Refl:  Hebat memang kemajuan menurut Hadazah kepada kaisar Nebukadnezar. Kalau 
sudah tercipta mengapa tidak dikembangkan, dan baru pada abad 20 diberitakan?

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/03/10/m0n8vb-penciptaan-komputer-analog-di-era-keemasan-islam


Penciptaan Komputer Analog di Era Keemasan Islam
Sabtu, 10 Maret 2012 07:47 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Heri Ruslan

Ketika peradaban Islam menggengam dunia, para insinyur Muslim ternyata sudah 
menguasai teknologi komputer. Yang pasti teknologi yang dikembangkan para 
saintis di zaman itu bukan komputer digital, melainkan komputer analog.  
Istilah komputer analog, menurut Wikipedia, digunakan untuk menggambarkan alat 
penghitung yang bekerja pada level analog – lawan (dual) dari level digital.

Komputer analog pun kerap didefinisikan sebagai komputer yang mengolah data 
berdasarkan sinyal yang bersifat kualitatif, atau sinyal analog, untuk mengukur 
variabel-variabel seperti voltase, kecepatan suara, resistansi udara, suhu, 
pengukuran gempa dan lain-lain. Komputer ini biasanya digunakan untuk 
mempresentasikan suatu keadaan, seperti untuk termometer, radar, kekuatan 
cahaya dan lain-lain. 

Cikal-bakal penggunaan teknologi komputer analog telah mulai berkembang jauh 
sebelum Islam datang. Menurut para ahli, Antikythera Mechanism merupakan 
komputer analog pertama yang digunakan peradaban manusia. Alat yang 
dikembangkan peradaban Yunani  sejak 100 tahun SM itu, tak hanya digunakan 
untuk memprediksi pergerakan matahari dan bulan, tetapi digunakan juga untuk 
merencanakan Olimpiade.

Dengan menggunakan teknologi pemindai tiga dimensi, para ahli menemukan fakta 
bahwa alat yang terdiri cakra angka terbuat dari kuningan dan roda penggerak 
itu juga dipakai untuk menentukan tanggal Olimpiade.  Pada salah satu roda 
penggerak alat itu tergores  kata-kata Isthmia, Olympia, Nemea dan Pythia --  
bagian dari pertandingan pendahuluan pada kompetisi Panhellic.

Pada era kekhalifahan,  teknologi komputer analog dikuasai dan dikembangkan 
para insinyur Muslim. Sederet peralatan yang menggunakan prinsip komputer 
analog telah ditemukan para ilmuwan Islam. Alat-alat  itu, umumnya  digunakan 
untuk beragam kegiatan ilmiah. Di zaman keemasannya, para astronom Muslim 
berhasil menemukan beragam jenis astrolabe. 

Peralatan astronomi itu digunakan untuk menjawab 1001 permasalahan yang 
berhubungan dengan astronomi, astrologi, horoskop, navigasi, survei, penentuan 
waktu, arah kiblat dan jadwal shalat.  Menurut D De S Price (1984) dalam 
bukunya bertajuk "A History of Calculating Machines", Abu Raihan Al-Biruni 
merupakan ilmuwan pertama yang menemukan alat astrolabe mekanik pertama untuk 
menentukan kalender bulan-matahari.

Astrolabe yang menggunakan roda gigi itu ditemukan Al-Biruni pada tahun 1000 M. 
Tak lama kemudian,  Al-Biruni pun menemukan peralatan astronomi yang 
menggunakan prinsip komputer analog yang dikenal sebagai Planisphere – sebuah 
astrolabe peta bintang. Pada tahun 1015, komputer analog lainnya ditemukan 
ilmuwan Muslim di Spanyol Islam bernama Abu Ishaq Ibrahim Al-Zarqali.

Arzachel,  demikian  orang Barat biasa menyebut Al-Zarqali, berhasil menemukan 
Equatorium – alat penghitung bintang. Peralatan komputer analog lainnya yang 
dikembangkan A-Zarqali   bernama  Saphaea. Inilah astrolabe pertama universal 
latitude-independent. Astrolabe itu tak tergantung pada garis lintang 
pengamatnya dan bisa digunakan di manapun di seluruh dunia.

Dua abad kemudian, insinyur Muslim terkemuka bernama Al-Jazari mampu 
menciptakan “jam istana” (castle clock) – sebuah jam astronomi. Jam yang 
ditemukan tahun 1206 itu diyakini sebagai komputer analog pertama yang bisa 
diprogram.  Jam astronomi buatan Al-Jazari itu mampu menampilkan zodiak, orbit 
matahari dan bulan serta bentuk-bentuk bulan sabit.

Peralatan komputer analog lainnya berupa astrolab juga ditemukan Abi Bakar 
Isfahan pada tahun 1235 M. Peralatan astronomi yang diciptakan astronom dari 
Isfahan, Iran itu berupa  komputer kalender mekanik.  Ilmuwan Muslim lainnya 
bernama Al-Sijzi juga tercatat berhasil menemukan  peralatan astronomi yang 
menggunakan prinsip kerja komputer analog. Alatnya bernama Zuraqi – sebuah 
astrolabe heliosentris.

Ibnu Samh – astronom terkemuka di abad ke-11 M – juga dicacat dalam sejarah 
sains islam sebagai salah seorang penemu peralatan komputer analog berupa 
astrolabe mekanik. Seabad kemudian, ilmuwan Muslim serbabisa legendaris  
bernama Sharaf Al-Din Al-Tusi menciptakan astolabe linear.

Pada abad ke-15 M, penemuan peralatan yang menggunakan prinsip kerja komputer 
analog  di dunia Islam terbilang makin canggih. Ilmuwan Islam bernama Al-Kashi 
sukses menciptakan Plate of Conjunctions  -- sebuah alat hitung untuk 
menentukan waktu dan hari terjadinya konjungsi planet-planet.

Selain itu, Al-Kashi pun  juga menemukan komputer planet: The Plate of Zones. 
Yakni sebuah komputer planet mekanik yang secara nyata mampu memecahkan sederet 
masalah terkait planet. Alat yang diciptakan pada abad ke-15 M ini juga dapat 
memprediksi posisi garis bujur Matahari dan Bulan secara tepat.  Tak cuma itu, 
peralatan astronomi ini juga mampu menentukan orbit planet-planet, garis 
lintang Matahari, Bulan dan planet-planet serta orbit Matahari. 

Semua penemuan itu membuktikan bahwa peradaban Islam menguasai teknologi di era 
kejayaannya. Padahal, pada masa itu masyarakat Barat berada dalam 
keterbelakangan dan kebodohan. Tak dapat dipungkiri lagi jika sains dan 
teknologi merupakan kontribusi paling monumental yang diberikan peradaban Islam 
kepada dunia modern. 

Berkat sains yang berkembang di dunia Islam, peradaban Barat pun bisa keluar 
dari cengkraman kebodohan. Berkembangnya ilmu pengetahuan serta teknologi di 
dunia Islam telah membuat para pemikir Barat berdecak kagum. “Pencapaian 
terpenting di abad pertengahan adalah terciptanya semangat eksperimental yang 
dikembangkan peradaban Muslim,” tutur Bapak  Sejarah Sains, George Sarton dalam 
bukunya The Introduction to the History of Science.

Oliver Joseph Lodge  dalam the Pioneers of Science juga mengakui kehebatan 
peradaban Islam di masa keemasan.  Menurut dia,  peradaban Islam yang diwakili 
masyarakat Arab telah berhasil menghubungkan secara efektif antara sains yang 
baru dengan ilmu pengetahuan lama. “Zaman kegelapan terjadi karena terjadinya 
jurang kesenjangan dalam sejarah sains Eropa. Sekitar seribu tahun tak ada 
aktivitas sains, kecuali di peradaban Islam,” cetus Lodge.

Muhammad Iqbal dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam 
menyatakan bahwa peradaban Islam yang berkembang di Arab berhasil mendorong 
berkembangnya sains dengan begitu pesat di saat Barat dikungkung kebodohan. 
Pada masa itu, umat Islam telah memperkenalkan metoda eksperimental, observasi 
dan pemikiran.

Itulah sumbangan penting peradaban Islam dalam mengembangkan teknologi komputer 
analog.

Redaktur: Heri Ruslan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke