-ASAHAN:
                HADIAH ULANG TAHUN

Direktur saya lahir pada 8 desember sedangkan saya pada 4 Desember. Usia kami 
hanya berbeda satu tahun dan saya lebih tua satu tahun dari direktur saya. 
Ketika saya masih aktif bekerja di perusahaan direktur saya yang juga dia 
pemiliknya, setiap ulang tahun pegawai perusahaan, para personil akan menerima 
hadiah ulang tahun sebanyak 120 euro yang diambil dari budget yang distor 
secara otomatik oleh setiap pegawai setiap bulan lalu pada hari ulang tahun 
mereka, perusahaan akan menyumbang beberapa puluh euro lagi yang jumlah 
totalnya menjadi 120 euro itu. 

Itu sudah berahir bagi saya sejak saya dipensiun secara resmi pada tahun 2003 
ketika usia pensiun saya genap 65 tahun, jadi sudah berahir 8 tahun lalu. 
Budaya merayakan atau memperingati hari jadi bukan budaya Indonesia dan juga 
bukan budaya Islam. Tapi saya telah mulai merayakan tanggal hari jadi saya 
sejak saya berumur 16 tahun, sendirian, dengan cara pergi ke toko potret dan 
berpotret yang juga tidak selalu rapi setiap tahun saya lakukan tapi bila ada 
uang saja. 

Kecuali dengan cara demikian tidak seorangpun yang ingat hari ulang tahun saya 
dan kalau ingatpun tak seorangpun yang akan memberi selamat ulang tahun kepada 
saya. Tapi sejak saya hidup di Belanda dan bekerja, hari ulang tahun saya 
selalu diramaikan oleh perusahaan di mana saya bekerja. 

Untuk itu saya hanya perlu mentraktir dengan kue tart ulang tahun bagi 
teman-teman sekolega saya di perusaahan yang sering-sering tart traktiran itu 
saya ganti dengan lumpia Vietnam bikinan istri saya yang juga kebetulan orang 
Vietnam dan rupanya sangat digemari oleh teman-teman sekolega di perusahaan dan 
mereka malah ketagihan yang seminggu sebelum tiba tanggal hari lahir saya ada 
saja yang sambil bergurau tapi dengan makna tersembunyi setengah serius: "Hei, 
asahan, saya sudah mencium bau lumpia". 

Dan minggu berikutnya semua mereka bisa mencium serta mengunyahnya: Lumpia 
Vietnam. Sedangkan saya menerima hadiah ulang tahun sebanyaak 120 euro yang 
lalu saya bagi dua dengan istri saya, dia dapat 60 euro,  untuk memupuk dan 
menjaga semangatnya bikin lumpia tahun berikutnya (bikin lumpia cukup repot, 
membuang waktu dan perlu semangat  dan energi agar lumpianya enak). Di luar 
persangkaan saya "diplomasi lumpia" yang saya lancarkan tidak kurang efektifnya 
dengan "diplomasi pimpong" RRT di tahun enam puluhan. Saya menjadi sangat 
populer setiap menjelang hari ulang tahun saya. Dan kalau saya menawarkan pada 
setiap orang mau tart yang bagaimana (sudah menjadi kebiasaan menawarkan dulu 
kepada setiap orang tart kesukaan mereka) maka hampir semuanya menjawab: 
"Persetan dengan tart, ik wil Lumpia!".

Begitulah cerita delapan tahun lalu. Sekarang saya sudah terpisah dengan 
perusahaan , tidak seorangpun yang ingat akan hari ulang tahun saya. Tahun lalu 
di Internet setidaknya tidak kurang dari sepuluh orang yang mengucapkan selamat 
kepada saya pada hari tanggal lahir saya. Tapi itupun sebenarnya saya 
pancing-pancing , barangkali saja ada yang mau kasi selamat. Tapi tahun ini 
saya tidak mau main pancing-pancing begitu karena terasa kepalsuan moral saya 
dan ternyata tak seorangpu yang ingat dan memberi selamat kepada saya karena 
tanpa pancingan. 

Tapi kejujuran lebih berharga dari moral palsu dan sifat hypocrit. Tanpa ucapan 
selamat saya juga bisa selamat mencapai umur 73, semoga saya selamat terus 
tanpa mengemis doa dan memancing-mancing minta ucapan selamat dari  orang lain. 
Saya tidak marah, tidak ngambek, bahkan cuma malu pada diri sendiri 
mengharapkan perhatian dari orang lain dengan cara murahan.

Sekarang saya dan juga seluruh manusia di Eropah memasuki masa krisis ekonomi 
yang sangat serius. Pemerintah Belanda terpaksa harus menjual 60 tank mereka 
kepada siapa saja yang mau beli untuk cari duit penambah  untuk kas negara 
mereka disamping mengadakan penghematan drastis secara besar-besaran ratusan 
milyar euro bagi mengatasi  krisis ekonomi mereka. Bukan tidak mungkin mereka 
akan mengail sepeda-sepeda butut yang berada di dasar-dasar kanal-kanal 
Amsterdam yang dibuang orang-orang untuk dijual ke Indonesia karena mereka 
menolak menjual 60 tank mereka kepada Indonesia. 

Mungkin mereka tahu Indonesia tidak mampu bayar kontan dan mampunya cuma pinjam 
dulu dan bayar nyicil sedangkan  mereka perlu uang kontan, sekarang juga, bukan 
pakek nyicil meskipun bunganya tinggi. Saya adalah juga salah seorang yang 
menikmati krisis ekonomi global yang telah melanda Belanda sekarang ini. Cuma 
saja saya tidak punya tank untuk dinjual bahkan sepeda bututpun tidak punya 
bahkan brommer saya yang tua renta ahirnya roboh tak berdaya sesudah selama 15 
tahun mengabdi saya bagaikan kuda tua yang penuh penyakit yang ahirnya koit 
atau ambruk sama sekali  tanpa mampu beli yang baru.

Dalam keputus asaan yang hampir-hampir total, saya menemukan tulisan Pak 
Trikoyo yang berjudul: "Putus asa tidak ada dalam kamus hidup saya"yang membuat 
saya kembali menyambung tali asa saya yang hampir sekarat itu. Namun masaalah 
kongkrit saya tetap saja tak terpecahkan. 

Tanpa brommer sangat sukar bagi saya untuk pergi belanja dapur dan bila 
menggunakan kendaraan umum(bus) bukan main repotnya: waktu dan juga biaya dan 
juga tenaga saya yang berkurang untuk membawa belanjaan yang berat dengan 
menyandang rugzak di bahu saya yang sudah renta yang setiap waktu bisa saja 
tulang-tulang saya patah dan cacatlah saya untuk seumur hidup kalaupun tidak 
langsung mati. 

Hidup saya terasa menjadi gelap karena hanya brommer rusak dan sudah tidak 
mungkin bergerak dinamis seperti sebelumnya. Dengan situasi itulah saya 
memperingati ulang tahun saya saat sekarang. Hal itu saya keluhkan(saya punya 
bakat besar dalam berkeluh kesah) juga di depan istri saya. Tapi tiba-tiba 
istri saya bilang: "Hei, hari ini kan 8 Desember, hari ulang tahun direkturmu, 
apa kamu sudah tilpon?". 

Sejak saya pensiun saya sudah tak pernah memberikan ucapan selamat ulang tahun 
pada bekas direktur saya dan kamipun sudah sangat jarang bertemu. Tapi usul 
istri saya, entah bagaimana saya turuti juga dan saya menelpon bekas direktur 
saya mengucapkan selamat hari ulang tahunnya. 

Direktur saya seperti sangat antusias seolah ucapan selamat dari saya itu 
begitu penting baginya hingga dia berbicara sangat banyak  dan menanyakan 
keadaan saya begitu mendetail sampai-saampai brommer saya yang dibelikan 
perusahaan itupun ditanyakannya juga apakah masih jalan. 

Saya jawab, baru beberapa hari yang lalu rusak dan ongkos memperbaikinya 
terlalu  mahal karena banyak onderdil yang harus diganti yang untuk itu saya 
harus membayar sebanyak 350 euro yang tak mungkin saya bayar dan  harus saya 
ambil kembali dari bengkel sebagai besi tua yang harus saya kubur di rumah saya 
sendiri. Direktur cepat bilang. 

"Tunggu ya, saya akan tilpon ke bengkel, tak usah diperbaiki, besok saya dengan 
kamu bersama ke bengkel". Saya tidak mau cerita panjang-panjang. Besoknya saya 
bersama bekas direktur saya datang ke bengkel sepeda motor yang juga adalah 
toko sepeda motor. Saya mendapat sepeda motor atau scooter yang baru yang jauh 
lebih moderen dari yang lama dan dalam sehari saya telah mendapat sebuah 
scooter yang baru, gratis pemberian bekas direktur saya gara-gara saya 
mengucapkan  hari ulang tahun dia pada hari yang tepat dan tidak dia 
sangka-sangka. 

Hidup saya kembali bersinar. Supermarket kembali saya kunjungi setiap hari 
dengan belanjaan dapur yang diangkut dengan scooter saya yang mewah yang 
seperti datang dari langit. 

Saya hanya berpikir: rupanya Tuhan belum melupakan saya. Sejak umur dua belas 
tahun ketika saya pindah ke Jakarta saya sudah tidak pernah lagi sembahyang, 
tidak pernah membaca Qur'an, tidak pernah ke mesjid, tidak pernah puasa hingga 
sekarang. 

Dalam hidup, barangkalai saya juga tidak pernah membuat dosa besar kecuali 
pernah menjadi Komunis dan menjadi Komunis bukanlah dosa bahkan menurut 
keyakinan saya hingga sekarang adalah karena ingin berbuat baik kepada rakyat 
tapi rupanya keinginan itu disabot oleh suharto dan  sebagai hukuman yang 
dijatuhkan suharto, saya tidak bisa pulang ke negeri saya sendiri.

Tapi juga rupanya Tuhan seperti telah memerintahkan kepada bekas-bekas musuh 
politik saya agar menyelamatkan saya di negeri mereka dan isyallah saya tetap 
selamat hingga sekarang meskipun terkadang cukup sering mengalami kesukaran 
hidup dan bebagai kesialan namun selalu mendapat pertolongan bahkan di 
saat-saat hampir fatal. 

Hari ini saya mulai lagi menggunakan scooter pemberian direktur saya yang ke 
dua kalinya, sebuah scooter yang moderen dan elegant tanpa saya harus 
mengeluarkan uang satu senpun. Kenyataan hidup kadang-kadang sungguh 
menakjubkan.

ASAHAN.
Hoofddorp, 17 Desember 2011.

BLOG & Feed LowonganNet
http://lowonganNet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Lowongannet

BLOG & Feed Export Import Marketplaces
http://export-import-indonesia.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Export-import-indonesia

Kirim email ke