Sukur alhamdulillah! Ini sebuah keputusan positif. Tidak perlu meniru sementara 
ex Buruensis alias buangan pulau Puru yang kegemarannya berkeluh kesah meratapi 
nasib sendiri tapi tidak berani mengutuk dan membangkitkan perlawanan terhadap 
para penyiksa mereka dengan sistim Orba abadinya. Bersatu dengan penderitaan 
rakyat dan menyatukan diri berjuang bersama mereka untuk melawan penindasan 
Kapitalis Neoliberal, itu lebih punya kekuatan daripada sendiri-sendiri 
bergundah gulana tak habis-habisnya mengemis  pengampunan musuh yang tak akan 
pernah mereka berikan sambil tak habis-habisnya melemparkan 
"pernyatan-pernyataan" sikap dan tuntutan birokratis. Di Indonesia ada 2 tabu 
besar yang harus selalu diperhatikan:
1. JANGAN MEMUSUHI ISLAM
2. JANGAN BERSIKAP DAN BERTINDAK RASIALISTIS TERHADAP ETNIS TIONGHOA.
Selebihnya pandai-pandailah  membawa diri.
ASAHAN.


  ----- Original Message -----
  From: Lusi D.

  Tionghoa Indonesia, Berhenti Meratapi Masa Lalu

  Penulis : Ruhut Ambarita/Daniel Tagukawi

  JAKARTA - Generasi telah berganti, namun warga negara keturunan
  Tionghoa masih terus dihantui sejarah kelam.

  Perlakuan diskriminasi hingga penistaan puluhan tahun lamanya seolah
  sulit pudar dilekang zaman. Bukan ingin melupakan, namun jangan sampai duka 
itu terus mengungkung sebagai anak bangsa Indonesia.

  Demikian benang merah diskusi "Anatomi Politik Tionghoa" yang digelar harian 
umum Sinar Harapan di Jakarta, Senin (6/2). Diskusi ini
  menghadirkan sejumlah tokoh, akademikus, politikus, birokrat, dan
  pengusaha keturunan Tionghoa.

  “Jangan menangis, jangan meratapi masa lalu. Masalah Indonesia ini
  masalah kita semua. Sekarang tergantung kita. Mau sama-sama berbuat
  atau tidak untuk Indonesia?" kata Hermawi F Taslim dari Komunitas
  Glodok.

  Menurutnya, sekarang ini keturunan Tionghoa Indonesia sama dengan warga   
negara lain. Kalau ada hak sebagai warga negara yang tidak dipenuhi   harus 
diperjuangkan, bukan meratapi masa lalu.

  "Sekarang ini tidak ada satu pun partai yang tidak ada keturunan
  Tionghoa. Kalau ada masalah satu dua kasus soal SKBRI di lapangan,
  misalnya, itu bukan kebijakan tapi karena ketidaktahuan petugas saja," 
tegasnya.

  Peneliti senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Thung   Ju 
Lan mengatakan, bangsa Indonesia, terutama warga Tionghoa, secara   
intelektualitas memiliki persoalan keterputusan generasi akibat   penyingkiran 
terhadap anak-anak bangsa yang terjadi selama rezim   Soeharto.

  Keterputusan hubungan antara generasi tua-muda akibatnya menimbulkan
  krisis identitas di generasi muda yang sulit dihindarkan. Itu mengapa,   kata 
dia, langkah bersama membangun masa depan bangsa masih sulit   dilakukan. 
Generasi muda keturunan Tionghoa, utamanya, masih sulit   melihat dirinya 
sebagai bagian dari Indonesia.

  "Keterputusan ini jika tidak diselesaikan maka akan terus menimbulkan   
trauma. Kita harus mencari jalan keluar dari keterputusan ini," katanya.

  Oleh karena itu, ia mengatakan, bangsa ini harus melahirkan orang-orang   
baru karena membutuhkan generasi muda yang berpikir holistik dan plural.

  Mantan Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat China, Sudrajat
  memandang orang Tionghoa di Indonesia belum berhasil berbaur dengan
  warga Indonesia dari etnis lainnya yang beraneka ragam. Warga keturunan   
Tionghoa yang utamanya tinggal di perkotaan masih mengasingkan diri   dalam 
bingkai eksklusivisme.

  Situasi hubungan sosial seperti itu, menurutnya, terjadi akibat politik   dan 
kekuasaan pada masa lalu yang mengucilkan warga Tionghoa selama   puluhan tahun 
lamanya, sehingga tak ada banyak pilihan selain berdagang   dan membangun 
komunitas sendiri. Bangsa ini gagal membangun integritas yang multimajemuk, 
katanya.

  Pencabutan aturan yang tercipta semasa rezim Soeharto untuk mengucilkan   
warga Tionghoa di Indonesia pun belum mampu mengembalikan kepercayaan.
  Karena itu Sudrajat berharap, "(Mari) kita melupakan peristiwa masa
  lalu untuk mengantarkan (bangsa) seperti situasi pada saat ini."

  Bukan Seragam

  Hal senada dikatakan Harry Tjan Silalahi dari Centre for Strategic and   
International Studies (CSIS). Ia mengatakan, warga Tionghoa di
  Indonesia harus berhenti meratapi luka pada masa lalu. Krisis
  kebangsaan dan kemiskinan saat ini merupakan ancaman nyata yang terus   
menggerus nilai-nilai kebangsaan dan kebhinekaan.

  Warga Tionghoa, kata Harry, harus mengambil kesempatan memperkuat
  nilai-nilai kebangsaan dan kebhinekaan, serta menjawab keterpurukan
  ekonomi yang tengah dialami bangsa. "Kita harus menjadi bagian dari
  penyelesaian problem bangsa ini," kata pria bernama asli Tjan Tjoen Hok   itu.

  Namun, kata Harry, ada tiga faktor yang dapat membuat hal itu terjadi.
  Pertama adalah meninggalkan nilai-nilai primodialisme primer dengan
  menegakkan keadilan sosial. Nilai-nilai persatuan dan kesatuan harus
  dikedepankan, bukan keseragaman. "Unity not uniformity," ujarnya.

  Faktor terakhir, kata Harry, warga Tionghoa harus menularkan secara
  nyata nilai-nilai luhur Tionghoa, seperti rajin, tekun, setia kawan,
  dan melayani orang lain. "Hal itu yang kini dilupakan," ujarnya.
  Menurutnya, kontribusi warga Tionghoa terhadap bangsa ini harus
  dibuktikan dan kemudian ditunjukkan kepada warga Indonesia lainnya.

  Senada dengan Harry, CEO Global Nexus Institute, Christianto Wibisiono   
mengatakan, warga Tionghoa sebaiknya berhenti atau jangan lagi   mempersoalkan 
masa lalu. Bangsa Indonesia harus dapat memberi contoh   kepada bangsa-bangsa 
di seluruh dunia.

  Di sisi lain, kata Christianto, presiden Indonesia pada masa mendatang harus 
dapat mengantarkan proses rekonsiliasi bangsa ini dengan sejarah masa lalunya 
yang kelam sebagai bangsa yang bermartabat dan berjiwa  besar.

  Menurutnya, dari presiden pertama sampai keenam tentu memiliki
  kelebihan dan kekurangan. Jadi, tidak ada presiden yang baik semua atau  
buruk semua. Presiden ketujuh nanti, katanya, harus figur yang memiliki visi 
menuju Indonesia bermartabat.

  "Tidak bisa dengan politik dinasti, oligarki, dan kartel politik. Tapi,   
kita butuh figur yang mampu memimpin Indonesia dan memimpin Asia   Tenggara," 
tegasnya.

  Aimee Dawis dari FISIP UI menuturkan, setelah 1998 ada banyak kemajuan   di 
berbagai bidang yang dialami warga Indonesia keturunan Tionghoa.
  Misalnya, organisasi keturunan Tionghoa tumbuh sangat pesat karena
  mencapai 300-500 organisasi.

  Organisasi itu bergerak di bidang sosial, seni, dan sebagainya. "Tidak   ada 
lagi persoalan untuk berekspresi, misalnya melalui musik, seni,   serta usaha. 
Begitu juga dengan pendidikan yang berkembang sangat  pesat," ia menjelaskan.

  Namun, Aimee melihat peranan kaum perempuan keturunan Tionghoa dalam
  pembangunan bangsa perlu mendapat perhatian. "Namun, ada sejumlah tokoh   
perlu menjadi teladan, seperti Mari Elka Pangestu dan Susi Susanti," katanya.

http://kompasnewsupdates.blogspot.com/

Kirim email ke