Refl: Jakarta bukan saja ibukota, tetapi juga tempat kediaman orang-orang kaya 
raya dan lambang kemajuan kleptokrasi, maka oleh karena itu keamanan menjadi 
mahal.

http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/02/01/ArticleHtmls/Keamanan-di-Ibu-Kota-Menjadi-Barang-Mahal-Permasalahan-01022012012014.shtml?Mode=0


Keamanan ibukota menjadi barang mahal


Keamanan di Ibu Kota Menjadi Barang Mahal Permasalahan Jakarta sebagai ibu kota 
negara kian hari semakin terasa. Apalagi dengan tidak imbangnya jumlah penduduk 
dengan segala aspek yang ada, mulai lahan, sarana-prasarana, sampai lapangan 
Keamanan di Ibu Kota Menjadi Barang Mahal Permasalahan Jakarta sebagai ibu kota 
negara kian hari semakin terasa. Apalagi dengan tidak imbangnya jumlah penduduk 
dengan segala aspek yang ada, mulai lahan, sarana-prasarana, sampai lapangan 
pekerjaan. Saking banyaknya permasalahan tersebut, citra Jakarta sebagai ibu 
kota negara menjadi kota yang sakit dan tertekan. Belum lagi masalah penyakit 
sosial yang semakin hari semakin menakutkan, seperti berbagai kasus perampokan, 
pemerkosaan, dan pembunuhan belakangan ini. 
Secara antropologis dan sosiologis, Jakarta sebenarnya sudah dihancurkan antara 
lain oleh pemberian izin pembangunan yang tidak mengindahkan tata kota. Pesona 
Jakarta sebagai ibu kota sama sekali tidak terlihat akibat pembangunan gedung 
dan pusat bisnis yang menabrak tata ruang dan tata kota. Wajah Jakarta semakin 
tidak keruan oleh persoalan sampah yang, antara lain, menumpuk di sungai. 
Penduduk Jakarta umumnya suka “membuang sampah“, termasuk dari mobil-mobil 
mewah di jalanan, dan belum tumbuh budaya “mengelola sampah“.

Tidak hanya sampah berserakan dan tata ruang dilanggar, kekerasan juga merebak 
luas, yang membuat hidup di Jakarta terasa sesak dan suntuk. Mungkin ada saja 
yang bilang, jika tidak tahan terhadap kondisi Jakarta, pindah saja. 
Persoalannya tentu bukan bertahan atau pindah, melainkan masalah keamanan, 
kenyamanan, ketertiban, dan kebersihan merupakan keniscayaan keadaban 
masyarakat modern. Jakarta dan kota lain di Indonesia haruslah aman dan bersih 
sebagai sebuah ekspresi kemajuan keadaban sebuah bangsa.

Belakangan ini penduduk dan pengunjung Jakarta dibuat cemas oleh kasus 
perampokan, pemerkosaan, dan pembunuhan yang merebak luas. Timbul kesan, 
penjahat semakin bergerak leluasa, seolah-olah tak takut lagi terhadap aparat 
keamanan. Aparat keamanan pasti sudah berjuang melawan penjahat yang 
mencelakakan masyarakat. Namun, masih maraknya aksi kejahatan boleh jadi 
merupakan isyarat kuat, tindakan pengamanan kalah kuat dibanding keganasan 
penjahat.

Atas kenyataan itu, perlu dilakukan terobosan mendasar agar tak ada lagi 
pemerkosaan dan perampokan di jalanan atau di kendaraan-kendaraan umum, seperti 
bus dan angkutan kota. Pengaruh psikologis atas kejahatan itu luar biasa. 
Masyarakat merasa tidak leluasa dan cemas jika keamanan di jalanan atau 
kendaraan umum tidak terjamin.
Konsentrasi pada pekerjaan juga terganggu. Karena itu, upaya pemberantasan 
kejahatan, seperti perampokan, pembunuhan, dan pemerkosaan, tidak hanya untuk 
mengembalikan rasa aman dan tenteram, tetapi sekaligus juga untuk 
memperlihatkan kemajuan keadaban dan peradaban sebuah bangsa dan negara modern.
Salam.

Linda Surachman, SH Taman Cilandak, Lebak Bulus Jakarta Selatan 

     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke