Kehidupan Pelajar di Jakarta Meresahkan
Tri Wahono

JAKARTA, KOMPAS.com Kekerasan antarpelajar di Jabodetabek kian marak dan 
menakutkan. Gambaran kekerasan itu terlihat jelas dari melonjaknya angka 
tawuran pelajar dan korban meninggal dunia akibat tawuran selama kurun waktu 
2011 yang dicatat Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Pada tahun 2010, angka tawuran sebanyak 128 kasus, dengan 40 orang meninggal 
dunia. Setahun kemudian, angka tawuran itu melonjak lebih dari dua kali lipat 
menjadi 339 kasus, yang menewaskan 82 orang.

"Tawuran itu terjadi di wilayah Jabodetabek yang mengakibatkan fasilitas umum 
rusak, lalu lintas macet, dan korban terluka hingga tewas," kata Ketua Komisi 
Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait dalam jumpa pers 
catatan akhir tahun 2011 di Komnas PA, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa 
(20/12/2011)

Di Jakarta Barat, kasus tawuran antarpelajar yang terkini terjadi pada 16 
Desember 2011. Dalam peristiwa itu, seorang siswa SMK Bhara Trikora, Jelambar, 
Muhammad Zaki al Habba (15), terluka bacok akibat diserang sekelompok siswa 
SLTA bersenjata tajam.

Di Jakarta Pusat, tawuran antarpemuda terjadi di dekat jalan layang Roxy, 24 
November 2011. Dalam peristiwa itu, seorang siswa SMK Negeri 1 Jakarta, Rifal 
Edryan (16), tewas dibacok oleh sekelompok pemuda.

Dalam kasus itu, Kepolisian Resor Metropolitan Jakarta Pusat berhasil menangkap 
pelaku dan menetapkan dua orang sebagai tersangka. Pelaku berinisial A (20) dan 
HY (19) mengklaim tergabung dalam kelompok Kebon Jeruk (Bonjer) 5. Hasil 
penyidikan, A yang lulus SMA pada tahun 2011 menggerakkan tawuran setelah 
saling ejek dengan kelompok korban di situs jejaring sosial Facebook.

Di Jakarta Selatan, pada kurun 2011 muncul 14 kali pemberitaan perkelahian 
antarsiswa dan atau pemuda antarkampung.

Sejumlah kasus menonjol antara lain tawuran antarwarga di Menteng Tenggulun, 
perbatasan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, tawuran antaranggota ormas di 
perbatasan Depok-Tangerang Selatan-Jakarta Selatan, serta tawuran antarsiswa 
SMA di Jalan Bulungan.

"Maraknya kasus tawuran berarti kekerasan tetap hidup, yang mencerminkan 
kegagalan pemerintah, masyarakat, keluarga, sekolah, dan aparat melindungi 
anak-anak," kata Arist.

Pelajar yang terlibat tawuran, dalam analisis Komnas PA, berkarakter peniru 
ulung, emosi terganggu, reaktif, suka tantangan dan bahaya, tidak disiplin, 
kurang berhati nurani, kurang memahami perilaku dan spiritual yang baik, serta 
kurang mengenal toleransi, pluralisme, demokrasi, dan hak asasi 
manusia.(BRO/NEL/ART/FRO)

Blog JakartaPost
http://jakartapost.blogspot.com
Feeds :
http://feeds.feedburner.com/JakartaPost-OnlineReviews

Kirim email ke