Pembantaian di Mesuji Sporadis dan Sistematis 
Jumat, 16 Desember 2011 
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/12/16/284557/284/1/Pembantaian-di-Mesuji-Sporadis-dan-Sistematis
MI/Susanto/sa

KOMISI Hak Asasi Manusia Nasional (Komnas HAM) mengungkapkan pembantaian warga 
di Mesuji di Lampung dan Sumatra Selatan terjadi secara sporadis dan sistematis 
sejak 2010. "Setiap perusahaan punya konflik masing-masing dengan warga, 
kejadiannya berbeda-beda," ujar Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim di kantornya, 
Jakarta, kemarin. 

Dia menjelaskan pembunuhan keji terhadap petani itu akibat sengketa tanah yang 
melibatkan tiga perusahaan, yakni PT Silva Inhutani, PT Barat Selatan Makmur 
Investindo (PT BSMI), dan PT Sumber Wangi Alam (PT SWA). 

"Yang paling banyak konflik dengan warga ialah PT Silva. Konflik terjadi di 
beberapa lokasi, tetapi berdekatan," paparnya. 

Menurutnya, PT Silva mengusir ribuan warga dari perkampungan tempat tinggal 
mereka di lima desa di Mesuji. Hal itu terjadi sejak hak guna usaha (HGU) 
perusahaan perkebunan itu bertambah dari 35 ribu hektare (ha) menjadi 45 ribu 
ha, beberapa tahun lalu. Awalnya, HGU yang mereka beli dari Perhutani hanya 
sekitar 35 ribu ha. 

"Perusahaan mungkin tidak tahu ada perkampungan warga di situ. Akhirnya 
perusahaan membentuk tim terpadu yang terdiri dari pamswakarsa, aparat Brimob, 
dan TNI untuk mengusir warga. Pamswakarsa berada di depan dibantu aparat," 
katanya. 

Sejauh ini Komnas HAM belum bisa memastikan jumlah korban dari aksi pelanggaran 
HAM berat itu. "Kami belum bisa merinci secara pasti data jumlah korbannya," 
ujarnya. 

Menurut warga di Mesuji dalam pengaduannya ke Komisi III DPR (14/12), korban 
tewas mencapai 30 orang dan ratusan lainnya luka-luka (Media Indonesia, 15/12). 

Mengenai dugaan keterlibatan aparat, Ifdhal belum berani memastikannya. 
"Indikasi ke arah itu ada. Namun, hal ini perlu investigasi," tandasnya. 

Kolaborasi 

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menyatakan 
pembantaian di Mesuji merupakan kolaborasi antara aparat keamanan dan pebisnis. 
"Yang harus diusut itu soal pamswakarsa. Kenapa polisi di sana membolehkan 
pamswakarsa memegang senjata," ujar Koordinator Kontras Haris Azhar. 

Pada bagian lain, Indonesian Police Watch (IPW) menyimpulkan kasus tersebut 
tidak mendapat perhatian serius dari polisi meski warga setempat dan LSM sudah 
berteriak. "Kapolda Lampung yang saat itu menjabat harus dimintai 
pertanggungjawabannya. Ada semacam pembiaran terhadap pembantaian," kata 
Presidium IPW Neta S Pane. 

Dalam menindaklanjuti kasus itu, Mabes Polri telah membentuk tim dengan anggota 
dari Bareskrim dan inspektorat pengawasan umum. "Apakah ada hambatan atau 
penyimpangan dalam penanganan kasus di Mesuji," kata Kepala Bagian Penerangan 
Umum Mabes Polri, Kombes Boy Rafli Amar. 

Sementara itu, Desa Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering 
Ilir (OKI), salah satu wilayah terjadinya pembantaian, saat ini kondisinya 
normal. (*/NY/Bhm/NV/X-5) 

The Most Comprehensive Travel Blogs 
http://adsensetravel.blogspot.com/
http://adsensetravelreviews.blogspot.com/
http://indonesiatravelupdates.blogspot.com/

Kirim email ke