http://www.suarapembaruan.com/home/perempuan-indonesia-minta-sby-berhenti-berwacana/15370


Perempuan Indonesia Minta SBY Berhenti Berwacana
Kamis, 29 Desember 2011 | 16:44

 
Ratna Sarumpaet [google] 
[JAKARTA] Perempuan Indonesia meminta dengan sangat kepada Presiden, RI Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY) supaya lebih berkomitmen melindungi segenap bangsa 
Indonesia tanpa pandang bulu. Selain itu, Presiden SBY diharapkan dapat 
memperbaiki kinerjanya sebagai kepala negara/pemerintahan dan berhenti 
berwacana.

Hal itu dikemukakan tokoh perempuan Indonesia, Ratna Sarumpaet kepada wartawan 
dalam acara diskusi dengan tema ' Mempertanyakan Kekerasan Negara Terhadap 
Rakyat', di Galeri Cemara, Jakarta, Kamis (29/12).   

"Laksanakan Pancasila, konstitusi UUD 1945 dengan penuh tanggung jawab serta 
menjamin ditegakkannya hak asasi manusia dalam situasi dan kondisi apapun. 
Presiden SBY harus memperhatikan seluruh aspek tersebut," kata Ratna.

Ratna menyatakan, bahwa perempuan Indonesia sangat kecewa dan memiliki 
kekhawatiran yang tinggi atas kecenderungan pemerintah melakukan pendekatan 
kekerasan dalam menangani persoalan rakyat.   

Berbagai kasus kekerasan yang terjadi di daerah, ujarnya, seperti di Mimika 
(Papua), Kedu (Pasuruan, Mesuji (Lampung), dan Bima (NTB) merupakan kasus yang 
didekati dengan cara yang brutal.   

"Pendekatan itu sangat dikhawatirkan akan membentuk mind set generasi sekarang. 
Artinya, perbedaan pendapat ternyata boleh diselesaikan dengan kekerasan," 
imbuhnya.

Padahal, lanjutnya, di dalam kehidupan bermasyarakat, mustahil kalau tidak ada 
masalah perbedaan pendapat. Pemerintah seharusnya berperan penting untuk 
mengembalikan rakyat ke jalur demokrasi.   

"Pemerintah sebaiknya dapat mendudukkan para pihak yang bertikai untuk 
berunding, saling menghormati sudut pandang yang berbeda dan mencari 
penyelesaian secara damai, beradab dan taat hukum," ungkapnya.

Ratna menyinggung terkait pembiaran berlarut-larut terhadap kasus GKI Yasmin. 
Dikatakannya, pembiaran itu akan membentuk pola pikir generasi sekarang, bahwa 
tirani mayoritas atas minoritas seperti disahkan. Padahal dalam demokrasi, hak 
minoritas adalah setara dengan hak mayoritas. "Mengormati hal itu adalah inti 
dari masyarakat beradab," tegasnya.

Ditambahkannya, meski penanganan kasus GKI Yasmin tidak menyiratkan kekerasan 
secara fisik, tapi pendekatan pemerintah menangani kasus tersebut memunculkan 
bentuk kekerasan lain yang berujung pada pelanggaran hak asasi manusia.   

"Hal yang paling memprihatinkan, di tengah rangkaian peristiwa kekerasan yang 
sudah lampaui batas kemanusiaan itu, penjelasan resmi dari presiden, nyaris 
tidak didengar," pungkas Ratna yang juga menjadi Direktur 
RatnaSarumpaetCrisisCenter. [CKP/L-9]





Berita Terkait

  a.. SBY Resmikan Pusat Misi Perdamaian 
  b.. Sering Kecelakaan, SBY Minta Transportasi Publik Dibenahi 
  c.. SBY Memang Sehat, Habis Olahraga Makan Bubur Ayam 
  d.. SBY: Negara Harus Menang Lawan Teroris 
  e.. SBY Pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke