Segera Tangkap Nunun Nurbaeti
Senin, 28 November 2011 | 11:45

Memburu orang yang dicurigai sebagai teroris saja polisi mampu, semestinya 
melacak tersangka korupsi yang jelas identitasnya tentu juga bisa. Bahkan, 
sampai ada orang yang meyakini polisi dapat menangkap seorang teroris meski 
masuk ke lubang semut.

Tapi polisi seperti tidak berdaya ketika Nunun Nurbaeti istri mantan Wakil 
Kepala Polri Adang Daradjatun melarikan diri ke luar negeri. Nunun sudah 
ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka sembilan bulan lalu dalam kasus pemberian 
uang suap dalam pemilihan calon deputi gubernur senior Bank Indonesia.

KPK yang berkepentingan untuk memeriksa Nunun,  tidak bisa memastikan di negara 
mana tersangka berada saat ini. Setelah kabarnya berobat ke Singapura, bermacam 
informasi bermunculan seputar keberadaan Nunun. Tak urung mantan Menteri 
Perindustrian Fahmi Idris pernah menyebutkan, tersangka sudah meninggalkan 
Singapura dan berada di Thailand. Namun dia mengaku kecewa karena KPK seperti 
menganggap angin lewat saja informasi yang dimilikinya. Ada kabar lain yang 
menyebutkan, tersangka sempat berada di Kamboja. 

Memang Polri yang ditugaskan untuk melacak keberadaan tersangka sudah meminta 
Interpol untuk memasukkan nama Nunun sebagai buronan. Namun, sampai hari ini 
belum ada informasi akurat lokasi persembunyian tersangka. Baru-baru ini Ketua 
KPK Busyro Muqoddas sempat mengatakan, ada orang kuat yang membantu Nunun 
bersembunyi di luar negeri. Sebenarnya, pernyataan dari orang nomor satu di KPK 
itu bukan sesuatu yang hebat. Tentu amat mustahil seorang perempuan yang tidak 
lagi berusia muda bisa berlama-lama berada di luar negeri meski dia sedang 
dicari karena statusnya sebagai tersangka.

Entah siapa yang berkepentingan untuk membantu Nunun bisa lolos dari pelacakan 
Polri maupun KPK, satu hal yang pasti orang atau kelompok yang bersedia 
membantu itu bukan melakukannya karena kesetiakawanan atau sekadar belas 
kasihan. Apalagi bila bantuan itu memerlukan dana agar bisa menjamin orang yang 
dibantunya selalu dalam keadaan aman.

Amat wajar apabila pihak yang dicurigai ikut membantu Nunun bisa lari dari 
buruan aparat penegak hukum sesungguhnya mempunyai kepentingan dalam kasus suap 
yang sedang diusut oleh KPK. Terlebih lagi, berbagai kalangan terus mendesak 
agar badan antikorupsi itu segera membeberkan siapa pemberi uang suap kepada 
puluhan anggota DPR serta bekas legislator yang sudah dipenjarakan dengan 
tuduhan menerima uang suap.

Pertanyaan yang terus bermunculan, adakah kesungguhan Polri untuk melacak istri 
dari bekas orang nomor dua di lembaga itu. Ataukah Polri sekadar melakukan 
langkah-langkah prosedural tanpa ada upaya nyata untuk melacak dan membawa 
kembali tersangka?

Identitas dan foto Nunun sudah masuk dalam daftar buronan Interpol yang sudah 
disebar di 188 negara. Namun, sampai hari ini Mabes Polri yang memasukkan nama 
tersangka kasus suap cek pelawat untuk mendukung calon petinggi BI itu belum 
juga mendapati titik terang mengenai keberadaannya.

Amat berbeda dengan  pelacakan serta perburuan  bekas petinggi Partai Demokrat 
Muhammad Nazaruddin yang tidak sampai tiga bulan sudah bisa dibawa pulang 
kembali ke Indonesia, pelacakan Nunun tidak memperlihatkan ada kesungguhan 
penegak hukum untuk bisa menemukan tersangka. Sepertinya, para penegak hukum, 
termasuk KPK hanya berharap ada kesadaran tersangka untuk segera kembali ke 
Jakarta. 

Boleh jadi perburuan Nazaruddin gencar karena dalam pelariannya dia 
berkali-kali membeberkan nama petinggi partai politik yang kini sedang 
berkuasa. Lalu para penegak hukum serta petinggi di negeri ini pun bersemangat 
dan bahu membahu untuk memburu aktor utama dalam kasus suap pembangunan wisma 
atlet SEA Games di Palembang itu.

Dari perburuan kedua tersangka, tampak perbedaan sikap dari KPK. Saat memburu 
Nazaruddin, KPK tidak segan untuk mengeluarkan miliaran rupiah membiayai 
pemulangan buruannya itu, termasuk menyewa sebuah pesawat jet guna menerbangkan 
tersangka dari Kolombia ke Indonesia.

Mengapa upaya serupa tidak dilakukan oleh KPK untuk bisa melacak dan membawa 
kembali tersangka Nunun Nurbaeti? Bila KPK hanya menantikan kerelaan tersangka 
untuk diperiksa, maka wajar saja akan muncul anggapan bahwa KPK sudah 
diskriminatif.

Seolah lembaga itu keras terhadap mereka yang senantiasa kritis terhadap 
penguasa namun bersikap lembek ketika harus menghadapi orang-orang yang 
mempunyai akses dengan pusat kekuasaan.

Begitu pula Polri yang mempunyai akses dengan lembaga kepolisian di banyak 
negara melalui kerjasama Interpol semestinya pula berupaya sungguh-sungguh 
untuk terus mengumpulkan informasi mengenai keberadaan Nunun. Jangan karena 
tersangka merupakan istri dari pensiunan perwira tinggi berbintang tiga membuat 
kepolisian sungkan mencarinya.  

Citra KPK serta Polri dipertaruhkan untuk bisa melacak dan menyeret tersangka 
untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan penegak hukum. Publik 
berharap KPK dengan bantuan Polri segera membawa Nunun supaya isu miring 
terhadap kedua lembaga itu tidak berkepanjangan.
http://www.suarapembaruan.com/tajukrencana/segera-tangkap-nunun-nurbaeti/14123#Scene_1
http://tionghoanet.blogspot.com

Kirim email ke