Kelas Menengah di Asia
Penulis : Akira Moretto*

 Salah satu fenomena paling penting abad 21 adalah kebangkitan dari warga kelas 
menengah di Asia. Kelompok strata sosial ini mendapatkan perhatian yang cukup 
besar, tidak hanya karena jumlah keseluruhannya yang besar, tetapi disebabkan 
juga oleh peningkatan jumlah penduduk kelas menengah ini yang semakin meluas.
Meskipun perkiraan akan jumlah dari kelas ini bervariasi, menurut Bank Dunia 
(2007), warga kelas menengah Asia tercatat hanya 1,4 persen dari populasi 
penduduk dunia di tahun 2000, namun begitu pada 2030 kenaikan tersebut 
diperkirakan akan terus meningkat mendekati angka 9 persen.

Sebagai tiga negara terbesar di kawasan Asia dan dunia, China, India dan 
Indonesia mempunyai porsi yang cukup besar akan jumlah warga kelas menengah 
baru di Asia.

Hal ini tidak mengherankan karena ketiga negara tersebut merupakan pemain utama 
di kancah regional dan global dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial, serta 
memiliki angka pertumbuhan pendapatan nasional (GDP) mereka yang sangat 
fenomenal.

Fakta lain yang dapat diambil dari bangkitnya kelompok kelas menengah ini 
adalah kenyataan bahwa mereka sekarang termasuk dalam golongan yang diinginkan 
dari para pembuat kebijakan ekonomi dan kelompok bisnis untuk terus bertambah, 
terutama sebagai pembayar pajak dan konsumen.

Banyak dari para pembuat kebijakan dan ekonom yang mulai membayangkan seberapa 
besar peran yang akan dimainkan oleh kelas menengah Asia ini pada dekade 
mendatang untuk membantu perekonomian global keluar dari krisis yang melanda 
saat ini.

Menurut definisi internasional, seseorang dari golongan sosial menengah 
diperkirakan memiliki pendapatan tahunan lebih dari US$ 3.000 atau sekitar US$ 
8 setiap hari. Apabila kita mengambil Indonesia sebagai salah satu contohnya, 
sejumlah tersebut dapat mencukupi lebih dari kebutuhan dasar hidup sehari-hari.

Selanjutnya, menurut Nomura, sebuah bank investasi Jepang, kelas menengah 
sosial Indonesia tumbuh sampai dengan 50 kali lipat dari tahun 2004 dan 2010, 
atau dengan kata lain, meningkat dari 1,6 juta ke lebih dari 50 juta orang.

Beberapa prediksi juga memproyeksikan bahwa kaum kelas menengah Indonesia akan 
tumbuh sampai dengan 150 juta pada 2014. Hal ini tentu saja akan membuat pihak 
pengelola pajak, pelaku bisnis dan penyedia layanan jasa di Indonesia 
bersukacita, bahkan apabila kenaikan tersebut hanya setengah dari angka yang 
diramalkan.

Walaupun jumlah kelas menengah tersebut relatif mudah diperkirakan, berbagai 
studi yang dilakukan oleh badan-badan internasional menunjukkan bahwa hal 
tersebut tidak selalu mewakili golongan tertentu yang memiliki kemiripan 
karakteristik atau pun nilai-nilai tersendiri.

Sebagai konsumen, kaum menengah ini akan membelanjakan uang untuk barang-barang 
kebutuhan yang masih logis atau wajar pada saat pendapatan baru secara teratur 
mengalir ke pundi-pundi uang mereka. Sebagian di antaranya termasuk lemari es, 
televisi, mesin pendingin (AC), dan music stereo.

Di samping itu, kelompok ini juga memanfaatkan lebih banyak waktu luang mereka, 
pergi ke bioskop, lebih sering makan di restoran dan juga bepergian, selain 
membeli lebih banyak barang untuk hadiah atau pun suvenir. Oleh karena itu, 
pihak wiraswasta dan pencetus inovasi lebih sering membidik kelas menengah 
tersebut sebagai sasaran utama produk-produk mereka.

Lebih Berpendidikan

Pada umumnya, warga strata sosial ini lebih berpendidikan dan mempunyai 
kecenderungan melakukan investasi di bidang pendidikan dan sekolah bagi 
anak-anaknya.

Lebih lanjut lagi, mereka memandang sumber daya manusia seperti pendidikan, 
pengetahuan termasuk juga tabungan, merupakan hal penting bagi mereka yang pada 
kenyataannya perilaku-perilaku seperti ini cukup dapat menopang pertumbuhan 
ekonomi suatu negara.

Kelompok menengah faktanya merupakan bagian dari masyarakat yang seringnya 
bersedia membayar ekstra untuk produk-produk yang berkualitas lebih tinggi, 
yang pada akhirnya mampu mendorong permintaan untuk barang-barang kebutuhan 
berkualitas tinggi.

Dengan demikian, seiring pertumbuhan jumlah kelompok kelas menengah ini, 
investasi di bidang pengetahuan atau sumber daya manusia juga meningkat.

Tentu saja, sekilas banyak dari karakteristik-karakteristik tersebut dapat 
diasosiasikan terhadap penduduk kelas menengah Indonesia, dan seiring 
meningkatnya jumlah kelompok ini, gambaran di atas tercermin dalam 
keluarga-keluarga kelas menengah yang baru.

Poin penting selanjutnya, bagaimana untuk mempertahankan kebangkitan dari 
kelompok ini merupakan faktor yang sangat krusial bagi Indonesia, terutama 
dalam sudut pandang yang baik.

Selama ini peningkatan di sektor konsumsi secara keseluruhan didorong dari 
pasar domestik, sehingga perubahan atau sentimen yang terjadi di pasar global 
memberikan efek yang cukup kecil di Indonesia. Peningkatan tersebut kemungkinan 
akan terus berlangsung terlepas dari apa pun yang akan terjadi di Yunani, 
Negara Kawasan Pengguna Euro atau pun Amerika.

Walaupun kebangkitan kelas menengah tersebut merupakan hal yang patut 
disyukuri, hendaknya perhatian terhadap golongan masyarakat miskin sebagai 
mayoritas penduduk dunia tidak dikesampingkan begitu saja.

Di Indonesia, tingkat kemiskinan – di mana orang hidup dengan US$ 1 per hari - 
masih sekitar 14 persen dari jumlah keseluruhan penduduk yang masih membutuhkan 
perhatian sangat besar.

Apakah nantinya akan muncul efek kemakmuran “menetes ke bawah” ketika para 
kelompok kelas menengah tersebut mendirikan usaha-usaha kecil dan mempekerjakan 
karyawan dari kaum yang lebih miskin? Dapatkah pemerintah, seperti yang ada di 
Indonesia, sungguh-sungguh menjangkau keluarga-keluarga miskin tersebut, yang 
mungkin tidak mampu memanfaatkan efek kemakmuran yang tercipta?

Tentu saja, tantangan akan ketidaksetaraan di Indonesia tetap ada dan banyak 
hal yang dapat dilakukan dalam rangka usaha mendistribusikan kesejahteraan 
seperti yang diungkapkan sebelumnya.

Sekali lagi, kebangkitan kelas menengah Indonesia merupakan fenomena baru  yang 
disambut baik oleh semua pihak, sehingga untuk seterusnya marilah berharap 
bahwa hal ini akan menjadi komponen penting untuk membantu perbaikan hidup bagi 
warga golongan miskin.

*Penulis adalah Wakil Kepala Bagian Penelitian di PT Strategic Asia, memberikan 
konsultasi untuk memajukan kerja sama antara negara-negara Asia.
http://kompasnewsupdates.blogspot.com/

Kirim email ke