Refl:   Kalau SBY tidak membohong dengan lipservice-nya, maka SBY tidak 
mensponsor Laskar Jihad  ke Sulawesi Tengah dan Maluku untuk menghajar kaum 
Nasrani dan juga telah bertindak tegas terhadap mereka yang mengobrak abrik 
kaum Ahmadiah dan Syiah.



http://www.analisadaily.com/news/read/2012/02/04/33609/presiden_perbedaan_etnis_dan_agama_jangan_ganggu_persaudaraan/#.Ty_D0PnPzRU


Sabtu, 04 Feb 2012 06:47 WIB

Presiden: Perbedaan Etnis dan Agama Jangan Ganggu Persaudaraan

(Antara/widodo s jusuf) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres Boediono, Ibu 
Negara Ny Ani Yudhoyono dan Ibu Herawati Boediono berfoto bersama dengan para 
pendukung dan pengisi acara Perayaan Tahun Baru Imlek 2563 Tingkat Nasional di 
Balai Sidang, Jakarta, Jumat (3/2). Perayaan Tahun Baru Imlek 2563 ini 
mengambil tema "Insan Beriman dan Luhur Budi, Hidup Rukun Meski Berbeda".

Jakarta, (Analisa). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan bahwa 
perbedaan etnis dan agama tidak boleh mengganggu persaudaraan seluruh warga 
negara Indonesia sebagai sebuah bangsa.
Dalam pidato perayaan tahun baru Imlek Nasional 2563 di Balai Sidang Jakarta, 
Jumat, Kepala Negara yang hadir didampingi Ani Yudhoyono menyatakan pemerintah 
sesuai dengan peran dan tugas yang diembannya juga terus berupaya untuk 
mengayomi, melindungi, serta memberikan kesetaraan kepada segenap warga negara.

"Sebagai bangsa yang majemuk, yang kaya akan keragaman etnis, budaya, dan 
agama, memerlukan ikatan persatuan yang kokoh. Dalam keragaman itulah, kita 
harus hidup rukun, damai, dan penuh toleransi," katanya.

Presiden juga kembali mengingatkan agar perbedaan tidak dijadikan alat oleh 
pihak mana pun dalam menyebarkan kebencian apalagi dengan menggunakan kekerasan.

"Di antara sesama warga bangsa tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi, lebih 
kuat, dan lebih penting. Sebesar apa pun perbedaan kita sebagai manusia, kita 
tidak boleh meyebarkan kebencian apalagi dengan menggunakan kekerasan terhadap 
orang yang berbeda dengan kita," tuturnya.

Sebaliknya, lanjut Presiden, kebersamaan harus dibangun secara kekeluargaan 
dalam kemajemukan agar tercipta solidaritas di tengah perbedaan.

"Dalam kaitan itulah para tokoh dan pemimpin agama memiliki peran yang sangat 
penting dalam membimbing, membina, dan menuntun umatnya melalui kesalehan 
individual dan kesalehan sosial," ujarnya.

Dalam sambutannya pada perayaan tahun baru imlek nasional yang juga dihadiri 
Wakil Presiden Boediono, Presiden mengatakan imlek bukan hanya milik umat 
Konghucu dan masyarakat Tionghoa, tetapi juga telah menjadi pesta rakyat di 
seluruh pelosok tanah air yang bisa terlihat dari semarak atraksi barongsai, 
lampion, dan beragam aksesori khas Tionghoa yang menghiasi perayaan imlek di 
seluruh daerah nusantara.

"Ini menunjukkan bahwa bangsa kita benar-benar menjunjung tinggi nilai-nilai 
kebersamaan, meneguhkan semangat Bhineka Tunggal Ika dan memberi ruang besar 
bagi mayarakat Tionghoa tanpa ada lagi sikap diskriminasi," tegasnya.

Perayaan tahun baru Imlek yang semarak di Indonesia, menurut Presiden, adalah 
salah satu kenyataan bahwa kebersamaan etnis Tionghoa dengan berbagai etnis 
lainnya di tanah air telah terjalin kokoh sebagai bangsa yang multikultural. 
(Ant)
++++

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke