Hanya sepatah  komentar yang singkat  dan sederhana ini  : 

A fonte puro pura defluit aqua. –  (Dari Mata Air yg jernih - mengalir AIR
yg bersih )  



 

-------Original Message-------
 
From: firdausjuven
Date: 20.12.2011 7:09:31
To: [email protected]
Subject: [inti-net] Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di
Pekalongan
 
  
Kisah ini nyata dan bagus sekali.
Sayang mustahil terjadi di Ibukota ini.
--------------------------------------

Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan
kabut tipis , pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap
seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi
brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya
 Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang
gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.

Becak dan delman amat dominan masa itu , persimpangan Soko mulai riuh dengan
bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir.
Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB
melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman . Brigadir
Royadin memandang dari kejauhan ,sementara sedan hitam itu melaju perlahan
menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan
tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat
menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat
jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.

Saat mobil menepi , brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan
memberi hormat.

"Selamat pagi!" Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna . 
Boleh ditunjukan rebuwes!" Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin
mengemudi kepada lelaki di balik kaca , jaman itu surat mobil masih
diistilahkan rebuwes.

Perlahan , pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara
penuh.

"Ada apa pak polisi ?" Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget , ia
mengenali siapa pria itu . "Ya Allah…sinuwun!" kejutnya dalam hati . Gugup
bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik , naluri polisinya tetap
menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

"Bapak melangar verbodden , tidak boleh lewat sini, ini satu arah !" Ia
memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan
Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir , orang sebesar sultan HB IX
mengendarai sendiri mobilnya dari jogja ke pekalongan yang jauhnya cukup
lumayan., entah tujuannya kemana.

Setelah melihat rebuwes , Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk
mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan , namun sultan menolak.

" Ya ..saya salah , kamu benar , saya pasti salah !" Sinuwun turun dari
sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes
tanpa tahu harus berbuat apa.

" Jadi…?" Sinuwun bertanya , pertanyaan yang singkat namun sulit bagi
brigadir Royadin menjawabnya .

"Em..emm ..bapak saya tilang , mohon maaf!" Brigadir Royadin heran , sinuwun
tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi
dengannya, jangankan begitu , mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan
Rajapun beliau tidak melakukannya.

"Baik..brigadir , kamu buatkan surat itu , nanti saya ikuti aturannya, saya
harus segera ke Tegal !" Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera
membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang,
ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai
polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan
hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah
katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak
mendapatkan dispensasi. "Sungguh orang yang besar…!" begitu gumamnya.

Surat tilang berpindah tangan , rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia
menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju
ke arah barat, Tegal.

Beberapa menit sinuwun melintas di depan stasiun pekalongan, brigadir
royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran
berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi
manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap
menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas , Ia menyerahkan rebuwes
kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut.,Ialu kembali kerumah
dengan sepeda abu abu tuanya.

Saat apel pagi esok harinya , suara amarah meledak di markas polisi
pekalongan , nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris.
Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap
komisaris polisi selaku kepala kantor.

"Royadin , apa yang kamu lakukan ..sa'enake dewe ..ora mikir ..iki sing mbok
tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!" Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa ,
ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak
balik.

" Sekarang aku mau Tanya , kenapa kamu tidak lepas saja sinuwun..biarkan
lewat, wong kamu tahu siapa dia , ngerti nggak kowe sopo sinuwun?" Komisaris
tak menurunkan nada bicaranya.

" Siap pak , beliau tidak bilang beliau itu siapa , beliau ngaku salah ..dan
memang salah!" brigadir Royadin menjawab tegas.

"Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia ..ojo kaku kaku , kok malah mbok
tilang..ngawur ..jan ngawur….Ini bisa panjang , bisa sampai Menteri !" Derai
komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah , apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya
sebagai polisi , yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja .
memang Koppeg(keras kepala) kedengarannya.

Kepala polisi pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan sinuwun ,
masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu , mengembalikan
rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar 
 keberadaa sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya
kepala polisi pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk
mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah , Brigadir Royadin bertugas seperti biasa , satu minggu
setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan bahkan
ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota pekalongan
selatan.

Suatu sore , saat belum habis jam dinas , seorang kurir datang
menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali ke
kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris
yang saat itu tengah menggengam selembar surat.

"Royadin….minggu depan kamu diminta pindah !" lemas tubuh Royadin , ia
membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota pekalongan setiap
hari , karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko .

" Siap pak !" Royadin menjawab datar.

"Bersama keluargamu semua, dibawa!" pernyataan komisaris mengejutkan , untuk
apa bawa keluarga ketepi pekalongan selatan , ini hanya merepotkan diri saja


"Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar
tetap di rumah sekarang !" Brigadir Royadin menawar.

"Ngawur…Kamu sanggup bersepeda pekalongan – Jogja ? pindahmu itu ke jogja
bukan disini, sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana , pangkatmu mau
dinaikkan satu tingkat.!" Cetus pak komisaris , disodorkan surat yang ada
digengamannya kepada brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya : " Mohon
dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja , sebagai polisi yang tegas saya
selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama
keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu
tingkat." Ditanda tangani sri sultan hamengkubuwono IX.

Tangan brigadir Royadin bergetar , namun ia segera menemukan jawabannya. Ia
tak sangup menolak permntaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia juga
harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota pekalongan .Ia cinta
pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini .

" Mohon bapak sampaikan ke sinuwun , saya berterima kasih, saya tidak bisa
pindah dari pekalongan , ini tanah kelahiran saya , rumah saya . Sampaikan
hormat saya pada beliau ,dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas
kelancangan saya !" Brigadir Royadin bergetar , ia tak memahami betapa
luasnya hati sinuwun Sultan HB IX , Amarah hanya diperolehnya dari sang
komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi
korban ketegasannya.

July 2010 , saat saya mendengar kepergian purnawirawan polisi Royadin kepada
sang khalik dari keluarga dipekalongan , saya tak memilki waktu cukup untuk
menghantar kepergiannya . Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat
masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang
berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada
keturunannya , sekaligus kepada saya selaku keponakannya. Idealismenya di
kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya , pangkatnya
tak banyak bergeser terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat
yaitu ketegasan dan kejujuran .

Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati . Dan juga
kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya
melebihi wilayah negeri ini dari sabang sampai merauke.
Depok June 25′ 2011 Aryadi Noersaid

http://tionghoanet.blogspot.com/



 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke