Editorial Berdikari Online] Politisi Zombie

Menurut kepecayaan rakyat (dalam artikel ini) "Zombie" hanya bisa dibasmi 
dengan "MENGHANCURKAN BADAN ZOMBIE" itu sendiri. Saya percaya dengan metode 
kepercayaan rakyat itu, jadi bukan hanya dengan "massa aksi" karena "massa 
aksi"ini sudah cukup kita kenal "aksi-aksinya"di jaman Sukarno bersekutu dengan 
PKI. Hasilnya?. Justru Sukarno dan PKI yang dibasmi oleh suharto karena si 
"Zombie"(suharto) punya senjata tajam dan ampuh sedangkan Sukarno dan PKI hanya 
mempunyai mulut untuk teriak-teriak melantangkan semboyan-semboyan "revolusi" 
yang selalu direkam oleh para jendralnya suharto untuk pada waktu yang 
tepat(Oktober 65) semua pelaku-pelaku "aksi massa" yang hanya bermodal daging 
dan mulut itu masuk kemulut "Zombie"(suharto) sesudah dipotongi dan dijebloskan 
ke penjara-penjara dan buangan.

Jadi kita sebaiknya percaya kepada kepercayaan rakyat bahwa "Zombie"harus 
dihancurkan badannya sama sekali dengan alat penghancur yang paling ampuh dan 
pasti: revolusi, senjata dan Partai Pelopor plus kekuatan rakyat.
ASAHAN.



  ----- Original Message ----- 
  From: ulfha 
  To: [Editorial Berdikari Online] Politisi Zombie

  Politisi Zombie
  Rabu, 22 Februari 2012 |Editorial Berdikari Online

  Anda tahu tentang Zombie? Ia dalam sebutan untuk mayat hidup dalam 
  sistem kepercayaan Voodoo. Konon, dalam kisah-kisah rakyat yang 
  tersebar, zombie adalah manusia yang rohnya sudah dicuri secara 
  supranatural dan kemudian dipekerjakan sebagai budak oleh "majikan 
  zombie".

  Dalam versi yang lain, zombie diceritakan sebagai mayat tak berotak dan
  selalu tunduk pada keinginan majikan. Lebih parah lagi, zombie juga 
  menyerang dan memakan daging manusia. Dalam film-film, zombie 
  menyebarkan penyakit kepada orang sehat melalui cakaran dan gigitan. Ia 
  hanya dapat dihentikan jikalau tubuh zombie dihancurkan.

  Tetapi, saat ini, zombie tidak hanya menjadi kisah rakyat atau 
  film-film. Dalam perpolitikan Indonesia akhir-akhir ini, kita pun 
  menemukan tipikal politisi berkarakter zombie: politisi bermental budak,
  politisi yang tidak punya keberpihakan kepada rakyat (kemanusiaan), dan 
  politisi yang suka `memakan' rakyatnya sendiri.

  Indonesia adalah contoh terbaik politik zombie. Di negeri ini, anda 
  bisa melihat ketundukan tanpa batas para politisi kepada kekuatan dari 
  luar: imperialisme. Padahal, imperialisme itu telah mengorbankan 
  kepentingan rakyat.

  Lihat apa yang dikerjakan pemerintah sekarang ini: menjalankan 
  liberalisasi perdagangan, mencabut subsidi sosial, memprivatisasi BUMN 
  dan layanan publik, menerapkan pasar tenaga kerja yang fleksibel, 
  meliberalkan investasi asing, dan lain sebagainya.

  Seluruh kebijakan itu merugikan kepentingan nasional. Kita pun
  berhadapan dengan `horror' luar biasa: kemiskinan meluas,
  pengangguran meningkat, industri dalam negeri hancur, kekayaan nasional
  dikuasai oleh segelintir kapitalis asing, rakyat tidak bisa mengakses
  layanan atau kebutuhan dasar, dan lain-lain.

  Rejim yang berkuasa saat ini adalah zombie. Ia tidak bisa lagi 
  membedakan mana kepentingan asing dan mana kepentingan nasional. Ia juga
  tak lagi punya kepedulian menjalankan konstitusi negara: UUD 1945. 
  Rejim sekarang adalah mayat hidup yang dikendalikan oleh `majikan 
  zombie': imperialisme.

  Di hadapan rejim zombie ini, negara tidak lagi menjadi alat untuk 
  memperjuangkan kesejahteraan, melainkan sebagai horror (alat kekerasan 
  dan teror) untuk menghentikan perlawanan rakyat. Selebihnya, negara 
  diarahkan untuk melayani tujuan-tujuan imperialis: melegalisasi
  imperialisme.

  Politik zombie itu terus menular di hampir semua institusi negara. Di 
  parlemen, hampir semua politisi, kendati berasal dari beragam partai 
  politik, memiliki suara yang sama dalam mengesahkan berbagai UU 
  pro-neoliberal.

  Di eksekutif, mulai dari pusat hingga daerah, hampir semua terjangkiti
  politik zombie. Pemerintah kita, dari pusat hingga daerah, hanya
  menjadi pelayan dari kepentingan imperialisme dan kapitalis lokal. 
  Mereka tidak segan-segan mengeluarkan regulasi untuk mendukung 
  kepentingan tersebut, bahkan jika regulasi itu membunuh rakyatnya 
  sendiri.

  Di ranah penegak hukum, rasanya kita sulit menemukan penegak hukum yang
  tidak terkena penyakit zombie: mengabdi kepada uang, suka memakan 
  hak-hak rakyat kecil, dan buta hati terhadap nilai-nilai keadilan. 
  Politik zombie juga nampak dari praktek korupsi yang terus berkembang di
  kalangan politisi dan pejabat negara. Para politisi dan pejabat korup 
  itu sudah tidak punya rasa malu sebagai "koruptor".

  Politik zombie juga hadir di tengah-tengah media massa. Mereka 
  mempromosikan sebuah kebudayaan yang mengubah kaum muda menjadi
  "mayat mati" dihadapan konsumerisme dan konsumtifisme. Lembaga
  pendidikan kita juga mulai terjangkiti oleh horror zombie ini. Lihatlah
  bagaimana pendidikan tidak lagi mengabdi kepada kemanusiaan, tetapi
  mulai mengabdi sepenuhnya pada logika modal: akumulasi keuntungan.

  Politik zombie ini harus dihentikan. Tetapi politik zombie ini bisa 
  dihancurkan dengan mobilisasi rakyat yang sadar atau-meminjam
  istilah Bung Karno-"massa aksi". Oleh karena itu, tugas kita
  adalah membangkitkan "massa aksi". Dengan kekuatan "massa
  aksi" itu, kita merebut kekuasaan politik. Pada titik itulah,
  kekuasaan politik itu kita pergunakan untuk kepentingan rakyat.

  Anda dapat menanggapi Editorial kami di: [email protected]

  http://www.berdikarionline.com/editorial/20120222/membicarakan-politik-z\
  ombie.html

Kirim email ke