Merpati Airlines kembali terancam bangkrut 
Selasa, 7 Februari 2012 22:37 WIB | 2051 Views

 
Menteri BUMN, Dahlan Iskan (FOTO ANTARA)


Jakarta (ANTARA News) - PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) kembali terancam 
bangkrut jika pada Juni 2012 tidak mendapatkan suntikan dana sebesar Rp250 
miliar.

"Tadi kita rapat dengan jajaran manajemen Merpati membahas kondisi perusahaan. 
Jika pada Juni ini tidak mendapat dana sebesar Rp250 miliar maka perusahaan 
dipastikan `collapse`," kata Menteri BUMN Dahlan Iskan, di Gedung MPR/DPR, 
Selasa.

Menurut Dahlan, manajemen sangat membutuhkan dana tersebut untuk membuat 
operasional perusahaan dapat berjalan dengan stabil.

Diketahui Merpati sebelumnya telah mendapat suntikan dana sebesar Rp561 miliar, 
namun baru diterima pada akhir Desember 2011 padahal seharusnya sudah harus 
diterima pada Juni 2011 sesuai dengan keputusan pemerintah.

Akibatnya, untuk membiayai operasional dan modal kerja, perseroan terpaksa 
melakukan pinjaman yang mengakibatkan bertambahnya utang.

"Ini yang membuat perusahaan kembali mengalami kesulitan keuangan, karena 
rencana-rencana yang ditetapkan manajemen terganggu," ujar Dahlan.

Melihat permasalahan yang dihadapi perusahaan penerbangan "plat merah" itu, 
Dahlan mengatakan Merpati saat ini pada posisi "hidup atau mati".

Namun menurut Dahlan, pada rapat tersebut tercetus tekad seluruh peserta bahwa 
Merpati harus tetap hidup.

"Mereka ingin Merpati tetap `terbang` dan berupaya menyehatkan keuangan 
perusahaan," ujarnya.

Ia mengakui suatu perusahaan BUMN tidak bagus terlalu bersandar pada Penyertaan 
Modal Negara (PMN), namun harus mampu mencari jalan keluar pembiayaan.

"Saya tidak bisa menjamin pemerintah bersedia memberikan suntikan dana dari 
APBN. Karena itu diserahkan sepenuhnya kepada manajemen untuk mencari sumber 
pendanaan. Terserah dari mana...bank atau apalah yang penting bagaimana Merpati 
itu tetap beroperasi," tegasnya.


Dirut Mundur

Pada kesempatan itu Dahlan juga menginformasikan bahwa Dirut Merpati Sardjono 
Jhonny Tjitrokusumo menyatakan mundur dari jabatannya.

"Ini yang juga menjadi ganjalan bagi perusahaan. Niat mengundurkan diri 
kemungkinan karena merasa tidak percaya akan mampu mendapatkan dana Rp250 
miliar," ujarnya.

Namun dengan suara bulat peserta rapat yang terdiri atas manajemen, direksi dan 
komisaris, pemangku kepentingan meminta Jhonny tetap di Merpati.

"Semua bertekad mencari terobosan dengan melakukan efisiensi agar Merpati tetap 
hidup," katanya.

Dahlan mengaku sempat mencoba berpikiran untuk mencari calon pengganti Jhonny, 
namun tidak diperoleh calon yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

"Saya juga berpendapat bahwa Jhonny sebagai pimpinan korporasi harus teguh. 
Saya tidak `sreg` kalau harus ganti-ganti pimpinan," ujarnya.

Dahlan menambahkan, yang penting saat ini adalah bahwa seluruh karyawan sedang 
semangat-semangatnya untuk membangun kembali Merpati agar tetap "survive". 

(T.R017/B012) 
Editor: Ruslan Burhani


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke