Bung Semar yb,

Terusterang bung, saya tidak berhasil menangkap apa yang hendak bung sampaikan 
pada saya? Maaf, mungkin hanya karena kebodohan saya saja. Tapi bung Semar, 
apakah bung sudah nonton film ini sebelumnya? Perkenankanlah saya mengutarakan 
kesan setelah nonton film ini.

Sekalipun film ini fiktif saja, tapi setelah nonton film ini, saya tetap 
berusaha menangkap makna isi dan jalannya cerita yang cukup baik dan menarik 
itu, lepas dari judul yang diberikan. Bagaimanapun juga cerita itu meengajak 
penonton untuk berusaha menerima kenyataan kemajemukan hidup bermasyarakat, 
harus bisa menerima dan menghormati setiap umat manusia dengan segala 
perbedaaan yang ada, ya beda ras, beda suku, beda etnis maupun beda Agama, ... 
Pokoknya, bisa ber-BHINEKA TUNGGAL IKA dalam kenyataan hidup bermasyarakat. 
Bagus, itulah yang perlu diangkat dan didorong terus menerus dinegeri ini, agar 
kehidupan harmonis dalam masyarakat bisa terwujutkan sebaik-baiknya. Sekalipun 
kawin silang antar suku, etnis dan Agama tidak perlu dianjur-anjurkan, tapi 
juga jangan cegah hubungan cinta muda-mudi hanya karena adanya perbedaan yang 
diantara mereka. Biarlah hubungan cinta itu berlangsung secara wajar dan sehat 
sebagaimana adanya saja, dimana sudah tidak lagi tersekat hanya karena beda 
ras, beda suku, beda etnis, beda Agama dan adat-istiadat.

Yang tetap menjadi ganjelan pada diri saya, kenapa diberi judul "Jangan panggil 
Aku Cina". Pertama, sekalipun mungkin film ini tidak bermaksud menghina dengan 
sebutan Cina, tapi jelas tetap menunjukkan adanya keluargaa yang merendahkan 
Cina. Bahkan merendahkan Cina dibawah suku-suku lain yang ada di Indonesia ini. 
Menghadapi sikap/pemikiran salah ini bukan dengan seruan "Jangan panggil aku 
Cina", tapi menyadarakan orang dengan perlakuan sama terhadap sesama manusia, 
sebagaimana diucapkan Jusril itu. Kedua, seseorang dilahirkan sebagai Cina atau 
lebih tepat Tionghoa bukanlah satu dosa atau kesalahan ataupun sesuatu yang 
perlu disangkal sebagai kenyataan yang ada. Tidak seharusnya menyerukan "Jangan 
panggil Aku Cina". Tionghoa tetap Tionghoa, yang tidak perlu disangkal ataupun 
tidak hendak mengakui kenyataan dirinya dilahirkan sebagai TIonghoa. 
Sebagaimana juga dengan suku-suku lain yang ada di Indonesia, Tionghoa juga 
merupakan salah satu suku dalam Bangsa Indonesia, yang sederajat dengan 
suku-suku lain yang ada. Sudah seharusnya yang dilahirkan sebagai Tionghoa atau 
ada turunan TIonghoa tetap disebut dan dipanggil Tionghoa, .... Tidak ada 
salahnya! Judul film itu yang salah dan tidak seharusnya begitu!

Salam,
ChanCT


  Selamat pagi Bung Chan....

  yang disebut film BELUM tentu kisah nyata...yang nyata di kehidupan BELUM 
tentu seperti gambaran yg ada di film...intinya, manusia ada baiknya mengambil 
satu kejadian tidak menjadi sekedar katanya dan menjadi benar dalam landasan 
pra sangka...

  salah satu solusi dari proses di atas upaya menterjemahkan kata SPIRITUALITAS 
sebagai TOTAL LAKU manusia...TIDAK disandera urusan ras / suku, agama / 
keyakinan kpd YMK, warna kulit, dan semua pelabelan.yg. dibuat oleh.manusia itu 
sendiri...

  satu2nya upaya.manusia LEBIH manfaat membawa kepada ranah bagaimana manusia 
berjuang menggapai nilai2 manusianya di tengah2 kehidupan yg beraneka 
ragam...Pancasila SUDAH kasih arah demikian...KEMBALI, kepada si manusianya 
lakoni...

  dari setiap kelompok atau golongan manusia, PASTI ada yg ber-CAHAYA...karena, 
CAHAYA tidak di tentukan melalui label atau pun ujud raga si manusia....

  salam,
  Semar Samiadji

Kunjungi :
BLOG & Feed Tionghoanet
http://tionghoanet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Tionghoanet

BLOG & Feed LowonganNet
http://lowonganNet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Lowongannet

Kirim email ke