Bekukan Pengurus FPI

SAMPIT - Gelombang penolakan warga Kalteng terhadap ormas FPI di Bumi Tambun 
Bungai terus berlanjut. Setelah aksi massa turun ke jalan di Kota Palangka Raya 
dan Kuala Kapuas saja, giliran warga Kota Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim) 
yang bereaksi keras. Bahkan, mereka meminta kepengurusan FPI Kotim yang sempat 
dijadwalkan akan dilantikan untuk dibekukan. 

Tak hanya menolak FPI, menurut Ketua Harian DAD Kotim Hamidhan Ij Biring 
mengatakan, pihaknya juga menolak kedatangan Ketua FPI Pusat ke Kota Mentaya 
itu, meskipun hanya melakukan ceramah. "Kalau cuma kemaulidtan keagamaan tetap 
dilaksanakan besok (hari ini, red), namun masyarakat tidak ingin FPI ada di 
Kotim," kata Hamidhan kepada Kalteng Pos, kemarin (12/2). 

Meski warga menolak ada FPI di Kotim dan tidak mengharapkan kehadiran ketuanya 
dalam kapasitas sebagai penceramah, namun dia menghimbau kepada masyarakat 
Kotim agar bisa menjaga ketertiban dan keamanan. "Masing-masing diharapkan bisa 
menahan diri, agar tidak berbuat anarkis," katanya. 

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Jami H Said Alwi Hasan tempat dimana rencana 
ketua FPI Pusat berceramah membenarkan bahwa, Habib Rizieq batal datang ke 
Sampit. Namun khusus untuk acara malam Maulid peringatan Nabi Besar Muhammad 
SAW, masih tetap dijadwalkan pada hari ini. 

"Katanya beliau (Habib Riziek, Red) sedang sakit," ujar Said Alwi Hasan 
kemarin. Menurutnya, mereka juga sudah mencari penggantinya. "Rencananya kita 
akan mendatangkan Habib Hasan dari Palembang untuk memberikan ceramah di malam 
maulidtan nanti. Intinya yang diganti cuma penceramahnya saja," jelasnya. FPI 
tampaknya tidak akan tinggal diam dengan penolakan warga Kalteng ini. 

Ketua Bidang Advokasi FPI Munarman mengatakan, pihaknya akan melakukan 
perlawanan secara hukum. Mereka sedang mengumpulkan alat bukti. Di antaranya, 
adanya rapat yang dilakukan di rumah betang kompleks Kantor Gubernur Kalteng. 

Menurutnya, FPI telah menjadi korban, karena dilarang memasuki wilayah yang 
sejatinya adalah bagian dari NKRI. Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang SH 
terkesan sangat berhati-hati menanggapi masalah itu. "Saya hanya melaksanakan 
tugas dan tanggung jawab untuk memelihara keamanan bersama dengan MUI dan 
organisasi keagamaan dan FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragam, Red) serta 
aparatur keamanan," tulis Teras pada pesan singkat yang dikirimkan ke Kalteng 
Pos, Minggu (12/2) kemarin. 

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin juga angkat 
bicara. Din meminta kepada setiap ormas agama yang ada saat ini sebaiknya tidak 
mengedepankan kekerasan. "Saya tidak menilai kelompok demi kelompok. 

Namun tiap kelompok manapun jangan terjebak pada kekerasan karena kita harus 
menolak segala bentuk kekerasan," ujar Din di sela-sela perayaan puncak World 
Interfaith Harmony Week di gedung Nusantara IV, kompleks Parlemen, Jakarta, 
kemarin. 

Din menyatakan, setiap kelompok ataupun ormas memiliki hak untuk hidup di 
negeri ini. Setiap kelompok ormas juga memiliki hak berjuang di negeri ini. 
Hanya saja, syaratnya, tiap kelompok manapun jangan terjebak pada kekerasan. 
Terutama kepada ormas-ormas agama, Din menilai sejarah membuktikan bahwa 
keberadaannya telah memberikan kebaikan. 

Ormas agama yang tidak melakukan kekerasan, kata Din, telah berorientasi kepada 
pemberdayaan masyarakat. "Tidak hanya NU (Nahdlatul Ulama) atau Muhammadiyah, 
banyak ormas yang sudah berperan untuk bangsa dan negara (tanpa kekerasan)," 
jelasnya Hal senada disampaikan lima ormas yang tergabung dalam Forum Pemuda 
dan Mahasiswa Muslim Peduli Perdamaian Kalimantan Tengah (PPMMPPKT) menilai 
penolakan terhadap FPI di Bumi Tambun Bungai ini adalah hal yang wajar dalam 
alam demokrasi. 

Apalagi jika penolakan dengan menegakan etika dan rambu-rambu hukum, serta 
menggunakan cara-cara yang menghindari adanya kekerasan dan tindakan anarkisme. 
Sebab jika ada kekerasan atau anarkisme, maka sangat berpotensi menimbulkan 
keresahan di tengah masyarakat luas. 

Untuk itu, kelima ormas yang terdiri dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), 
Angkatan Muda Islam Indonesia (AMII) Kalteng, Pergerakan Mahasiswa Islam 
Indonesia (PMII), Dewan Pimpinan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) 
Kalteng, dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) itu menyampaikan 
tiga butir penyataan sikap. 

Pertama, menolak segala tindakan anarkis dan tindakan provokasi yang 
mengatasnamakan apa pun di Bumi Tambun Bungai. Kedua, agar masyarakat bisa 
lebih menahan diri dan tidak mudah terpancing isu-isu yang dapat mengancam 
perdamaian masyarakat. 

Berikutnya, kepada kepada aparat keamanan dapat melakukan langkah deteksi dini 
terhadap berbagai ancaman yang dapat mengganggu keamanan dan perdamaian 
masyarakat luas. Pernyataan sikap ditandatangani Heri Suroso (HMI), Heri Fauzi 
(AMII Kalteng), Al-Kustari (PMII), Priyono (IMM Kalteng) dan Abdul Aziz 
(KAMMI). (ala/yon/ron/jpnn)

Senin, 13 Februari 2012 12:17:34 WIB
http://www.kaltengpos.web.id/?menu=detail_atas&idm=5996

Kirim email ke