Pergantian Direksi yang Sangat Bising

OLEH: DAHLAN ISKAN
(Menteri BUMN)

BISING! Itulah satu kata yang bisa menggambarkan dengan tepat setiap akan 
terjadi penggantian direksi di sebuah perusahaan BUMN.

Di antara yang bising-bising itu, yang paling berisik ada dua: proses 
pergantian direksi di 15 perusahaan perkebunan dan satu perusahaan 
telekomunikasi.

Memang masa jabatan direksi di 15 perusahaan perkebunan BUMN segera berakhir. 
Demikian juga di Telkom. Persiapan penggantian direksi pun harus dilakukan. 
Maka, terjadilah apa yang terjadi sekarang ini, hari-hari ini, perang 
baratayudha!

Calon yang diperkirakan akan menjadi direktur utama dihancur-hancurkan. Lewat 
SMS maupun kasak-kasuk. Mereka itu harus digulingkan. Kalau perlu sekalian 
menterinya!

Beredar pula susunan direksi baru di beberapa BUMN yang katanya sudah direstui 
menteri, atau deputi, atau DPP berbagai partai.

Kalau membaca susunan direksi itu seolah-olah sudah seperti yang 
sebenar-benarnya. Beredar pula daftar riwayat hidup banyak orang yang 
dipuji-puji dengan hebatnya. Merekalah yang dijamin pasti berhasil menjadi 
direktur atau direktur utama.

Kebisingan itu bertambah-tambah karena masing-masing orang juga melobi 
kanan-kiri, atas-bawah, muka-belakang, termasuk melobi teman-teman dekat saya. 
Juga melobi adik saya yang hidup sederhana di rumah Perumnas di Madiun. SMS 
saya pun penuh dengan lalu lintas maki-maki dan puji-puji.

Melihat dan merasakan semua kebisingan itu, saya teringat kejadian beberapa 
tahun lalu, yakni ketika terjadi pembunuhan yang latar belakangnya hanya ingin 
jadi direktur utama anak perusahaan BUMN.

Bayangkan. Baru rebutan jadi direktur anak perusahaan saja sudah sampai terjadi 
pembunuhan. Sampai melibatkan pejabat negara yang begitu tingginya. Apalagi 
yang ini rebutan bapak perusahaan.

Menyaksikan riuhnya suasana, saya mengambil kesimpulan: saya harus menjauhkan 
diri dari bisikan pihak mana pun. Saya tidak boleh mendengarkan omongan, SMS, 
surat, telepon, dan segala macam bentuk rayuan, serta makian.

Saya ingin berkonsentrasi pada menemukan orang yang memenuhi kriteria yang 
sudah saya umumkan secara luas: integritas dan antusias. Saya tidak lagi 
memasukkan unsur kompetensi dan kepandaian. Semua calon untuk level seperti itu 
pasti sudah kompeten dan pandai.

Sebelum menemukan mereka itu saya harus menemukan dulu orang yang layak saya 
dengarkan pandangannya, yakni orang yang tahu soal perkebunan, yang tahu 
orang-orang di lingkungan perkebunan dan orang itu harus memiliki integritas 
yang bisa diandalkan.

Dari orang seperti itulah saya akan banyak mendengar. Cara seperti ini juga 
saya lakukan di PLN dulu. Ketika saya ditunjuk untuk menjadi Direktur Utama PLN 
dan diberi wewenang untuk memilih siapa saja yang akan duduk di tim saya 
sebagai direktur PLN, saya mencari dulu satu orang yang integritasnya dikenal 
baik di lingkungan atas PLN.

Kepada orang itulah saya banyak konsultasi dan dari orang itulah saya banyak 
mendengarkan. Mengapa saya memilih jalan itu? Ini karena saya belajar dari 
pengalaman panjang: Orang yang integritasnya baik, biasanya juga akan memilih 
orang yang integritasnya baik.

Mengapa?

Saya merasakan di BUMN itu terjadi kecenderungan seperti ini: Orang yang 
integritasnya baik, biasanya merasa jadi minoritas di lingkungannya. Orang yang 
integritasnya baik, biasanya merasa termarginalkan di lingkungannya.

Oleh karena itu, kalau dia diberi kesempatan untuk bisa mengusulkan seseorang 
menduduki jabatan strategis, secara manusiawi dia akan mencari teman yang sama 
baik integritasnya. Dia akan terdorong untuk berusaha memperbanyak orang-orang 
yang berintegritas tinggi di lingkungannya. Dia bercita-cita untuk tidak 
menjadi minoritas lagi.

Kalau di dalam satu board of director mayoritas direksinya sudah memiliki 
integritas yang tinggi, hasilnya akan luar biasa banyak: direksi itu akan 
kompak dalam bekerja, tidak akan ada saling curiga, program-program bisa 
dipilih yang paling bermanfaat untuk perusahaan (bukan yang bermanfaat untuk 
kepentingan dirinya atau kelompoknya), keputusan bisa diambil dengan cepat, 
lebih berani menolak intervensi, dan yang paling penting mereka akan menyusun 
tim untuk tingkat di bawahnya dengan cara memilih orang-orang yang 
integritasnya juga baik.

Kalau semua lapisan paling atas dan lapisan di bawahnya sudah sama-sama 
memiliki integritas yang tinggi perusahaan akan maju, lestari, dan kultur 
perusahaan pun akan terbentuk dengan kokohnya.

Untungnya, dalam proses penyusunan direksi baru perkebunan ini, saya bisa 
segera menemukan orang yang paling pantas saya dengar pandangannya. Dengan 
demikian, saya tidak terlalu lama terombang-ambing di tengah kebisingan itu. 
Terima kasih Tuhan!

Orang yang saya maksud itu tergolong orang dalam perkebunan. Kebetulan namanya 
mirip dengan nama saya: Dahlan Harahap. Beliau saat ini masih menjabat Direktur 
Utama PTPN IV di Medan. Perkebunan kelapa sawitnya maju pesat. Perusahaannya 
berkembang kokoh. Uang cash-nya saja lebih dari Rp 1 triliun. Beliau juga 
dikenal sebagai orang yang integritasnya sangat baik. Tahan godaan: uang maupun 
politik.

Posisi beliau juga sangat netral karena satu alasan ini: bertekad tidak akan 
mau lagi menjabat direktur BUMN. Dia sudah bersumpah di depan Tuhan untuk 
berhenti sebagai direktur BUMN. Sudah cukup, katanya. Dengan sikapnya yang 
seperti itu, pandangannya tentu lebih jernih. Tidak ada agenda yang 
terselubung. Tidak ada keinginan yang tersembunyi, kecuali untuk kemajuan dan 
integritas BUMN.

Saya pun menemui beliau dengan dua tujuan. Pertama, saya ingin merayu agar mau 
duduk lagi sebagai direktur BUMN. Bahkan, bisa naik menjadi direktur 
utamaholding perusahaan perkebunan seluruh Indonesia. Namun, usaha saya ini 
gagal. Beliau tetap teguh pada tekadnya untuk berhenti sebagai direktur di 
BUMN. Apakah akan bekerja di perkebunan swasta? Tidak. Beliau ingin mengurus 
kewajibannya kepada Tuhan!

Setelah gagal merayu beliau, barulah saya menjalankan misi yang kedua. Saya 
minta pandangan yang objektif tentang orang-orang di seluruh perusahaan 
perkebunan milik BUMN.

Saya semakin respek karena sepanjang pembicaraan itu beliau sama sekali tidak 
mau menyebut kekurangan apalagi cacat satu orang pun. Beliau sama sekali tidak 
mau mengemukakan sisi negatif dari siapa pun di lingkungan perkebunan. Tentu 
saya juga tidak mau menanyakan sisi-sisi negatif itu. Saya hanya ingin fokus 
mencari siapa yang terbaik-terbaik di antara yang ada.

Dari pandangan-pandangannya, saya bangga bahwa di BUMN masih ada orang seperti 
Dahlan Harahap. Juga seperti Murtaqi Syamsuddin di PLN. Tentu saya juga memuji 
orang seperti Karen Agustiawan, Direktur Utama Pertamina.

Seharusnya dia berangkat untuk menghadiri pertemuan besar Davos di Eropa. 
Namun, karena akan ada acara BUMN yang penting, Karen membatalkan 
keberangkatannya. Saya bangga atas sikapnya ini: mengurus perusahaan lebih 
penting dari menghadiri pertemuan sebesar Davos sekali pun!

Beberapa direktur utama bank BUMN saya lihat juga memiliki integritas tinggi. 
Demikian juga orang seperti Ignasius Jonan, Dirut PT KAI. Saya sungguh berharap 
akan melihat lebih banyak lagi orang-orang seperti beliau-beliau itu. 
Integritas dan antusias.

Saya pun berdoa siang-malam untuk segera menemukan orang yang layak saya dengar 
pandangannya untuk Telkom yang kini lagi bising-bisingnya.

Ini karena misi memperbanyak orang dengan integritas tinggi di BUMN adalah 
keniscayaan. Sangat berbahaya kalau BUMN jatuh ke tangan orang yang 
integritasnya diragukan.

BUMN harus menjadi senjata kedua bagi Presiden untuk melaksanakan program 
pembangunan ekonomi seperti yang dijanjikan kepada rakyat dalam masa kampanye 
dulu. Senjata pertamanya adalah APBN.

Pada saat swasta belum tertarik ke pembangunan infrastruktur besar-besaran, 
BUMN harus mengambil peran itu. Pada saat para pengusaha swasta bersikap wait 
and see akibat gejolak ekonomi di USA dan Eropa, BUMN harus firm untuk 
menjalankan seluruh ekspansinya dan melakukan investasi besar-besaran. Bahkan, 
pada saat seperti ini, keberanian melakukan investasi harus menjadi salah satu 
KPI direksi BUMN.

Sungguh wajar dalam setiap terjadi gejolak ekonomi, pihak swasta bersikap 
hati-hati. Lalu bersikap tunggu dulu. Maka, dalam situasi seperti ini sikap 
firm BUMN diperlukan untuk memberikan rasa percaya diri yang tinggi.

Kalau di satu pihak swasta lagi ragu-ragu dan bersikap wait and see, di pihak 
lain BUMN tidak firm, maka perekonomian akan terganggu. Namun, kalau swasta 
melihat BUMN terus bekerja dan berinvestasi keragu-raguan itu akan berkurang.

Tentu sulit sekali mengharapkan sebuah BUMN bisa firm dan bertindak cepat kalau 
di antara direksinya tidak kompak. Oleh karena itu, saya dan dewan komisaris di 
semua BUMN akan terus memonitor kekompakan ini.

Semua direksi yang hebat-hebat pun tidak akan banyak gunanya kalau tidak padu. 
Dia hanya akan seperti soto enak yang dicampur dengan rawon enak.

Apa boleh buat. Sementara pergantian direksi di 15 perusahaan perkebunan itu 
masih dalam proses, kebisingan yang sangat tinggi masih akan terus terjadi. 
Dan, saya harus tabah mendengarkannya. Untungnya sesekali ada hiburan dari 
orang seperti Nazaruddin. (jpnn/zal)

http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=123903
Selasa, 24 Januari 2012 , 06:32:0

Kirim email ke