Dahlan hampir lewati masa krisis cangkok hati 
Rabu, 29 Februari 2012 23:58 WIB | 2500 Views

 
Meneg BUMN, Dahlan Iskan (FOTO ANTARA)


Jakarta (ANTARA News) - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku deg-degan menjelang 6 
Agustus 2012 karena pada tanggal tersebut genap 5 tahun menjalani masa cangkok 
hati.

"Lima tahun merupakan masa kritis. Jika kurun waktu tersebut terlewati maka 
Insya Allah saya selamat," kata Dahlan di Istora Senayan, Jakarta, Rabu sore.

Di sela-sela peluncuran tiga bukunya yang diterbitkan Kompas Gramedia berjudul 
"Dua Tangis Ribuan Tawa", "Ganti Hati: Tantangan Jadi Menteri" dan "Tidak Ada 
Yang Tidak Bisa", Dahlan mengatakan bahwa dirinya ibarat menghitung hari.

Pada peluncuran buku itu Dahlan menjadi narasumber dengan menghadirkan mantan 
Wapres Jusuf Kalla, Komisaris Bank BCA Raden Pardede dan wartawan senior Kompas 
Budiarto Shambazy.

Saat membahas buku "Cangkok Hati: Tantangan Menjadi Menteri", Dahlan 
mengisahkan dirinya pernah memberi pertolongan kepada seorang kenalan untuk 
menjalani operasi di salah satu rumah sakit di Singapura.

"Saya memberi jaminan kepada pihak rumah sakit untuk operasi tersebut. Operasi 
berlangsung lancar, namun tidak lama kenalan saya itu akhirnya meninggal 
dunia," ujarnya.

Dahlan memberikan gambaran bahwa transpalantasi hati bagi seseorang hanya 
sebuah jalan, namun tetap takdir yang menentukan.

"Untuk itu saya bersyukur mendapatkan berkah dan bisa bertahan hingga saat 
ini," ujarnya.

Menurut pria kelahiran Magetan 17 Agustus 1951 ini, kunci dirinya bisa bertahan 
adalah disiplin.

"Saya disiplin karena taruhannya mati. Sesuatu yang taruhannya mati akan 
membuat seseorang tingkat disiplinnya meningkat," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Dahlan juga membuka rahasia bisa bertahan, yaitu tetap 
bekerja keras, berolahraga dan tidak lupa minum obat.

"Obat yang saya konsumsi tiga kali sehari bukanlah untuk menyembuhkan, tetapi 
hanya alat untuk mempertahankan agar hati yang dicangkok tetap terkoneksi 
dengan tubuh saya," ujarnya.

Ia bersoloroh, ibarat komputer, obat itu hanya semacam konektor dari komputer 
Apple ke Microsoft.

"Jika ada penolakan, maka bisa saja sewaktu-waktu terjadi diskoneksi. Ini yang 
harus tetap dijaga dengan konsumsi obat yang dosisnya makin lama sudah semakin 
kecil," ujarnya. 
(T.R017/S023)  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke