http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=37388

SABTU, 10 Maret 2012 | 845 Hits


Dari Prosesi Siraman Putri Mantan Ketua KPK Antasari Azhar 

Minta Maaf karena Tidak Bisa Hadir saat Resepsi




Di kursi pelaminan yang bertabur bunga melati, Antasari Azhar duduk 
berdampingan dengan istrinya, Ida Laksmiati. 

Sejoli itu tampil kompak dengan mengenakan baju adat Jawa warna hijau muda. 
Antasari tampak gagah, sementara sang istri begitu anggun.

Kemarin adalah hari istimewa bagi Antasari. Mantan ketua Komisi Pemberantasan 
Korupsi (KPK) itu harus melepas putri sulungnya, Andita Dianoctora 
Antasariputri, yang dipersunting Mochammad Ahdiansyah. Acara siraman dihelat di 
kediaman Antasari di Perumahan Les Belles, Serpong Utara, Kota Tangerang 
Selatan. 

Acara siraman diawali dengan keluarnya Andita dari dalam rumah. Perempuan 28 
tahun itu mengenakan kebaya biru dongker dengan motif barukat berbunga. Dia 
berjalan sembari dipapah dua sesepuh dari kerabat orang tuanya. Perlahan Andita 
berjalan menghampiri ayah bundanya. Dia kemudian bersimpuh di hadapan mereka.

Prosesi sungkeman diliputi nuansa haru. Terlebih ketika Andita mengungkapkan 
permohonan maaf kepada orang tuanya. “Papa, Mama, aku bersimpuh di hadapanmu 
untuk mengucapkan terima kasih atas kasih sayang yang diberikan kepada Mbak 
Dita (Andita menyebut dirinya, Red). Mbak Dita meminta rida dan ikhlas kalian 
untuk restu pernikahan Mbak Dita,” katanya.

Setelah Andita menyampaikan permintaan maaf, pembawa cara menyilakan Antasari 
menjawabnya. Suara Antasari terdengar terbata-bata. “Papa dan Mama sudah 
memaafkan kamu sejak kecil,” tutur terpidana kasus pembunuhan bos PT Putra 
Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen itu.

“Maafkan Papa tidak bisa mendampingi kebahagiaan kamu. Tapi, kamu harus 
menyadari, ini takdir yang harus kita terima,” sambung Antasari dengan suara 
tersendat. 
Ya, Antasari memang tidak bisa menghadiri resepsi pernikahan Andita yang 
dihelat di Balai Sudirman, Jakarta, pada 11 Maret nanti. Dia hanya mendapatkan 
izin keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Tangerang sampai dengan 
pelaksanaan akad nikah sang putri hari ini. Selepas itu, Antasari harus kembali 
mendekam di balik jeruji besi. 

Karena itu, kesempatan siraman kemarin benar-benar dimanfaatkan Antasari. Dia 
berpesan kepada Andita untuk tidak pernah takut dengan ancaman keduniaan. 
Gelimang harta bukan satu-satunya kamus kebahagiaan. Sebab, kebahagiaan dan hal 
yang paling berharga adalah beribadah kepada Yang Mahakuasa. “Papa titip, 
jangan tinggalkan salat dan berbagi dengan sesama,” kata Antasari.

Dia lantas menyitir salah satu cerita dalam Alquran tentang rencana jahat 
sekelompok orang. Intinya, di balik rencana jahat orang, Tuhan memiliki rencana 
baik untuk diri kita. “Makanya, jangan pernah takut dengan ancaman itu,” 
ujarnya.

Sebelumnya, rangkaian acara itu diisi dengan pemasangan bleketepe. Yakni, 
anyaman janur yang dipasang di pintu masuk tenda resepsi pernikahan di halaman 
rumah itu. Prosesi ini adalah perlambang bahwa sang tuan rumah sedang memiliki 
hajat. 

Seusai pemasangan bleketepe, acara dilanjutkan dengan sungkeman, siraman, dan 
diakhiri dengan potong tumpeng. Acara potong tumpeng adalah lambang keikhlasan 
Antasari dalam melepas anaknya untuk membangun bahtera rumah tangga. 

Tak jauh dari rumah Antasari, tepatnya di Gedung Serbaguna (GSG) perumahan 
tersebut, tampak beberapa anggota keamanan. Mereka terdiri atas personel polisi 
dan beberapa anggota security perumahan. Ada juga beberapa lelaki dengan 
pakaian hitam. Mereka mengawasi jalannya acara itu meski dari jarak yang agak 
jauh. 

Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Banten Imam Santoso menuturkan, 
pihaknya memang melakukan pengamanan. Untuk itu, mereka bekerja sama dengan 
kepolisian. Tidak ada prosedur khusus dalam pengamanan itu. “Tapi, kami terus 
berkoordinasi dengan kepolisian untuk pengamanannya,” kata Imam.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke