"KPK" itukan perhiasan demokrasi Neo liberal.Mana mungkin dia memberantas 
korupsi kalau para koruptor sedang memegang kekuasaan. Lain kali langsung saja 
banting orangnya agar menghemat kursi meja hingga KPK  menjelma menjadi 
"Kumpulan Pukul Koruptor" dan dijadikan kebiasaan sehari-hari.Jangan takut Mas, 
para koruptor itu tidak bisa berkelahi, suka makan enak dan malas olah raga, 
cholesterol tinggi, darah tinggi, kencing manis, lemah jantung, ditonjok sama 
kelingking saja sudah roboh. Sikat saja Mas!
Saya sokong dari jauh.
asahan.


  ----- Original Message ----- 
  From: koentyo soekadar 
  To: 
  Sent: Monday, January 30, 2012 11:10 AM
  Subject:  Ketua KPK Ngamuk, Meja Kursi Hancur Berantakan

  sitat : "Peristiwa itu berawal ketika Ketua KPK Abraham Samad sudah siap 
hendak menandatangani surat perintah penangkapan terhadap Ketum Partai Demokrat 
Anas Urbaningrum dan Menpora Andi Malarangeng. Namun langkah ini dicegah oleh 
Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas dan Bambang Widjojanto,"
   
  kesimpulannya :
  apakah mungkin bahwa kedua orang tersebut diatas sudah dipasang oleh ketum PD 
untuk melindunginya atau sudah menikmati sesuatu dari kedua orang tersebut?
  pikir sendiri aja .... !
------------------------------------
  
  
http://kabarnet.wordpress.com/2012/01/27/ketua-kpk-ngamuk-meja-kursi-hancur-berantakan/
  Posted by KabarNet pada 27/01/2012

  Ketua KPK Ngamuk, Meja Kursi Hancur Berantakan

  Jakarta – KabarNet: Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad, 
naik pitam sampai membanting meja kursi di ruangan kantornya hingga hancur 
berantakan. Pasalnya, langkah Abraham Samad yang akan mengeluarkan surat 
perintah penangkapan terhadap Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, dan 
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Malarangeng, terkait kasus suap 
Wisma Atlet, dicegah pimpinan KPK yang lain. Pencegahan inilah yang membuat 
Abraham berang, naik darah dan melampiaskan kemarahannya. Inilah informasi yang 
dirilis oleh Anggota DPR-RI, Ahmad Yani (PPP), dan Akbar Faisal (Hanura).
  Terungkapnya berita ini bermula dari pesan singkat (SMS/BBM) yang beredar di 
kalangan tertentu, terkait langkah Ketua KPK Abraham Samad yang akan 
mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Ketum Partai Demokrat Anas 
Urbaningrum dan Menpora Andi Alfian Malarangeng. Peristiwa itu berawal ketika 
Ketua KPK Abraham Samad sudah siap hendak menandatangani surat perintah 
penangkapan terhadap Ketum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Menpora Andi 
Malarangeng. Namun langkah ini dicegah oleh Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas dan 
Bambang Widjojanto, yang menyarankan agar menunda dulu rencana penangkapan 
tersebut. Pencegahan inilah yang membuat Abraham naik pitam. Kontan saja suara 
hiruk pikuk dari ruang kantor Abraham yang sedang membanting-banting meja kursi 
itu terdengar oleh banyak petugas KPK yang lain, dan tanpa diketahui siapa yang 
memulai tahu-tahu berita ini sudah beredar dan menjadi perbincangan anggota 
dewan.



  Anggota Komisi III DPR-RI, Ahmad Yani, sangat menyesalkan terjadinya 
ketegangan antar Pimpinan KPK dalam proses investigasi dan penindakan atas 
kasus dugaan korupsi Wisma Atlet. Ahmad Yani mengaku dirinya mendapat informasi 
ini dari rekannya di Komisi III, Akbar Faisal. “Saya baru mendapatkan informasi 
ini dari rekan Akbar Faisal, dan Akbar Faisal mendapat informasi yang 
menurutnya kualifikasi A1. Kualifikasi A1 ini tentunya bukan perorangan, bukan 
anggota penyidik, tapi pasti dari Pimpinan KPK,” ungkapnya kepada wartawan di 
Gedung DPR, Kamis (26/1/2012).

  Lebih lanjut Ahmad Yani berpendapat, untuk menetapkan siapa tersangka kasus 
suap Wisma Atlet berikutnya tidak dibutuhkan kecerdasan khusus. Dengan melihat 
fakta-fakta yang yang terungkap di persidangan dan berdasarkan proses hukum 
acara, dari situ saja sudah cukup bisa diketahui siapa saja yang terlibat. “Dan 
orang yang akan ditetapkan tersangka itu adalah orang yang berkali-kali 
dipanggil KPK dan berkali-kali datang ke KPK,” tandasnya.

  Ahmad Yani menyayangkan kejadian dicegahnya Ketua KPK yang akan menangkap 
tersangka pelaku tindak pidana korupsi. Ia khawatir KPK tidak bisa diharapkan 
lagi untuk membongkar kasus-kasus lain yang melibatkan orang-orang tertentu 
yang memiliki akses ke kekuasaan dan finansial. Menurutnya, intergritas dan 
moralitas KPK saat ini betul-betul sedang dipertaruhkan. “Kalau KPK sudah 
dijadikan instrumen politik untuk melindungi partai politik tertentu dengan 
maksud tujuan tertentu, ini menjadi tidak adil buat partai lain dan orang lain. 
Yang tidak memiliki akses kekuasaan bisa digulung habis,” pungkasnya.

  Sementara itu, Anggota Komisi III DPR-RI Akbar Faisal, meyakini kebenaran 
informasi tentang adanya perpecahan di tubuh pimpinan KPK. Akbar mengaku bahwa 
dirinya mendapatkan informasi tentang perpecahan di unsur pimpinan KPK langsung 
dari sumber di dalam lembaga tersebut. Diungkapkannya bahwa Ia mengenal dekat 
Ketua KPK Abraham Samad karena sama-sama berasal dari Sulawesi Selatan, 
disamping juga karena pekerjaan Akbar yang sebelumnya pernah berprofesi sebagai 
wartawan.



  Akbar berpendapat bahwa sangat masuk akal jika Abraham Samad sampai naik 
pitam sehingga membanting meja kursi di ruang kantornya lantaran ada pimpinan 
KPK lain yang berusaha menghalangi keputusan KPK untuk menangkap Anas 
Urbaningrum dan Andi Malarangeng. ”Saya mengenal Abraham sebagai orang paling 
keras kepala yang saya kenal,” ungkap Akbar kepada para wartawan usai menjadi 
pembicara dalam acara Forum Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah, di Jakarta, pada 
hari Kamis (26/1/2012).

  Saat ditanya siapa nama sumber informasi tentang berita persengketaan antar 
pimpinan KPK ini, Akbar menolak menyebutkan nama. Akan tetapi, lanjutnya, 
sebagai seorang yang pernah berprofesi sebagai wartawan, dirinya meyakini 
kebenaran informasi yang diperolehnya. Sebagai misal, Akbar mencontohkan bahwa 
dirinya juga pernah mendapat informasi tentang perpecahan di kalangan pimpinan 
KPK terkait kasus skandal mega korupsi Bank Century. ”Waktu itu ada pimpinan 
KPK yang bilang kepada Abraham agar jangan mengikuti kemauan politikus DPR 
dalam kasus Century, karena menganggap DPR punya agenda,” pungkasnya.

  Analisa Redaktur KabarNet:
  Dari hal-hal yang diungkapkan oleh Anggota Komisi III DPR, Akbar Faisal 
seperti yang tertulis di atas, dapat ditarik suatu benang merah bahwa informasi 
tersebut tentunya diperoleh Akbar dari Ketua KPK Abraham Samad sendiri. 
Mengingat kedekatan hubungan pribadi antara Abraham dan Akbar, disamping kaitan 
posisi Akbar di Komisi III DPR yang salah satu tugasnya mengontrol kinerja KPK, 
maka menjadi sangat logis dan manusiawi kalau Abraham mengeluhkan 
kendala-kendala yang dihadapinya kepada Akbar selaku temannya. Secara 
sederhana, ada dua hal yang bisa disimpulkan dari masalah ini:

  1] Kemungkinan kebenarannya sangat besar soal berita tentang terjadinya 
perpecahan diantara personil unsur pimpinan KPK terkait langkah-langkah 
penindakan terhadap tersangka kasus suap Wisma Atlet.

  2] Kemungkinan kebenarannya sangat besar, bahwa seandainya Ketua KPK Abraham 
Samad tidak dicegah oleh dua pimpinan yang lain, maka surat perintah 
penangkapan terhadap Anas dan Andi tersebut tentunya sudah ditanda-tangani. 
Atau dengan kata lain, andaikan langkah Abraham Samad tidak dihalangi, tentunya 
Ketum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, dan MENPORA Andi Malarangeng saat ini 
sudah meringkuk di balik jeruji besi penjara. [KbrNet/adl]



------------------------------------

Untuk bergabung di milis INTI-net, kirim email ke : 
[email protected]

Kunjungi situs INTI-net    
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
Subscribe our Feeds :
http://feeds.feedburner.com/Tionghoanet

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke