Supersemar dan Politik Machiavellian
Penulis : Endang Suryadinata*

Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) adalah surat sangat sakti penuh 
kontroversi, sekaligus berimplikasi luas.
Bahkan, pada peringatan Supersemar tahun ini, publik tetap terwarisi 
kontroversi dan memikul beban sejarah atas terbitnya surat itu, baik surat 
versi asli yang hingga kini tak jelas rimbanya, maupun terbitnya berbagai versi 
aspalnya.

Soal saktinya Supersemar, publik sudah tahu, karena dengan surat itu Soeharto 
merasa mendapat mandat atau transfer kekuasaan dari Bung Karno. Setelah 
menerima surat itu, Soeharto bertindak layaknya Presiden.

Padahal, presiden sah Bung Karno saat pelantikan Kabinet Ampera, pada 28 Juli 
1966 mengatakan: ”Pers asing mengatakan bahwa perintah ini adalah a transfer of 
authority to General Suharto. Tidak. Its not a transfer of authority to General 
Suharto. I repeat again, its not a transfer of authority.”

Bung Karno boleh berkata seperti itu, tetapi kekuasaannya diam-diam telah 
dirampas Soeharto. Bahkan, agar Supersemar dinilai legitimate, Soeharto bisa 
bersekongkol dengan MPRS lewat Tap MPRS IX/MPRS/ 1966 sehingga membuat Bung 
Karno si pemberi mandat tidak bisa mencabut surat itu.

Lalu pada 12 Maret 1967, Soeharto dilantik menjadi penjabat Presiden, dan 
setahun kemudian dilantik sebagai Presiden pada 27 Maret 1968 oleh MPRS, 
kemudian dipilih kembali oleh MPR hingga 1998.

Kudeta

Tidak heran jika Supersemar dan segala sesuatu yang dilakukan Soeharto terkait 
surat itu disebut kudeta merangkak. Ini karena pemegang kekuasaan sah Presiden 
Soekarno perlahan tapi pasti bisa disingkirkan, lalu dikarantina dalam keadaan 
sakit, hingga akhirnya Bung Karno wafat dalam kesepian pada 20 Juni 1970.

Terkait Supersemar, sejumlah sejarawan atau pakar hukum tata negara sepakat 
menyebut apa yang dilakukan Jenderal Soeharto dan pihak di luarnya seperti MPRS 
sebagai kudeta atau peralihan kekuasaan yang tidak konstitusional.

Teman saya asal Talun, Kabupaten Blitar, mendiang Prof Dr Suwoto Mulyosudarmo, 
juga sudah membahas hal ini secara lebih detail dalam disertasinya di Unair 
pada 1990, yang berjudul ”Peralihan Kekuasaan: Kajian Teoritis dan Yuridis 
terhadap Pidato Nawaksara”.

Cara Pak Harto mengemas kudeta memang amat lihai. Seolah tercipta kesan tidak 
ada pertumpahan darah terhadap Bung Karno, tetapi para pendukung Bung Karno 
terlebih mereka yang diberi cap PKI, adalah pihak yang darahnya tertumpah.

Ada yang menyebut angkanya jutaan. Jangan lupa sehari setelah menerima 
Supersemar, Soeharto membubarkan PKI. Sebagian lain yang masih hidup hingga 
kini terpaksa jadi “eksil” di Eropa dan bagian lain dunia. Semua itu merupakan 
buntut dari Supersemar.

Bahkan, semasa berkuasa (1966–1998), Soeharto dengan amat cerdik bisa mendikte 
publik, termasuk para sejarawan, dengan menciptakan kesan betapa misteriusnya 
keberadaan naskah Supersemar.

Ada yang bilang naskah asli di tangan M Jusuf, tetapi mantan Pangab yang wafat 
pada 2004 itu mengatakan naskah asli ada di tangan Soeharto sendiri. Berbagai 
versi pun diciptakan, sementara naskah asalinya hingga kini tetap tidak 
diketahui.

Praksis Politik Machiavellian

Kelihaian Soeharto dalam mengemas kudetanya lewat Supersemar dan segala 
tindakannya sesudah memegang dan meraih kekuasaan, mengingatkan penulis pada 
pemikiran dasar Niccolo Machiavelli tentang politik.

Seperti diketahui, filsuf berdarah Yahudi bernama Italia yang hidup pada 
1469–1527 itu sangat diagungkan para diktator dan politikus yang doyan 
menghalalkan berbagai cara, seperti tampak dari karya abadinya, Il Principe.

Sebenarnya, lewat karya-karyanya, Machiavelli layak disebut sebagai peletak 
dasar ilmu politik dan pemikir awal yang mendorong terjadinya proses 
sekulerisasi (desakralisasi) politik.

Namun publik, termasuk para diktator atau politikus banal negeri ini, lebih 
menyukai tafsir Machiavelli sebagai penganjur politik menghalalkan semua cara. 
Dalam upaya meraih dan mempertahankan kekuasaan, segala cara bisa ditempuh, 
mulai dengan berbohong hingga membunuh.

Kalau kita menyimak 32 tahun kekuasaan Pak Harto, praksis (teori dan praktik) 
politik yang machiavellian dengan mengabaikan etika atau moral memang amat 
menonjol.

Semua hal terpusat pada Soeharto dan bagaimana kekuasaannya bisa dilanggengkan 
di tangannya. Memang ada pemilu atau parpol, tetapi semua dibuat skenarionya 
demi menunjukkan pada publik dunia seolah dia demokrat. Padahal, nyatanya tak 
ada demokrasi.

Media pun dibungkam, kalau macam-macam, diberedel. Penyingkiran lawan politik 
seperti pembuangan ke Buru, penembakan misterius, dan penculikan para 
mahasiswa, sungguh mengabaikan etika. Martabat manusia bisa dikorbankan demi 
kekuasaan. Tidak heran korupsi dan segala bentuk KKN lain mulai tumbuh subur di 
era Pak Harto.

Harus kita akui, praksis politik di Tanah Air hingga kini masih bercorak 
machiavellian, karena anak didik Orde Baru atau mereka yang mengecap 
nilai-nilai Orde Baru masih “berjibun” di jajaran birokrasi yang tak tersentuh 
reformasi, kendati wacana reformasi birokrasi kerap didengungkan. Orientasi 
politik sebagian besar kalangan juga masih pada jabatan alias kekuasaan.

Simak kasus Wisma Atlet yang menyeret para politikus muda kita. Ini adalah 
contoh bahwa corak machiavellian itu tidak sirna begitu saja setelah Soeharto 
tidak ada. Kesejahteraan atau kekayaan untuk diri sendiri lebih diutamakan. 
Kesejahteraan hanya dirasakan segelintir orang yang beruntung memegang 
kekuasaan.

Aparat hukum pun suka memanipulasi hukum. Keadilan merupakan barang langka. 
Rakyat yang terkena busung lapar atau gizi buruk tak dipikirkan. Kemiskinan 
malah dijadikan jualan politik, termasuk data jumlah kaum miskin yang bisa 
dimanipulasi.

Ke depan kita tidak bisa mengharapkan banyak perubahan signifikan, jika para 
politikus dan pemegang amanat rakyat masih melakukan praksis politik 
machiavellian, yang kini tersebar di segenap lini eksekutif, legislatif, dan 
yudikatif

*Penulis adalah alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam.
http://www.sinarharapan.co.id/content/read/supersemar-dan-politik-machiavellian/
10.03.2012 09:17
Click Here
http://tionghoanet.blogspot.com
http://export-import-indonesia.blogspot.com/
http://chinese-clubs.blogspot.com
http://batavia-news-networks.blogspot.com/
http://lowongannet.blogspot.com
http://iklanbarisbisnis.blogspot.com/
http://sarung-indonesia.blogspot.com
http://bethani-indonesia.blogspot.com
http://bethany-indonesia.blogspot.com/
http://biznetter.blogspot.com/

Get your Financial Freedom here :
http://www.pulsagram.com/?id=CN121810
http://www.asetBCA.com/?id=bimagroup

Get your Free USD 10 and let it Grow !
Click Here !
http://adv.justbeenpaid.com/?r=kQSQqbUGUh&p=jsstripler5
http://tinyurl.com/bimagroup

Kirim email ke