Orang Miskin Dilarang Berobat ke RS Internasional?
Republika 

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Rumah Sakit berstandar internasional bukan rumah 
sakit untuk orang kaya. Rumah Sakit berstandar internasional justru bertujuan 
untuk menghindari pasien yang mampu (kaya,red) agar tidak berobat ke luar 
negeri dan dapat mengcover pasien kelas bawah.
Hal itu dikemukakan Dirjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan  
Supriyantoro pada wartawan usai menghadiri Puncak Peringatan Hari Ulang Tahun 
RSUP Dr Sardjito ke-30, di Ruang Pertemuan Utama RSUP Dr Sardjito, Rabu (8/2). 
"Maksud berstandar internasional itu justru mutu pelayanannya yang berstandar 
internasional dan tidak mengubah menjadi mahal biayanya. Jadi kami ingin 
masyarakat terbawah ikut menikmati pelayanan fasilitas internasional," jelas 
dia. 
Jadi, dia menambahkan, dengan akreditasi JCI ini parameternya ada 1000 lebih 
diantaranya rumah sakit harus mengimplementasikan memberikan kepedulian kepada 
pasien (customer care), keselamatan pasien (patient safety) dan manajemen yang 
baik. 
Di Indonesia ada tujuh rumah sakit pemerintah vertikal di kota besar yang harus 
tersertifikasi badan akreditasi internasional JCI (Joint Comission  
International) yakni RSCM di Jakarta, RSUP Dr Sardjito di Yogyakarta, RS 
Sanglah di Bali, RS Hasan Sadikin di Bandung, RS Wahidin di Makassar dan  RS 
Kariadi di Semarang.
Sekarang rumah sakit di Indonesia yang sudah berstandar internasional dengan 
JCI justru rumah sakit swasta yakni RS Siloam, RS Premiere Jatinegara, RS 
Premiere Bintaro, RS Santosa dan RS Eka. 
"RS Siloam justru menargetkan ada 2000 tempat tidur untuk kelas III. Pada bulan 
Mei 2012 di rumah sakit ini akan diresmikan 300 tempat  tidur untuk kelas 
III,''ungkap Supriy

Kirim email ke