten Sleman, kemarin. Massa kemudian menempeli rumah 
kontrakan itu stiker bertulisan, “George jika sudah tak suka keraton dan Jogja, 
silakan minggat dari Jogja!” Teriakan hujatan pun bertubi-tubi keluar dari 
massa yang mengendarai sepeda motor itu. “Segel saja, segera usir dari kampung, 
wong tidak bisa menghormati keraton,”kata seseorang yang ikut dalam kerumunan 
warga itu. Rumah tersebut kemarin dalam keadaan kosong. 
Dosen tamu pengampu mata kuliah Marxisme di Program Pascasarjana Ilmu Religi 
dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu tidak tampak ada di rumah. 

George juga tak terlihat di kampus itu kemarin.“Tak kelihatan hari ini, mungkin 
tak ada jadwal mengajar,” ujar petugas administrasi di sana. 

Massa tak hanya menempelkan poster di rumah tersebut. Mereka juga menaburi 
rumah itu dengan sekeranjang bunga. Bunga-bunga itu dimasukkan lewat lubang 
angin di rumah tersebut.“Yang punya di sini sudah mati,” kata Harno, perwakilan 
dari Forum Jogja Rembug. 

Dalam aksi itu, massa juga memberikan selembar tiket bus Joglosemar kelas 
eksekutif rute Yogya-Semarang. “Ini tolong diberikan ke George agar segera 
pergi dari Yogya. 

Kalau butuh sangu, suruh temui kami, akan kami berikan,” ujar Koordinator Paksi 
Keraton Muhamad Suhud kepada ketua RT kampung itu, Suryanto. 

Setelah itu, kelompok orang yang tersinggung atas pernyataan George yang 
menyebut keraton sebagai “kera ditonton” dalam diskusi berjudul “Membedah 
Status Sultan Ground/Pakualaman Ground dalam Keistimewaan Yogyakarta”di 
Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada itu pun segera meninggalkan lokasi. 
Suryanto menuturkan bahwa George selama ini memang pribadi yang tertutup di 
kampung itu.“Dia juga sempat menghilang agak lama waktu kasus bukunya (Gurita 
Cikeas) dulu,” ujarnya ketika ditanyai Tempo. George menyewa rumah itu sekitar 
Rp 6,5 juta setahun. Terkait dengan desakan untuk mengusir George, Suryanto 
menyatakan menyerahkan sepenuhnya kepada musyawarah warga. 

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah DI Yogyakarta Ajun 
Komisaris Besar Anny Pudjiastuti yang dihubungi Tempo 

menyatakan hendaknya tidak sampai terjadi aksi main hakim sendiri.“Kalau sampai 
main hakim sendiri, itu sudah menyalahi aturan,”ujarnya. 
Lebih lanjut, Anny mengatakan, untuk menyelesaikan soal ini, polisi minggu 
depan akan memanggil semua pihak terkait, meliputi George dan pihak panitia UGM 
sebagai penyelenggara, untuk menyikapi pelaporan massa yang tergabung dalam 
Forum Masyarakat Yogyakarta. 

Pengamat politik dan sosiolog UGM, Arie Sujito, mengatakan dirinya pun 
menyayangkan jika sampai terjadi aksi berbau kekerasan, seperti rencana 
penyegelan dan pengusiran terhadap George. “George mungkin salah dan emosional 
sehingga menyinggung, tapi jangan disikapi dengan emosional juga,” ujar Arie. 
Persoalan ini, kata dia, sebaiknya diselesaikan dengan pendekatan 
sosial-kultural, seperti dengan mediasi. ● PRIBADI WICAKSONO 




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke