http://www.sinarharapan.co.id/content/read/bisnis-emas-di-timika-membuka-peluang-dan-konflik/

17.12.2011 11:40

Bisnis Emas di Timika Membuka Peluang dan Konflik
Penulis : dr Jozep Ojong*  

Siapa yang tidak kenal nama Freeport di Papua? Boleh dikata hampir semua orang 
di Papua sampai ke pelosok pedalaman kenal nama Freeport, perusahaan raksasa 
dari Amerika Serikat yang mengelola tambang emas dan tembaga tiga terbesar di 
dunia. 
Perusahaan yang hadir di bumi Papua sejak 1969 tersebut patut dikagumi dalam 
kiprahnya karena kontribusinya untuk PDB Kabupaten Mimika tahun 2010, tempat 
perusahaan ini beroperasi, mencapai 96 persen, dan untuk Provinsi Papua 
mencapai lebih dari 50 persen.

Kehadiran perusahaan tersebut sangat tampak di Timika, ibu kota Kabupaten 
Mimika, dimulai saat kita mendarat di Bandar Udara International Mozes Kilangin 
(milik perusahaan itu).

Di Papua banyak siswa yang memperoleh beasiswa untuk belajar dari perusahaan 
tersebut, baik yang sekolah di Jayapura maupun luar Papua melalui LPMAK 
(Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro). 

LPMAK mengelola dana untuk kegiatan pendidikan, kesehatan, media massa, 
pengembangan ekonomi, dan sebagainya. Pembangunan di daerah pedalaman Papua 
yang berdekatan dengan tambang pun merupakan dampak kehadiran Freeport, melalui 
pembangunan lapangan terbang perintis, gereja, pengembangan ekonomi, dan 
sebagainya.

Peningkatan pendapatan bagi para keluarga karyawan Papua pun terasa secara 
signifkan. Diperkirakan, sekitar 28 persen dari karyawannya adalah orang Papua.

Dampak Migrasi 

Freeport telah menarik berbagai lapisan masyarakat dan perusahaan dari seluruh 
Indonesia, bahkan seluruh dunia, untuk datang mencari kerja dan peluang usaha. 

Karena itu tidak heran kalau Kota Timika mencatat pertumbuhan penduduk terbesar 
di Indonesia dan kini telah menjadi kota berpenduduk sekitar 200.000 orang, 
dari semula hanya ratusan orang di 19800-an. Pertumbuhan yang pesat akibat 
migrasi itu juga menimbulkan pengangguran di Timika setelah 2000-an.

Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat juga menimbulkan konflik sosial sebagai 
buah kesenjangan sosial antara penduduk asli Papua yang termarginalisasi dengan 
para pendatang.

Konflik makin tinggi menyusul perkembangan berbagai kegiatan ekonomi lain, 
seperti pendulangan emas, peredaran minuman beralkohol, perjudian, dan 
prostitusi. Pertumbuhan kasus HIV/AIDS di Timika yang tertinggi di Indonesia.

Karena tingginya angka pengangguran, segala cara ditempuh untuk memperoleh 
nafkah. 

Semula usaha pendulangan emas tidak ada, namun dengan timbulnya ide mengolah 
tailing (limbah tambang) mulailah era pendulangan sejak 2002, yang diperkirakan 
menghasilkan perputaran uang sekitar US$ 100 juta per tahun. Jumlah orang di 
pendulangan pun tak kalah dengan jumlah karyawan Freeport. 

Dampak migrasi dan segala kaitannya akhirnya memudahkan timbulnya friksi dan 
konflik kepentingan antarberbagai kelompok maupun individu, karena pemainnya 
makin banyak sementara hasil tidak bertambah dan masuknya pemain yang lebih 
besar.

Bisnis Emas

Sebetulnya seluruh lokasi perusahaan dijaga aparat keamanan, sehingga 
seharusnya tidak sembarang orang dapat masuk wilayah tambang, apalagi para 
pendulang. Semasa Orde Baru, tanggung jawab keamanan di wilayah kerja 
perusahaan diserahkan kepada aparat TNI, namun di era reformasi secara bertahap 
dialihkan kepada Polri, terutama satuan Brimob.

Sepanjang jalan dari pelabuhan, di sini konsentrat dimuat di Mile 1 sampai 
lokasi pabrik pengolahan di Mile 74 dan Gunung Grasberg. Penjaga keamanan 
adalah polisi dengan belasan pos penjagaan dan ratusan anggota.

Namun hal itu tidak menjamin keamanan karena sejak Juli 2009 sampai kini 
terjadi berkali-kali kasus teror penembakan para karyawan dengan korban tewas 
13 orang, yang sampai kini tidak pernah terungkap siapa dalang maupun 
pelakunya. 

Ketika pendulangan menjadi suatu bagian kehidupan yang mau tidak mau harus 
diterima perusahaan, lokasi pendulangan mulai terkonsentrasi di tempat yang 
memberi hasil terbaik, yaitu antara Mile 74 sampai 68 dan antara Mile 50 sampai 
32. 

Pembagian wilayah pendulangan: penduduk asli pegunungan mendulang di Mile 74 
sampai 68 atau lokasi Kota Tembagapura karena dianggap wilayah tersebut 
merupakan tanah hak ulayat suku Amungme; di Mile 50 sampai 32 para pendulang 
dari beragam suku yang sama-sama mengadu untung walau awalnya hanya orang Papua.

Penghasilan para pendulang cukup bagus, khususnya di lokasi dekat muara 
pembuangan limbah tambang di pegunungan (Mile 74 sampai 68) dan sekitar Mile 50 
sampai 32, di mana arus sungainya sudah melambat dan sudah terjadi sedimentasi 
tailing. 

Bersamaan dengan maraknya pendulangan, menjamurlah berbagai macam usaha di 
lokasi pendulangan, seperti tenda warung makan, aneka kelontong, sembako, 
miras, prostitusi, dan apa saja yang dibutuhkan para pendulang, mulai dari yang 
legal sampai ilegal.

Dampak Pemogokan

Pemogokan karyawan perusahaan yang berlangsung beberapa bulan dan baru berakhir 
pekan ini secara tidak langsung memberi peluang pada penjarahan pipa konsentrat 
perusahaan, karena sepotong pipa panjang sejengkal tangan masih mengandung emas 
yang bernilai Rp 30-40 juta.

Pipa yang telah dipotong dan mengandung konsentrat dikerok agar diperoleh 
emasnya dengan memisahkannya dari campuran konsentrat. Kegiatan ini menciptakan 
lapangan pekerjaan baru bagi para perajin di Timika.

Sejak pemogokan 15 September lalu, telah terjadi penjarahan pipa secara 
berjemaah dari Mile 3 sampai Mile 21, karena di lokasi itu kadar emasnya paling 
tinggi, mengingat lokasinya sudah dekat pabrik penyimpanan di Mile 1. 
Akibatnya, banyak orang kaya mendadak.

Akibat terputusnya pipa penyaluran konsentrat, praktis tambang telah berhenti 
produksi sejak Oktober lalu, dan berakibat terhentinya juga mata pencarian para 
pendulang dan penerimaan bagi Mimika, Papua, dan negara. Tiba-tiba saja roda 
perekonomian Timika tidak lagi secerah sebelumnya, perputaran uang seperti 
berhenti mendadak bersamaan dengan aksi pemogokan.

Jadi, PT Freeport Indonesia bukan saja menjadi tempat pemberi kerja bagi 
karyawan yang berkualifikasi, namun kehadirannya juga memberi berkah bagi 
mereka yang tidak berkualifikasi. Kesemuanya telah menggerakkan roda kehidupan 
Kota Timika.

*Penulis adalah dokter yang bertugas di Papua sejak 1983.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke