Refl: Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen Hartind Asrin mengatakan 
tidak ada calo, tetapi bagaimana dengna kick-back yang lazim dipraktektekan 
dalam perdagangan alat-alat perang? Siapa yang akan diberi?


http://www.sapos.co.id/index.php/berita/detail/Rubrik/12/31455

Minggu, 5 Februari 2012 

Sekali Tender Calo Senjata Untung Miliaran


      JAKARTA. Pembelian alat utama sistem senjata di Indonesia berpotensi 
menguntungkan segelintir orang yang lazim disebut calo atau makelar pengadaan. 
Jika tidak diberantas, calo akan membebani keuangan negara dan merugikan TNI 
sebagai pengguna.


      "Calo itu sudah ada sejak sebelum reformasi, sekali tender untungnya bisa 
miliaran rupiah," ujar Direktur Eksekutif Lembaga Studi Strategi Pertahanan 
Indonesia Rizal Darmaputra Msi kemarin. Calo ini biasanya berupa perusahaan 
rekanan yang mempunyai koneksi dengan pejabat tertentu.
      Menurut Rizal, calo hanya mengambil satu atau dua persen dari total 
belanja senjata. "Tapi peralatan yang dibeli bisa jutaan dollar satu buahnya, 
bisa dibayangkan berapa keuntungannya," kata alumnus IDSS Jenewa, Swiss itu.


      Sebagai ilustrasi harga satu tank kelas berat sejenis Leopard seharga Rp 
25 miliar per buah. Sedangkan satu pesawat intai sekelas Searcher MK II buatan 
Israel harganya Rp 54 miliar.
      Ada beberapa modus yang biasa dipakai calo-calo ini. Pertama, menggunakan 
sistem komisi. Yakni, mereka yang melakukan survei sekaligus mendatangkan 
barang sampai Indonesia. Pejabat yang menangani tingal terima beres saja. 
"Komisi ini diambil dari nilai tender totalnya," katanya.


      Modus kedua, melakukan mark up harga. Jika ternyata deal, maka senjata 
yang dibeli bisa tiga kali lipat lebih mahal dari harga aslinya. "Mereka ini 
diuntungkan dari selisih harga itu," kata Rizal.
      Untuk memuluskan rencananya, para calo tak segan segan memberi servis 
ekstra untuk para pejabat yang terlibat dalam jual beli senjata. "Misalnya 
mengantar ke pabrikan di luar negeri secara gratis, tentu tidak lupa ada uang 
saku juga," kata peneliti yang beberapa kali melakukan riset ke Afghanistan 
ini.Namun, Rizal mengaku tidak tahu persis apakah sistem percaloan itu masih 
ada dalam pengadaan senjata saat ini. "Itu praktik di masa lalu, mudah-mudahan 
saja sudah tidak ada lagi, yang rugi TNI dan juga keuangan negara hilang sia 
sia," katanya.


      Presiden SBY juga menaruh perhatian khusus soal mafia alutsista ini. 
Dalam rapat kabinet bidang pertahanan Kamis (2/2) lalu SBY secara khusus 
meminta agar tidak ada lagi praktik mark up dalam pengadaan alutsista.
      SBY mengingatkan juga agar praktik kongkalikong dalam pengadaan alutsista 
yang bisa merugikan negara bisa dihindari. "Jangan ada mark up, jangan ada lobi 
sana lobi sini, menggalang sana menggalang sini, akhirnya harganya menjadi 
berlebihan dan negara dirugikan," kata SBY saat itu.


      Dalam paparan di depan DPR sehari sebelumnya, KSAD Pramono Edhi Wibowo 
secara tegas akan membasmi sistem percaloan dan mark up. Ipar SBY ini 
menegaskan sistem pembelian senjata berlangsung G to G (government to 
government) dan tidak menggunakan jasa perantara. Saat ini yang menjadi 
kontroversi soal pengadaan senjata adalah rencana pembelian tank Leopard dari 
Belanda dan pesawat intai tanpa awak dari Filipina yang dibuat Israel.


      Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen Hartind Asrin menegaskan 
sistem calo sudah tidak ada lagi dalam pengadaan senjata di lingkungan TNI. 
"Semuanya dibahas oleh lembaga yang disebut clearing house yang dipimpin 
langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan," katanya.Dengan begitu, tidak ada ruang 
bagi calo untuk beroperasi. "Ada rapat yang juga dihadiri wakil kepala staf 
tiga angkatan. Nanti dilihat secara teknis spesifikasinya dan kesesuaian dengan 
pagu anggaran yang ada," katanya.(rdl/jpnn/nin)
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke