Bung Chan, Mamang banyak sependapat dengan sampean, sekarang tugas kita yang paling penting menghimpun kekuatan untuk menyelesaikan masalah yang paling mendesak, ini ada tulisan saya terahir. Dengan tulus mamang minta keritik paling tidak pendapat, Chan sudah tahu sikap mamang terhadap perbedaan.
Dengan tulisan ini, sekali2 tidak bermaksud menggurui siapapun juga, ditulis karena prihatin, dengan keadaan tanah air, satu2nya harapan bisa membantu pemuda2 dibawah generasi kita. Sekarang umur mamang sudah diatas 80,masih ingin menyumbangkan sesuatau untuk tanah air tercinta. 1. Masalah yang dihadapi gerakan anti korupsi. Bukan hanya di Indonesia, tetapi di dunia, tumbuh bagai jamur di musim hujan, gerakan anti koupsi dengan bermacam ragam namanya. Di Indonesia bahkan dari pelaku2 koprupsi sendiri, membentuk lembaga yang cukup mentereng “Komisi Pemberantasan Korupsi” yang sampai saat sekarang kerjanya hanya dipenuhi lelucon2 pemberantasan korupsi yang tidak lucu. Satu hal yang meberikan harapan timbulnya gerakan anti korupsi dari generasi baru, pemuda2 yang dengan tulus merasakan semua kebokbrokan yang terjadi di tanah airnya sendiri . Dari kelompok ini, mulai adanya tulisan2 tentang bentuk2 korupsi dan fakta2 korupsi yang lama maupun yang baru, sedangkan sebagian anggota grup ini baru dalam tarap ngerasulo, mengemukakan kejengkelan terhadap kejadian2 yang memuakan ini. Di sini saya sebagai orang awam, bedasarkan ingatan yang tebatas mencoba melihat perkembangan korupsi di Indonesia. Inipun terbatas pada era dimana saya hidup mulai dewasa, karena itu dengan daya talar yang saya milki tidak bisa menyajikan bahan sejarah korupsi yang lengkap. Seingat saya, di jaman pemerintahan Bung Karno, kabar tentang korupsi yang besar dan menghebohkan masarakat, adalah korupsi yang dilakukan oleh mentri keuangan waktu itu Mr. Djodi Gondokusumo dari PRN. Waktu itu pemerintah maupun aparat penegak hukum dengan cepat menaganinya, yang berahir Mr. Djodi diberhentikan sebagai mentri, kabinet di demisionerkan dan digandi dengan pembentukan kabinet baru. Sebagai kelanjutan hukum selain dipecat pengadilan menjatuhkan hukuman penjara dan mengharuskan mengembalikan uang yang dia korup. Sesudah itu, berita tentang korupsi dalam sekala besar, sampai waktu dilakukannya pengambil alihan perusahaan asing, hampir tidak kedengaran. Di sini bisa ditambahkan, mungkin saya tidak dengar, karena waktu itu saya hanya sebagai penduduk desa biasa. Pasca ambil alih perusahaan2 asing, semarak berita adanya uang yang dimiliki oleh petugas2 tertentu, yang diambil dari anggaran belanja negara atau bagian dari penegluaran perusahaan yang dinamakan taktik pond (?), menurut sahibul hikayat uang itu bisa digunakan oleh ÿang berhak” tanpa memberikan pertanggung jawaban yang terperinci, hikayat memberitakan bahwa kebiasaan ini dibawa oleh para petugas miilter, yang saat itu mulaui menjadi jadi direktur perusahaan2 yang diambil alih. Di dalam organisasi militer adanya uang taktik pond itu sangat logis dan dimengerti, terutama dibadan2 militer yang menyangkut intelejen, untuk biaya maupun gaji imforman, demi kelancaran pekerjaan intelejen maupun kontra intelejen, perlunya ada pengeluaran yang tertutup. Tapi kebiasaan yang berguna itu secara mentah dicangkon kedalam lembaga 2 sipil dan perusahaan2 negara, sangat jelas motiv dan tujuannya menyediakan sumber korupsi secara hukum . Dari sejak itu dengan pesatnya bemunculan orang kaya baru/OKB dan kaum kapitalis birokrat/kabir yang sebagian besar terdiri dari perwira reaksioner yang masih aktiv maupun purnawirawan yang betugas dalam perusahaan2 negara. Di bidang politik Internasioanal, Indonesia dibawah pimpinan Bung Karno, muncul menjadi pelopor anti imperialis dan neokolonialis dunia, kekuatan ini tidak hanya mempersatukan kekuatan anti imperialis di negara2 yang terkenal dengan AAA (asia, Afrika dan Amerika Latin), tetapi juga memberikan impirasi yang kuat, terhadap kekuatan2 berfikiran sehat, dinegara2 lainnya seperti Eropa, Australia dan bahkan di pusat imeprialis sepeti Amerika. Di pihak lain kehidupan Rakyat sebagai akibat blokade yang ketat dari imperialisme menjadi sangat sulit . Menggunakan keadaan yang sangat tajam ini, maka kaum neoklonialis, bersama sekutunya terutama jendral2 kanan AD mencetuskan Gerakan 30 September, yang digunakan untuk sebagai alasan untuk merebut kekuasaan dari Bung Karno dan membasmi semua penyangga kekuatan Bung Karno yang berporoskan Nasakom. Sesudah berhasil merebut kekuasaan, jendral2 kanan dari akatan darat dan agen2 sipilnya, meluncurkan gerakan2 diantara lain korupsi sejak itu telah menjadi budaya, yang dilakukan dari Presiden sampai lurah2 bahkan merembes sampai diperguruan tinggi dan sekolah2, pembodoan Rakyat dengan melakukan politik ngambangnya, dan meradikalisasi golongan2 tertentu, maupun yang bedasarkan keyakinan/agama, maupun yang berdasarkan sparatisme. Jadi menurut seorang awam, korupsi itu anak kandung yang logis, dari perkawianan kapitalis birokrat dengan diktatur militer yang dibidani oleh kekuatan neokolonialisme. Memang, sesudah suharto dilengserkan oleh majikannya, dengan menggunakan gerakan pemuda dan mahasiswa yang jujur dan patriotik, sangat sulit untuk menyatakan bahwa cikal bakal korupsi dan tidak mungkinnya pemberantasa korupsi tanpa pilih dan sampai tuntas adalah kehadirannya kekuasan militer. Karena pada saat ini memang militer telah berlindung dibelakang layar “demkrasi”. Padahal demokrasi di Indonesia sekarang ini, menurut seorang cendiakiawan Chris Komari, hanya melksanakan sepersebelas dari 11 patokan demokrasi menurut trias politica, ialah dilakukannya secara piriodik pemilihan anggota legeslativ maupun presiden dan wakilnya. Untuk jelasnya hal ini bisa dibaca dalam sejumlah tulisannya yang disiarkan, melalui ruangan kawan2 bertukar ide dala FB, maupun yang dimuat dalam koran digital organ dari FIIP (Future Indonesia Independent Party). Lebih memberikan ilusi, terutama kepada golongan muda, karena adanya se-olah2, kebebasan menyatakan pendapat, sekarang siapa saja yang punya keinginan bisa 3 mengemukan pendapatnya, sampai menunjuk hidung presiden, tanpa mendapat represi apapun juga,asal saja memang tidak bisa menggoyahkan kekuasaan yang sebenarnya. Dalam hal ini kita harus berani mencoba menelaah pembunuhan terhadap Munir pendiri dan aktivis Kontras. Diwaktu terjadi huru hara di Indonesia Timur, dia mengadakan penyelidikan di lapangan untuk mencari kejelasan, apakah keributan itu hanya masalah lokal yang dia namakan “pertentangan horizontal” atau pertentangan yang direkayasa dari atas “pertentangan vertkal”. Munir pernah menjelaskan, bahwa dari penyelidikannya di lapangan, ditemukan dukumen2 autentik dari kedua belah pihak (pihak kristen dan Islam)’yang membuktikan bahwa dukument itu besumber dari satu sumber dan telah dibuat bukan di Abon. Juga dia menjelaskan adanya bukti2, sebelum kerusuhan terjadi telah berdatangan preman2 dari Jakarta dari kedua pihak. Preman2 ini terus berdatangan selama kerusuhan berjalan. Diberitakan juga adanya sepasukan angkatan bersenjata yang didatangkan ke Ambon, yang ternyata sebagian memang kelihatan ber jaga2 di jalan sedangkan sebagian lagi tidak diketahui dimana keberadaannya. Sesudah memberikan keterangan2 demikian, Munir seolah mundur kebelakang, jarang namnya menghiasi media kertas maupun digital. Keterangan ini saya dengar dalam pertemuan di Belanda, yang mencuat karena dari salah seorang hadirin ada yang menyatkan ketidak percayaan kepada Munir, yang dihubungkan karena Munir bekas aktivis HMI. Sampai saat sekarang temuan Munir ini belum pernah di publikasi. Ada perrtanyaan kepada saya; apakah badan intelejen Indonesia, bkan hanya berhasil melikwidasi Munir, tapi juga berhasil memusnakan hasil penyelidikannya ? pertanyaan kedua apakah pihak Kontras tidak punya sekalipun hanya salinannya dari dukumen2 ini ? Karena untuk mencari dalang utama pembunuhan terhadap munir, hanya dengan mengumkan semua temuannya di lapangan. Sedangkan kita hanya bisa memperkiraan, bahwa keberangkatan Munir ke Belanda, membahayakan kekuasaan di Indonesia, karena ada kesempatan baginya, untuk membuka semua temuannya di lapangan. Andaikan hal ini terjadi, maka kekuasaan militer di Indonesia akan telanjang bulat dalam dunia internasioal. Dari kejadian ini saya lihat hakekat kekuasaan di Indonesia belum berubah, sekalipun suharto sudah lendser. Hanya bedanya di jaman suharto menggunakan cara; siapa saja yang menyatakan pendapat tidak menyenangkannya di kenai 3B; Bui(tangkap),Buang dan Bunuh, 4 kalau perlu tembak dari belakang (petrus). Sedang sekarang menggunakan fisafat; biar anjing menggonggong, asal kalifah tetap lalu, saya gunakan kata kalifah dengan maksud asal kekuasaan tetap utuh. Tapi kalau gonggongan anjing itu memungkinkan mengoyahkan kekuasaan, dengan bemacam ragam dibunuh juga. Disamping kejadian ini masih banyak hal untuk menunjukan bahwa kekuasaan masih di tangan militer dan kita kita bisa lihat bahwa TNI/AD adalah negara dalam negara. Hal ini sesungguhnya telah banyak buku ditulis oleh orang2 pinter; seperti Sdr. Coen Husain Pontoh dalam bukunya TNI Bukan Tentara Rakyat; dllnya, hanya disini saya tidak bermaksud memberikan data blibliotik, saya hanya ingin bagi pandangan orang awam dengan anak2 muda dari grup anti korupsi; apa yang harus kita singkap dan telaah kalau betul ingfin mengubah nasib tanah air kita. Saya melihat, banyak kalau tidak bisa dikatakan sebagian besar, yang terkecoh dengan permainan spektakel gerakan anti korupsi yang disutradai dan dimainkan oleh koruptor2 itu sendiri, juga dibutakan dengan kejadian2 radikalisasi agama maupun daerah, dalam hal ini sudah banyak publikasi saling hubungannya alat negara dengan NII, dan saling hubungannya alat negara dengan radikalisasi di Papua. Suharto mengadakan perebutan kekuasaan sangat sempurna, dari pusat sampai di desa, ini bisa dibuktikan dengan adanya struktur militer dari MBAD sampai desa( Babinsa). Menurut pembicaraan saya dengan militer yang masih aktiv dan yang telah pensiun, struktur militer yang serupa pernah ada di Belanda dijaman pendudukan fasis Jerman. Organisasi militer itu di Indonesia masih utuh sampai hari saya menulis dan aktiv, contoh yang sangat menonjol sekali di Jabar sikap mereka kepada Jamaah Ahmadiah, sesungguhnya masih banyak contoh yang lain TNI terutama angkatan daratnya, suatu instansi yang punya pemasukan keuangan sendiri . Kalau di negari2 lain terutama Eropa dan Amerika, perkembangan kapitalis sejajar dengan perkembangan demokrasi liberal, di Indonesia perkembangan kapitalisme sejajar dengan kekuasaan birokrasi militer. TNI/AD aktivitetnya bukan hanya meningkat keahlian di bidang kemiliteran tapi juga sangat sibuk di bidang perusahaan. Perusahaan ini ada yang langsung perusahaan militer, ada juga usaha bersama cukong2 (bangsa Indonesia suku Tionghoa yang tanpa malu2 membarter kebudayaannya dengan kesempatan bersama militer memeras dan menindas Rakyat Indonesia, Liem Sioe Liong, Mochtar Riyadi, Sofyan Wanadi, Bob Hasan, dll.), Perusahaan 5 campuran dengan modal2 monopoli imperialis. Melalui Yayasan2, selain dari itu banyak jendral2 aktiv ditugaskan memimpin perusahaan2. Sehingga masuk akal, jika ada pikiran, bahwa TNI/AD selalu menuntut bagian terbesar dari anggaran negara, hanya untuk kamuplase dan tambahan sumber korupsi. Ini kita bisa tanya kepada pak Adicondro, yang menekuni korupsi di Indonesia. Seperti telah dikatakan diatas, di negeri demokrasi tidak ada organisasi pertikal dari MB sampai ke pelosok2. Misalnya di Belanda di geminte2 tidak ada komando2 militer,pernah ada organissi yang serupa hanya diwaktu pendudukan tentara fasis, waktu perang dunia kedua. Adanya pengadilan tentara yang berdiri sendiri, dari tingkat pusat sampai di tingkat dua, paralel dengan pengadilan negri. Di negara demokrasi seperti kerajaan Belanda, kalau ada pelanggaran berat dari anggota militer dibentuk tribunal militer. Tapi kalau pelanggaran2 kriminil biasa yang dilakukan anggota militer, diadili oleh pengadilan negri hanya dalam kolektiv hakim, hadir seorang ahli hukum militer. . Sebagai contoh; sersan marine O, menembak mati penduduk di Afganistan, maka dia diadili oleh pengadialan negri wilayah Arnem yang dihadiri oleh seorang ahli hukum militer. Kapten Croon menjalankan aktivitet narkoba, dan memiliki senjata pribadi tanpa punya idzin, diadili pengadilan negri. (maap saya lupa wilayahnya. Adanya urusan agama yang pertikal, paralel dengan jawatan keagamaan negri. Di negara demokrasi lainnya memang ada rohaniawan yang bekerja ditentara, tapi tida punya organisasi urusan agama militer di tingkat provinsi maupun geminte, penda2 merupakan anggota kesatuan militer yang atasannya adalah komandan2 setempat. Adanya rumah sakit militer secara husus, memang di negara demokrasipun, ada rumah sakit militer, tapi secara husus hanya merawat tentara korban pertemburan, militer yang sakit penyakit biasa masuk rumah sakit umum. 6 Adanya organisasi2 masa dibawah pengawasan militer, bisa dikatakan organisasi onderbouw militer, dikala orba terang2an sekarang secara malu2, seperti karyawan dengan golkarnya. Memang di negara demokrasi ada vakbond militer, tapi tidak ada sangkutpautnya sama sekali dengan politik, vakbond2 militer hanya mengurusi soal2 jaminan sosial anggota militer, seperti kebutuhan hidup dan kehidupan, umpamanya menolak pewmecatan karena politik penghematan yang dilakukan pemerintah, berusaha menolak dikirimkannya tentara ke tempat yang berbahaya seperti Afganistan. Dari bukti2 yang sedikit ini, sudah bisa disimpulkan, bahwa TNI/AD adalah merupakan negara dalam negara. Usaha membubarkan negara dalam negara ini pernah diusahan oleh Gus Dur Jendral Agus Wiradikusumah dan jendral2 demokratik lainnya. Dari sini kta bisa melihat, mengapa Gus DUR dilengserkan alasan utamanya, karena tidak disukai grup yang sesungguhnya memegang kekuasaan di Indonesia ialah TNI/AD, tentu saja alasan formalnya semua yang direkayasa mereka. Ini bisa dibuktikan, sesudah tentara berhasil melengserkan Gus Dur, tak ada seoarang presiden Indonesia yang berbicara perlunya tentara (TNI/AD) kembali kebarak, sekalipun Megawati Soekarnoputri. Sesudah kita tahu, apa sesungguhnya Yang merintangi, kemajuan bangsa kita, timbul pertanyaan nyang tidak sulit untuk diucapakan, tapi sangat sulit untuk dilaksanakan mengingat lawan yang harus dienyahkan, selain disenjatai alat pembunuh, juga punya senjata ajaib ialah kesatuan2 intelejen yang telah menyusup keseluruh sektor kehidupan Rakyat, dari pusat sampai di pelosok pedesan, mempunyai dana yang kuat, untuk membiayai kehendak mereka seenak perutnya. Kesulitan lain, seperti telah disebut dia tas adanya Rakyat yang telah dibodohkan Orba, dan kelompok2 yang telah berhasil diradikalisasi. 7 Yang memberikan harapan adalah timbulnya inisiativ golongan muda, yaang secara iklas untuk bergerak memperbaiki nasib Tanah air yang dicintainya, daaaan mereka ini generasi yang tumbuh dalam alam kepalsuan demokrasi, karena itu bukan tidak mungkin mereka masih punya ilusi terhadap, elite yang sepenuhnya mengabdi status quo. Pertanyaan yang saya maksudkan, kita bisa bertanya apa yang harus kita kerjakan dan bagaimana memulai pekerjaan ini. Apa yang harus dikerjakan, menurut saya jelas, kita terutama golongan muda harus berbuat untuk mengubah keadaan keadaan sekarang, karena Tuhanpun tidak akan berbuat sesuatu untuk kita, kalau kita sendiri tidak berbuatnya. Karena itu untuk petama kali golongan muda, harus mengorganisasi diri dalam satu organisasi yang militan, satu sarat yang sangat penting organisasi ini harus bersih dari orang2 orba dan penerus2nya. Maka tugas pertama yang dihadapi organisasi ini, mempunyai grup penerangan yang kuat, untuk mensosialisasikan apa pengahalang yang sesungguhnya kemajuan bangsa kita, yang focusnya menjelaskan adanya negara dalam negara. Menjelaskan kepada Rakyat apa itu sesungguhnya demokrasi dan negara hukum, dengan mengungkap praktek2 yang belaku sekarang, dibandingkan dengan ajaran yang sesungguhnya tentang demokrasi dan negara hukum. Bahan untuk ini cukup banyak salah satu diantaranya tulisan2 sdr.Cris Komari.Tentu saja penyampaian kepada Rakyat perlu dipertimbangan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti mereka. Kaum muda harus yakin betul bahwa perubahan yang mendasar tidak bisa dilakukan oleh suatu kelompok betapapun militannya, soal ini bisa mengadakan perubahan fudamentil kalau ikut sertanya seluruh lapsan Rakyat, yang disenjatai keyakianan kesadaran. Menurut pendapat saya inlah tantangan mendesak yang dihadapi anak2 muda yang betul2 berkeinginan merubah nasib tanah air tercinta, tugas2 kita selanjtnya bisa kita susun sesuai dengan situasi kongkrit yang kita hadapi, yang abanyak sekali tergantung bukan kepada keinginan indah yang kita harapkan, 8 tapi njuga akan tergantung kepada sikap golongan yang merasa dirugikan dengan perubahan yang diperlukan nuntuk perbaikan kehidupan Rakyat. Isaak.Dh. BLOG & Feed Bethany Indonesia http://bethany-indonesia.blogspot.com http://feeds.feedburner.com/Bethany-indonesia BLOG & Feed Bethani Indonesia http://bethani-indonesia.blogspot.com http://feeds.feedburner.com/bethani-indonesia
