LAH ..... SEBAGIAN BESAR ORANG KAYA INDONESIA ITU MENJADI MILLIONER DAN
MILYARDAN (menjadi Kayanya ) adalah kurang lebih dari  HASIL  KORUPSI  ATAU
KARENA MONKEY BUSINESS - termasuk PENYALAH GUNAAN KEDUDUKAN - " NEBENG USAHA
dng memakai NAMA JABATAN  ATAU KEDUDUKAN ", TUNGGU SOGOKAN...dll,dll  .....
jadi BUKAN DAN TIDAK SAMA SEKALI KAYA KARENA USAHA DAN BUSINESS YG SERIOUS
BUSINESS  dalam PENGERTIAN  USAHA YANG 
MEMBUTUHKAN KNOW HOW - DISIPLIN  - KESERIOUSAN DAN BAKAT serta  INTELEKTUIL 
dan  TAHU ETIKA BUSINESS....  DAN LEBIH2  LAGI KEBANYAKAN DARI MEREKA
MEMPUNYAI RASA " PATRIOTISME DAN IQ " YANG TIDAK ATAU JAUH DARI  MEYAKINKAN 
......... 

** LALU BAGIAMANA BISA MELEK INVESTASI .....?? Jika  Matanya selalu terbuka
lebat untuk UANG - tetapi Kepalanya tetap TERTUTUP --- 



  CODE ETHIC DUNIA INTERNET dan JURNALISM 


-------Original Message-------
 
From: [email protected]
Date: 8.2.2012 18:47:20
To: [email protected]
Subject: [inti-net] Orang Indonesia Belum Melek Investasi
 
  
Investasi
Orang Indonesia Belum Melek Investasi
Didit Putra Erlangga Rahardjo | Nasru Alam Aziz

BANDUNG, KOMPAS.com Dibandingkan negara lain di Asia, tingkat kesadaran
warga untuk berinvestasi di Indonesia masih rendah. Tingginya suku bunga
membuat deposito masih menjadi primadona, kalau tidak melalui logam mulia,
yakni emas. 

Hal tersebut terungkap dalam sebuah survei yang dilakukan Nielsen terhadap 4
408 orang kaya dari delapan negara di Asia, seperti Hongkong, Indonesia,
India, China, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Australia. 

Selama Maret-Mei 2011, survei dilakukan kepada responden yang mewakili 10
persen orang yang memiliki aset paling banyak di negaranya masing-masing.
Salah satunya mengenai penempatan aset orang kaya di Indonesia. 

Berdasarkan survei tersebut, deposito mendominasi alokasi uang mereka, yakni
84 persen, sementara investasi saham maupun reksa dana masih rendah atau
sekitar 16 persen. Bila dibandingkan dengan Malaysia, persentase investasi
sudah mencapai 47 persen atau Australia yang lebih banyak dialokasikan untuk
investasi sebesar 52 persen. 

Pada bagan mengenai komponen investasi, Indonesia unggul soal investasi
logam mulia. Hal itu terlihat sewaktu dibandingkan dengan Australia,
Malaysia, Taiwan, maupun Hongkong. Dibandingkan saham maupun reksa dana yang
punya alokasi kurang dari 5 persen, pembelanjaan orang Indonesia untuk logam
mulai mencapai 12 persen. 

Survei tersebut diungkapkan oleh HSBC sebagai bagian dari seminar Economic
Outlook 2012 di Bandung, Jawa Barat, Senin (6/2/2012). 

Dalam seminar yang bakal menghadirkan Sekretaris Komite Ekonomi Nasional
Aviliani dan Head of Wealth Management HSBC Steven Suryana ini akan
mengampanyekan optimisme berinvestasi di negara Asia, khususnya Indonesia. 

Menurut Steven, meski Indonesia masih kurang berkembang dalam investasi
menurut survei tersebut, ada bagan yang menunjukkan bahwa nasabah mereka
sangat tertarik memindahkan uang mereka dari deposito ke investasi.
Ketertarikan tersebut juga dibarengi keingintahuan mengenai cara-cara
berinvestasi. 

”Kami pun berkesimpulan bahwa nasabah di Indonesia mulai melek dan hanya
butuh diberikan pembelajaran saja, ujarnya. 


 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke