---------- Forwarded message ----------
From: Dr. Saafroedin Bahar. <>
Subject: SBY, Pilot yang Salah Pesawat.
To: .

Bung Salim, rasanya artikel tentang SBY dalam harian Kompas tg 2 Februari 2012 
ini menarik utk kita renungkan bersama, karena secara tersirat telah menuding 
SBY melakukan kesalahan ideologis dalam memimpin pemerintahan.
Wassalam,
SB.

http://m.kompas.com/news/read/2012/02/02/02142161/pilot.yang.salah.pesawat


Pilot yang Salah Pesawat
| Kamis, 2 Februari 2012

Sri Palupi

Para pembantu Presiden SBY menepis tudingan bahwa Indonesia dijalankan dengan 
otopilot. Bahkan, Menko Perekonomian Hatta Rajasa memuji SBY sebagai pilot 
andal.

Alasannya, di tangan SBY, pertumbuhan produk domestik bruto 6,5 persen, 
peringkat utang meningkat, dan status layak investasi yang diberikan lembaga 
pemeringkat internasional.

Tak ada yang salah dengan pu- jian bahwa SBY pilot andal. Hanya saja, para 
pemuji SBY tutup mata terhadap kenyataan bahwa sebagai pilot, SBY salah masuk 
pesawat. Bukan pesawat RI yang ia terbangkan, melainkan pesawat asing yang 
memuat investor asing, komprador, koruptor, dan kalangan yang diuntungkan 
kebijakan promodal asing. Rakyat tertinggal di pesawat tanpa pilot, 
terombang-ambing di tengah badai korupsi dan investasi.

Pesawat asing

Pemerintahan SBY dikenal paling ramah melayani kepentingan asing. Tak heran, 
banyak pujian dari asing. Bahkan, demi mencapai target investasi, SBY rela 
mengorbankan kepentingan hajat hidup rakyat. Target investasi yang dibuat 
pemerintahan SBY Rp 3.100 triliun sampai 2014. Investasinya belum mencapai Rp 
1.000 triliun, 75 persen sumber daya alam kita sudah dikuasai asing. 
Saham-saham penting milik negara sudah beralih kepemilikan ke korporasi asing.

Kepenguasaan asing di pertambangan emas, perak, dan tembaga mencapai 90 persen. 
Sektor energi 90 persen dikuasai asing. Perbankan nasional juga jatuh ke tangan 
asing. Sektor telekomunikasi yang strategis, 90 persen dikuasai asing.

Rantai pangan Indonesia tak terlepas dari penguasaan asing. Aliansi untuk Desa 
Sejahtera mencatat, korporasi asing telah mengontrol perdagangan pangan 
Indonesia. Syn- genta, Monsanto, Dupont, dan Bayer menguasai bibit dan agro- 
kimia. Cargill, Bunge, Louis Dreyfus, dan ADM merajai pangan serat, 
perdagangan, dan pengolahan bahan mentah. Nestle, Kraft Food, Unilever, dan 
Pepsi Co mencengkeram pengolahan pangan dan minuman. Carrefour, Wal Mart, 
Metro, dan Tesco jadi penguasa pasar eceran pangan.

Produk petani dan industri dalam negeri tergusur produk impor. Pasar 
tradisional terdesak mal dan pusat belanja modern. Pedagang kecil kehilangan 
sumber hidup. Bahan baku industri yang berlimpah lebih banyak dinikmati asing. 
Negeri ini hanya jadi pasar barang industri bangsa lain sekaligus pemasok bahan 
baku industri negara lain. Penguasaan aset negara oleh asing dibuat mulus 
dengan banyaknya UU pro-kepentingan asing.

Amat banyak UU dibuat dengan mengabaikan amanat konstitusi. Setidaknya 76 UU 
penting terkait hajat hidup rakyat dibuat dengan intervensi asing. Sebagai 
bangsa, praktis kita sudah kehilangan kedaulatan. Tak hanya atas bumi, air, dan 
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Dalam berpikir dan menentukan masa 
depan sendiri pun, kita sudah defisit kedaulatan. Pertumbuhan ekonomi tinggi, 
peringkat utang meningkat, dan status layak investasi kebanggaan pemerintahan 
SBY tak sebanding dengan risiko dan harga yang harus dibayar bangsa ini.

Saat pemerintah membanggakan pertumbuhan ekonomi tinggi dan berbagai pujian 
pihak asing, saat itu pemerintah meningkatkan target pengiriman TKI ke luar 
negeri dan mengampanyekan program perluasan negara tujuan TKI. Lalu, untuk 
siapa pertumbuhan ekonomi tinggi dan derasnya arus investasi kalau rakyat terus 
didorong menjadi budak bangsa lain?

Pesawat otopilot

Sepanjang sejarah Republik, belum pernah rakyat ditelantarkan negara seperti 
sekarang. Warga mencuri sandal jepit, pisang, semangka, dan biji kakao hanya 
sedikit gambaran betapa buruk tingkat kesejahteraan. Jangankan sejahtera, 
jaminan rasa aman pun kian sulit didapat. Pembunuhan, perampokan, penculikan, 
pelecehan, dan perkosaan di tempat umum kian marak. Kekerasan atas nama agama 
dan keyakinan terus dibiarkan. Aparat negara sibuk menggendutkan rekening 
sendiri.

Yang disebut sebagai pembangunan kini tak lebih dari urusan memfasilitasi dan 
mendorong kalangan berduit gila berbelanja. Daerah sentra industri berubah 
wajah jadi daerah wisata belanja, dipadati dengan pusat belanja dan factory 
outlet yang memasarkan produk impor. Kawasan industri dan sentra industri kecil 
sepi. Pabrik-pabrik tutup.

Deindustrialisasi memaksa rakyat berjuang menciptakan lapangan kerja sendiri. 
Hampir 70 persen tenaga kerja di sektor informal. Buruh dipaksa menerima upah 
yang bahkan tak cukup untuk makan layak tiga kali sehari.

Arus deras investasi yang dibanggakan pemerintahan SBY kian merampas hak hidup 
rakyat. Yang terjadi di Mesuji dan Bima hanya puncak gunung es konflik agraria 
yang tak pernah diselesaikan. Konsorsium Pembaruan Agraria mencatat: konflik 
agraria meningkat tajam dari 106 kasus (2010) menjadi 163 kasus (2011), 
melibatkan 69.975 keluarga dengan luas areal konflik 472.048,44 hektar. Petani 
tewas meningkat dari 3 orang (2010) jadi 22 orang (2011). Ironis bahwa tanah, 
hutan, dan kekayaan alam diserahkan kepada pihak asing, sementara rakyat yang 
hanya mempertahankan sejengkal lahan dipaksa meregang nyawa.

Program memperbanyak pengiriman TKI yang dijalankan pemerintahan SBY 
sesungguhnya upaya menutupi kegagalan pemerintah membangun sektor pendidikan, 
pertanian, dan industri. Warga didorong bekerja di luar negeri: mayoritas 
pendidikan mereka SMP ke bawah.

Sementara itu, kapasitas dan integritas pemerintah dalam melindungi TKI sangat 
rendah. Pada 2011, misalnya, dari 16.014 TKI berkasus, 72,3 persen pulang 
dengan masa kerja kurang dari enam bulan. Mereka dipulangkan karena kurang 
terampil dan tak lolos tes kesehatan. Bahkan, pemerintah membiarkan perempuan 
hamil dipaksa berangkat. Pada tahun sama, sedikitnya 49.000 TKI diberangkatkan 
tanpa asuransi. Padahal, TKI dibebani biaya sampai Rp 25 juta, termasuk untuk 
asuransi.

Kalau saja pilotnya andal, korupsi bisa diberantas ke akar: anggaran dan 
kekayaan alam benar-benar dikelola demi kemakmuran rakyat dan kita tak perlu 
lagi mengemis pekerjaan dari bangsa lain. Oh, pilot andal untuk rakyat baru 
sebatas doa....

Sri Palupi Ketua Institute for Ecosoc Rights

Kirim email ke