http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2011/12/29/ArticleHtmls/BIAR-TUBUH-TAK-GAMPANG-SAKIT-29122011104007.shtml?Mode=0#
Biar Tubuh Tak Gampang Sakit
Diare yang pernah diaD lami Arya, 4 tahun, membuat Widia, ibunya, kini lebih
berhati-hati.
Perempuan 32 tahun itu tidak ingin kejadian yang membuat Arya berak-berak
sampai berat badannya merosot terulang. Setiap sebelum makan, warga Kebon
Jeruk, Jakarta, ini harus memastikan Arya telah mencuci tangan.
“Apa saja bisa dipegang, termasuk barang-barang yang kotor. Karena itu, sebelum
makan, harus dipastikan dia cuci tangan,“ kata Widya. Namun selama ini dia
merasa cukup bila anak tunggalnya itu mencuci tangan dengan air saja tanpa
sabun.Menurut Direktur Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan dr Kirana
Pritasari, pembiasaan mencuci tangan menggunakan sabun pada anak-anak sangat
penting dilakukan orang tua. Selain sebagai bentuk pembiasaan pola hidup sehat,
mencuci tangan pakai sabun menghindarkan kemungkinan anakanak terkena penyakit
yang ditularkan melalui kuman.
“Dengan mencuci tangan pakai sabun, sejumlah penyakit infeksi bisa kita
cegah,“kata Kirana dalam diskusi yang mempersoalkan pentingnya cuci tangan
pakai sabun pada anak-anak, Kamis lalu, di Plaza Bapindo, Jakarta. Selain itu,
hadir sebagai pembicara Tb Rachmat Sentika, dokter spesialis anak Rumah Sakit
Bintaro. Menurut Kirana, penyakit yang bisa dicegah penularannya dengan mencuci
tangan pakai sabun di antaranya hepatitis A, disenteri, diare, tifus, radang
tenggorokan, dan masalah saluran pernapasan. Kebiasaan sehat itu dilakukan
dalam lima waktu, yaitu mandi menggunakan sabun, serta cuci tangan pakai sabun
sebelum makan pagi, sebelum makan siang, sebelum makan malam, dan setelah dari
toilet.
Mencuci tangan menggunakan sabun adalah kegiatan yang mudah, tapi berdampak
penting ba FOTO-FOTO: ADITIA NOVIANSYAH (TEMPO) gi kesehatan. Sayangnya, tak
banyak orang yang mempraktekkan kebiasaan ini. Indeks Pembangunan Kesehatan
Masyarakat 2010 menunjukkan bahwa persentase rumah tangga yang memenuhi
kriteria perilaku hidup bersih dan sehat dengan kategori baik secara rata-rata
nasional hanya 35,68 persen. Sedangkan persentase penduduk yang berperilaku
benar dalam cuci tangan pakai sabun secara rata-rata nasional hanya 24,48
persen.
Di sisi lain, penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah (6-10 tahun)
pada umumnya berkaitan dengan pola hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan
pakai sabun. Studi yang dilakukan Curtis V. Cairncross, peneliti asal Inggris,
menunjukkan, mencuci tangan dengan sabun dapat menurunkan risiko diare hingga
47 persen.
Berkaitan dengan pembiasaan sejak kanak-kanak, Rachmat Sentika menjelaskan,
pembentukan kebiasaan baru, seperti kebiasaan cuci tangan pakai sabun, secara
medis sudah dikaji secara ilmiah. Makin sering suatu fenomena tertangkap oleh
pancaindra, responsnya makin cepat dan lama tersimpan dalam memori sehingga
akhirnya menjadi kebiasaan.“Karena itu, berikan informasi sejelas mungkin,
sering, dan mudah diingat, serta dilakukan secara kontinu sehingga menjadi
kebiasaan dan budaya,“ dia mengungkapkan.
Teori dan penelitian mengenai hal itu, salah satunya, diungkapkan oleh Maxwell
Maltz dalam buku Psyco-Cybernetics. Di situ, ia menjelaskan bahwa, untuk
membentuk suatu kebiasaan baru pada seseorang, dibutuhkan waktu minimal 21 hari
secara terus-menerus tanpa putus.“Kenapa 21 hari? Karena selama waktu itu, sisi
kognitif, afektif, dan psikomotorik bisa dibentuk,“ kata Rachmat.
Selain berdampak pada kesehatan, cuci tangan pakai sabun membuat tingkat
kehadiran siswa ke sekolah lebih tinggi karena terhindar dari sakit. Penelitian
di luar negeri menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut mengurangi absensi sekitar
42 persen. Di Indonesia, hasil penelitian lembaga swadaya masyarakat Spektra
terhadap 550 siswa di 11 kabupaten di Jawa Timur, dengan perilaku cuci tangan
pakai sabun, terutama sebelum makan, dapat menurunkan tingkat absensi anak
akibat sakit diare hingga 11 persen. AMIRULLAH
[Non-text portions of this message have been removed]