Refl:  Observasi dari video-video film  menunjukkan bahwa yang selalu giat 
beraksi menghantam demonstran adalah petugas berpakaian sipil. Apakah mereka 
ini yang dimaksudkan dengan pasukan non-organik [dinas rahasia?). Dari 
pemantaun  tsb dapat ditarik konklusi bahwa jumlah anggota kesatuan non-organik 
cukup besar mungkin sama banyaknya dengan yang organik. Mereka selalu 
dihadirkan bukan saja di Papua, tetapi juga diberbagai tempat dimana ada 
aktivitas menentang beleid  politik, ekonomi dan sosial rezim neo-Mojopahit.

Mengingat Papua ada salah  wilayah sangat penting untuk mengisi kas negara dan 
kantong penguasa NKRI, maka janji SBY akan tetap merupakan janji selama 
aspirasi rakyat Papua untuk menentukan nasib dan hari depan sendiri masih 
bernyala. Adalah keliru apabila dianggap puas bahwa janji SBY akan ditepati. 
Harga mati untuk Papua adalah silent genocide!

http://news.okezone.com/read/2011/12/17/337/543723/pasukan-non-organik-ditarik-dari-papua-up4b-dibekukan


Pasukan Non-organik Ditarik dari Papua, UP4B Dibekukan
Insaf Albert Tarigan - Okezone
Sabtu, 17 Desember 2011 17:11 wib
 4  33 Email0 
 
Suasana Pertemuan di Perpustakaan SBY di Cikeas. (Frederika Korain/PGI)
JAKARTA- Pemerintah berjanji akan menarik pasukan non-organik dari provinsi 
Papua dan Papua Barat. Janji itu disampaikan langsung Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono saat bertemu dengan para pimpinan gereja-gereja di Papua di  
kediamannya, Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Jumat (16/12/2011) malam.

Para tokoh agama yang hadir adalah Ketua Sinode GKI Papua Yemima Kret, Ketua 
Gereja Baptis Papua Socrates Sofyan Yoman, Ketua Sinode Kingmi Benny Giay, 
Martin Luther Wanma, dan Rika Korain. 

Sementara Presiden SBY ditemani Wakil Presiden Boediono dan beberapa menteri, 
antara lain Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri 
Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo, Panglima TNI 
Laksamana Agus Suhartono, dan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan 
Keamanan Djoko Suyanto.

Dalam konferensi pers di kantor Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), 
Jakarta, siang tadi, para tokoh agama menyampaikan penghargaan atas niat 
pemerintah tersebut. Apalagi, di bulan Desember ini sebagian besar rakyat Papua 
sedang, dan akan merayakan hari raya Natal.

“Saya sampaikan kepada Presiden, bulan ini bulan damai, bulan kasih sayang, 
seharusnya masyarakat bisa tenang. Saya minta kekerasan berhenti, saatnya kita 
saling berangkulan,” kata Ketua Sinode Kingmi Benny Giay kepada okezone, Sabtu 
(17/12/2011).

Mendengar permintaan itu, kata Benny, Presiden langsung meminta kepada Kapolri 
dan Panglima TNI agar menghentikan kekerasan, “Presiden perintahkan ke Kapolri 
dan Pangab (Panglima TNI) hentikan kekerasan di Paniai, sekurang-kurangnya 
selama bulan natal,” imbuhnya.

Pendeta Gomar Gultom yang juga hadir dalam pertemuan tersebut menjelaskan, 
Presiden memang tidak secara spesisifik menyebutkan tenggat waktu penarikan 
pasukan non-organik tersebut. Namun, hal ini tetap dianggap sebagai langkah 
penting guna memulai proses dialog antara Jakarta-Papua.

“Presiden memerintahkan semua pasukan non-organik ditarik dan hentikan 
pendekatan keamanan karena persiapan dialog tidak mungkin kalau ada pendekatan 
keamanan,” katanya.

Gultom merujuk pada serangan pasukan TNI/Polri ke Paniai 12-15 Desember 2011 
yang menewaskan 15 orang. Dalam penjelasan resmi, Polri menyebut daerah yang 
mereka rebut dan duduki tersebut adalah markas TPN/OPM. 

Menurut Gultom, dialog tidak mungkin terjadi jika pada saat bersamaan ada 
operasi keamanan di wilayah Papua.

Sampai saat ini, tidak diketahui persis jumlah pasukan non-organik yang 
ditempatkan di Papua. Lembaga Imparsial, Agustus lalu, seperti diberitakan VHR 
menyebut ada sekira 30 ribu pasukan di Papua. Dari jumlah tersebut, 14 ribu di 
antaranya adalah pasukan organik dibawah kendali Kodam Cendrawasih.

Lebih lanjut, Gultom mengatakan kedua belah pihak belum menentukan format 
dialog, maupun materi-materi yang akan dibahas karena pertemuan tadi malam baru 
pembukaan guna menyamakan persepsi. Selanjutnya, para tokoh agama dijadwalkan 
untuk bertemu lagi pada pertengahan bulan Januari tahun depan guna merumuskan 
persoalan secara lebih mendetail.

Namun, secara umum, Presiden sudah menyampaikan garis besar posisi pemerintah 
dalam dialog itu dalam lima kerangka yakni, kedaulatan RI, otonomi khusus, 
percepatan dan perluasan pembangunan, tindakah khusus sementara (affirmative 
action), dan penegakan hukum terhadap semua pihak yang melanggar hukum.

“Affirmative action itu maksudnya karena selama ini ada ketidakadilan terhadap 
masyarakat Papua. Jadi nanti diberikan kesempatan kepada mereka, misalnya, 
duduk di pemerintahan dan sebagainya,” katanya.

Gultom menambahkan ,hal lain yang juga disampaikan Presiden dalam pertemuan itu 
adalah mengenai peran Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi 
Papua Barat (UP4B) yang dipimpin Letjen TNI (Purn) Bambang Darmono. Para tokoh 
agama memandang, UP4B dibentuk secara sepihak karena tidak mendengar aspirasi 
rakyat Papua. “Ada titik temu dalam peremuan tadi malam. Semua akan dievaluasi 
bersama, UP4B dihentikan sampai ada hasil evaluasi bersama,” katanya.

Para tokoh agama sebenarnya menginginkan agar dialog difasilitasi pihak ketiga. 
Selain itu, mereka meminta pemerintah membebaskan seluruh tahanan politik, dan 
mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2007 tentang larangan penggunaan 
simbol-simbol bernuansa separatis di Aceh, Maluku dan Papua. Perpres ini 
menjadi landasan pemerintah melarang pengibaran benderan Bintang Fajar, yang 
pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid bisa dikibarkan rakyat Papua. 
(abe) 

Sent from Indosat BlackBerry powered by  Berita Terkait : papua
  a.. "Selesaikan Kasus Papua Sebelum Menyesal" 
  b.. Pemerintah Diminta Gelar Referendum bagi Warga Papua 
  c.. PDIP Khawatir Papua Bernasib Seperti Timor Timur 
  d.. Kunjungan Mendagri Dianggap Memperkeruh Situasi di Papua 
  e.. Kelompok Bersenjata di Papua Gunakan Senjata Milik TNI & Polri 
  f.. Menhan: Pengibaran Bintang Kejora Diduga di Lima Tempat 
  g.. Marzuki: Bintang Kejora Berkibar, Serahkan ke Polri 
  h.. Pemerintah Bantah Ada Sweeping Warga Papua 
  i.. DPR Maklumi Peringatan HUT OPM, Asal Tetap NKRI


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke