Refl: Bahasa Inggris atau Mandarin adalah bahasa duniawi bukan bahasa masa 
depan, sebab setelah hayat meninggalkan badan diperlukan bahasa .... untuk 
kehidupan kekal. Bahasa apakah itu?

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/bahasa-masa-depan-inggris-atau-mandarin/

22.02.2012 16:53

Bahasa Masa Depan: Inggris Atau Mandarin? 
Penulis : Dina Damayanti   

 (foto:dok/bbc.co.uk)
SINGAPURA - Bahasa Inggris telah menjadi bahasa yang mendominasi secara global 
selama satu abad lamanya. Tapi apakah bahasa Inggris akan menjadi bahasa masa 
depan? Jika Bahasa Mandarin ingin bertarung melawan bahasa Inggris secara 
global, maka bahasa Mandarin harus menaklukkan ‘halamannya’ sendiri, yaitu 
negara-negara Asia Tenggara.

Di Johor Bahru, Malaysia, keinginan untuk lancar berbicara dalam bahasa Inggris 
membuat sejumlah anak harus menempuh perjalanan panjang selama dua jam menuju 
sekolah setiap harinya.

Aw Yee Han yang baru berusia 9 tahun, harus menumpang mini van kuning pada 
pukul 4.30 pagi. Paspornya dimasukkan kedalam kantong kecil yang digantungkan 
di lehernya. Ini akan membuatnya mudah memperlihatkan paspornya kepada petugas 
imigrasi ketika ia melintasi perbatasan Malaysia.

Sekolahnya terletak di negeri tetangga, Singapura, yang berbeda dengan 
Malaysia, dimana bahasa Inggris menjadi bahasa utama.

Pergi sekolah di pagi buta memang sungguh berat, namun sang ibu Shirley Chua 
berpendapat langkah ini sepadan dengan hasil yang diperoleh putranya.

”Ilmu pengetahuan dan matematika semuanya ditulis dalam bahasa Inggris sehingga 
sangat penting bagi anak saya untuk fasih berbahasa Inggris,” katanya kepada 
BBC.

Asumsi bahwa bahasa Mandarin akan berkembang sejalan dengan naiknya 
perekonomian China mungkin tak sepenuhnya benar. Contohnya Jepang yang telah 
mencatat pertumbuhan ekonomi luar biasa pascaperang yang menjadikannya negara 
kedua dengan perekonomian terbesar di dunia. Nyatanya, bahasa Jepang tetap 
tidak bisa menunjukkan kekuatan dan prestisnya.

Hal yang sama mungkin akan dialami bahasa Mandarin. Sistem penulisan 
berdasarkan karakter membutuhkan kerja keras selama bertahun-tahun untuk 
mempelajarinya, bahkan bagi orang China sekalipun, dan ini menjadi kendala 
terbesar bagi orang asing untuk mempelajarinya. Di Asia, dimana pengaruh China 
telah berlangsung selama ribuan tahun, mungkin ini tidak terlalu menjadi 
kendala. Namun bagi dunia barat, bahkan siswa berdedikasi sekalipun harus 
menghabiskan waktu bertahun-tahun sebelum mereka bisa dengan percaya diri 
membaca teks dengan tingkat kesulitan normal mengenai masalah tertentu.

Banyak bahasa di Asia, Afrika dan di Amazon menggunakan ‘nada’ (tinggi, rendah, 
datar atau kontur nada) untuk membedakan kata-kata yang berbeda. Bagi penutur 
bahasa nada seperti Vietnam, belajar nada dalam bahasa Mandarin tidak akan 
banyak mengalami kesulitan. Namun bagi penutur bahasa non-nada harus berjuang 
untuk membedakan nada saat usia dewasa sangatlah sulit.

Penting
Setiap hari, tak kurang dari 15.000 siswa dari sebelah selatan Johor naik bus 
yang sama untuk melintasi perbatasan. Kelihatannya seperti angka yang luar 
biasa, namun sejumlah orangtua tidak mempercayai system pendidikan di Malaysia. 
Mereka khawatir jika nilai Bahasa Inggris akan menurun di negeri jiran itu.

Sejak merdeka dari penjajahan Inggris di tahun 1957, Malaysia menutup 
sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa Inggris. Di awal tahun 1980-an, 
mayoritas siswa mempelajari bahasa nasional Melayu.

Hasilnya, pengamat mengatakan jika lulusan Malaysia semakin sedikit yang 
bekerja di sektor IT.

“Kami menyaksikan penurunan yang drastis dalam standar penggunaan Bahasa 
Inggris di negeri kami, tidak hanya diantara pelajar tapi saya kira juga 
diantara para guru,” kata pengamat politik Ong Kian Ming.

Mereka yang yakin bahwa bahasa Inggris penting bagi masa depan anak-anak 
mereka, akan mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah swasta mahal ataupun ke 
sekolah di Singapura, dimana pemerintah negeri Singa itu disebut berwawasan 
maju dengan mengadopsi bahasa bekas penjajahnya. Hampir tiga perempat populasi 
di Singapura adalah beretnis China namun bahasa Inggris menjadi bahasa nasional.

Banyak yang percaya bahwa penggunaan bahasa Inggris telah menjadikan negeri 
kota ini disebut sebagai tempat yang paling mudah untuk melakukan bisnis, 
seperti dikatakan Bank Dunia.

Meski demikian, dominasi bahasa Inggris kini mulai terdesak dengan kebangkitan 
bahasa China di Singapura.

Kepentingan Bisnis
Selama beberapa tahun belakangan ini, Singapore Chinese Chamber Institute of 
Business telah menambah kelas bahasa China untuk kepentingan bisnis.

Para siswa diajarkan bahasa Mandarin ketimbang berbicara dengan dialek Hokkian 
oleh para imigran China yang lebih tua.

Kursus-kursus semacam ini terbukti popular, terlebih sejak pemerintah Singapura 
mulai memberikan subsidi bagi warga Singapura yang ingin belajar bahasa China 
di tahun 2009 saat terjadinya krisis finansial global.

“Pemerintah terdorong memberikan mereka sebuah kesempatan untuk meningkatkan 
kemampuan diri mereka demi mempersiapkan diri menghadapi krisis ekonomi,” sahut 
juru bicara Singapore Chinese Chamber, Alwyn Chia.

Sejumlah pengusaha ada yang bersusah payah mencari penutur bahasa China.

Lee Han Shih, yang menjalankan perusahaan multimedia, mengatakan kalau bahasa 
Inggris menjadi kurang penting baginya secara ekonomis karena ia mengajak para 
kliennya dari negara barat untuk membuka usaha di China.

“Sangat jelas bahwa Anda perlu mempelajari bahasa Inggris, namun Anda juga 
perlu mengetahui bahasa China,” sahut Lee.

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi China, Lee yakin bahwa bahasa Mandarin akan 
mengambilalih dominasi bahasa Inggris. Ia mengaku sudah mulai melihat 
tanda-tandanya.

“Turunnya pemakaian bahasa Inggris mungkin akibat menurunnya nilai tukar dolar 
Amerika. Jika yuan akan menjadi mata uang cadangan berikutnya maka Anda harus 
belajar bahasa China.”

Apalagi, imbuhnya, kini semakin banyak tempat seperti Brasil dan China yang 
melakukan bisnis dalam mata uang yuan bukan dolar Amerika, sehingga penggunaan 
bahasa Inggris semakin berkurang.

Bilingual
Kini pengaruh China mulai bertumbuh di Asia Tenggara, menjadikannya sebagai 
kawasan utama untuk menjalin mitra bisnis.

Tapi untuk mengatakan bahwa bahasa Mandarin akan menandingi bahasa Inggris 
“sedikit berlebihan”, kata Manoj Vohra, direktur Asia di Economist Intelligence 
Unit.

Bahkan perusahaan-perusahaan di China, yang lebih memilih beroperasi di China, 
mencari manajer-manajer yang mampu berbahasa Mandarin maupun Inggris jika 
mereka ingin mengembangkan bisnis di luar negeri, katanya.
 
“Peran mereka untuk menjembatani.”

Jadi masa depan bahasa Inggris bukanlah mempertanyakan apakah bahasa Inggris 
akan digantikan bahasa Mandarin, tapi apakah bahasa Inggris akan berjalan 
beriringan dengan bahasa China, kata Vohra.

Ia percaya bahwa bahasa bilingual akan berjaya di Asia Tenggara.

Kebebasan
Namun di Vietnam, ada penolakan untuk belajar bahasa Mandarin.

Negeri ini memang berbatasan dengan China, namun pilihan pemerintah Vietnam 
untuk tidak melihat pentingnya bahasa Mandarin adalah langkah emosional, sahut 
ekonom terkemuka Le Dang Doanh.

Banyak orang Vietnam yang telah kehilangan anggota keluarganya saat perang, 
kini belajar di Amerika, sahutnya.

“Kami tidak akan pernah melupakan para korban yang gugur di masa lalu, tapi 
demi kepentingan industrialisasi dan normalisasi negara ini, Vietnam harus bisa 
berbicara dalam bahasa Inggris.”

Pemerintah Vietnam memiliki tujuan ambisius untuk memastikan bahwa semua anak 
muda yang lulus sekolah di tahun 2020 bisa memahami bahasa Inggris dengan baik.

Tidak sulit bagi anak muda Vietnam untuk menerima bahasa Inggris. Bagi sebagian 
anak muda di sana, bahasa Inggris menawarkan kebebasan di Vietnam karena 
satu-satunya partai komunis yang berkuasa tetap mengawasi dengan ketat semua 
media yang terbit di negeri itu.

Di sebuah lapangan publik di pusat kota Hanoi, sekelompok anak muda melakukan 
break-dancing mengikuti irama musik hip hop. Ngoc Tu (20) mengatakan bahwa 
dirinya hanya mendengarkan musik berbahasa Inggris.

“Menteri Kebudayaan telah melarang banyak lagu Vietnam dan semua publikasi 
budaya yang berkaitan dengan kebebasan atau pemberontakan, tapi… lagu-lagu 
berbahasa Inggris tidak disensor.”

Tetap Populer
Masih menjadi perdebatan apakah bahasa Inggris ataukah Mandarin yang akan 
mendominasi Asia Tenggara di masa datang. Di sisi ekonomi, pemakaian kedua 
bahasa ini masih diperdebatkan. Namun secara budaya, tidak ada ada masalah.

Bahkan pecinta bahasa Mandarin seperti pengusaha asal Singapura, Lee, 
mengatakan bahwa bahasa Inggris akan tetap populer selama Hollywood masih ada.

Kesuksesan film-film seperti 'Kung Fu Panda', produksi Amerika yang 
menceritakan binatang asli China, telah menimbulkan banyak kegelisahan di 
negeri tirai bambu itu, sahutnya.

Sebelumnya, sudah banyak film kartun yang dibuat di China yang mengangat kisah 
panda, namun tidak ada yang mencapai kesuksesan secara komersial, tambah Lee.

”Ketika 'Kung Fu Panda' diputar di bioskop semua orang menontonnya. Mereka 
membeli cenderamatanya dan mereka belajar bahasa Inggris.”



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke