http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=37423

KAMIS, 14 Maret 2012 | 104 Hits


BBM Naik, SBY Turun? 
Oleh: Harits Abu Ulya, (Direktur CIIA (The Community Of Ideological Islamic 
Analyst)



Opsi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) April mendatang, seolah pilihan 
final dengan alasan antisipasi dampak melemahnya ekonomi global dan tragedi 
politik kawasan produsen minyak di Timur Tengah. 

Sebuah kebijakan politik ekonomi yang tidak populis. Apalagi pada Mei nanti, 
tarif dasar listrik (TDL) juga akan dinaikkan secara bertahap. Apakah kebijakan 
ini akan menjadi bumerang pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)? Dengan 
memetakan faktor dan variabel perubahan politik, kita bisa melihat 
kemungkinannya.

Peta entitas yang menghendaki perubahan terpolarisasi dalam dua kutub. Pertama, 
kelompok intrasistem (intra-parlementer) dan yang kedua kelompok 
ekstra-parlementer. Juga bisa dikategorikan dalam perspektif pro-sistem politik 
demokrasi-kapitalis, dan yang kontra. Sebagian entitas ektra-parlemen masih 
percaya kepada sistem yang ada saat ini, bahkan terkadang mereka membuat 
simbiosis dengan kelompok intra-parlementer. 

Karena itu, kecil peluang jika rakyat berharap parpol dan anggotanya yang di 
parlemen untuk memakzulkan SBY, oleh partai oposan sekalipun. Fakta empiris 
menjelaskan kapasitas politikus di parlemen lebih mewakili kepentingan politik 
segelintir orang dan kelompok. Atau sebenarnya mereka adalah wakil para 
pemodal, cukong yang tidak tampak di panggung politik.

Meminjam hasil survei CSIS 16-24 Januari 2012, tingkat ketidakpercayaan 
masyarakat terhadap partai mencapai 87,4 persen. Kepercayaan kepada politikus 
hanya 23,4 persen, dan kinerja parpol 87,6 persen dinilai sangat buruk. Ini 
tidak jauh beda untuk DPR periode 2004-2009, di mana kepercayaan masyarakat 
rata-rata hanya 24 persen. 

Artinya, masyarakat sendiri sudah apatis terhadap mereka. Partai dan 
politikusnya tersandera kepentingan politik transaksional. Kebijakan yang tidak 
populis dari status quo bisa diatur melalui (sekretariat gabungan) parpol 
koalisi agar DPR bisa memberikan legitimasi. Jebakan demokrasi menjadikan 
parpol “banci”, rumus baku pergantian RI-1 harus melalui mekanisme demokrasi.

Kedua, bagaimana dengan komponen ekstra-parlemen? Mereka sebagian besar dari 
kalangan aktifis, ormas, NGO/LSM atau embrio sebuah parpol dan mahasiswa yang 
pragmatis. Orentasi politiknya tidak jauh beda, menjadi “oposan” bermanuver dan 
melakukan tekanan-tekanan dengan berbagai teknik dan strategi terhadap status 
quo. 

Tapi, tidak jarang itu hanya menjadi batu loncatan untuk mereguk keuntungan 
pragmatis.
Di kalangan mahasiswa tidak ada kekuatan massif untuk mengawal isu kenaikan 
harga BBM menjadi bola salju yang berdampak tumbangnya rezim, apalagi jika 
peran intelijen mampu penetrasi dan mengondisikan pola pergerakan dan 
orentasinya. Jika reformasi jilid II terjadi, penulis yakin “quasi reformasi” 
akan tetap terulang. Mubazir!
Ketiga, bagaimana peluang bagi kelompok ekstra-parlementer yang kontra sistem 
politik demokrasi-kapitalis? Dalam konteks Indonesia penulis menemukan dua arus 
kelompok. Pertama, kelompok sosialis/sosdem, kelompok ini dalam jumlah yang 
kecil dan sangat tidak signifikan. Dengan bahasa anti neoliberal dan anti 
kapitalisnya juga belum memiliki kekuatan massif dan signifikan yang mampu 
menciptakan class struggle untuk melahirkan sintesa politik baru. Sejauh ini, 
aktifis, mahasiswa, kalangan buruh dengan serikat buruhnya menjadi basis 
potensial pergerakan mereka di samping kelompok tani. 

Belum lagi kebijakan pemerintah yang bisa meninabobokkan rakyat, otomatis akan 
mereduksi dan membungkam topik “revolusi” ala kaum kiri. Kemudian bagaimana 
dengan kelompok Islamis yang mengusung perubahan dengan Islam Ideologisnya? 
Apakah akan mampu merealisasikan “ganti rezim dan ganti sistem”? 
Dalam hitungan politik, sebenarnya faktor perubahan yakni adanya realitas fasid 
(rusak) yang inderawi sudah terpenuhi. Demikian banyak problem kehidupan 
berbangsa dan bernegara Indonesia tidak beranjak dari kubangan masalah. Contoh, 
kenaikan harga BBM kali ini saja akan otomatis memicu inflansi menjadi 7 
persen. Jelas-jelas rakyat kecil akan menerima dampak, semakin menderita dengan 
biaya hidup makin tinggi. Dan defisit menjadi 2,3 persen dari 1,5 persen, namun 
untuk menutup defisit pemerintah justru menambah target utang Rp50 triliun dari 
posisi utang Rp1.900 triliun, dengan target utang bruto 2012 sekitar Rp300 
triliun.

Secara objektif, kelompok Islamis Ideologis belum mampu meng-cover dinamika 
politik domestik Indonesia untuk keluar menjadi pemenang. Sebenarnya peluang 
melakukan terobosan sangat besar, di samping targedi “revolusi Arab” cukup 
menginspirasi dan melahirkan optimisme tentang sebuah siklus kemenangan yakni 
kelahiran nasib baik kaum Islamis pascaruntuhnya kapitalisme global. Namun 
berangkat dari isu kenaikan harga BBM, penulis melihat masih adanya ganjalan 
yang berarti bagi kelompok Islamis. Baik terkait internal kelompok atau dari 
eksternal.

Secara aktual, poblem-problem yang melilit mayoritas umat Islam justru 
melahirkan sikap sangat apatis. Masyarakat sibuk menjadi orang-orang 
individualis, yang penting bisa menyelamatkan kemaslahatan pribadi 
masing-masing.

Namun demikian, perubahan adalah suatu yang niscaya setinggi apapun tembok 
penghalangnya. Kuncinya adalah bagaimana menjadikan kerusakan sistemik akibat 
diterapkannya ideologi politik yang fasad (batil) sekuler-kapitalis sebagai 
amunisi untuk membangun kesadaran masyarakat, di samping digambarkan kondisi 
ideal yang menjadi penggantinya. Tapi, langkah tersebut tidak cukup. Masih 
harus ditambah tersublimasinya kekuatan-kekuatan kunci dari masyarakat yang 
bisa mendukung perubahan revolusioner. Jika komponen itu bisa diraih oleh 
kelompok Islamis ideologis, maka banyak momentum politik menjadi entri poin 
dari sebuah “revolusi” baru untuk Indonesia.

Akhirnya, politik menjadi seni yang serba mungkin. SBY bisa jatuh dan juga bisa 
tidak. Kadang nalar linear dan paralel dalam politik tidak mampu menjelaskan 
lahirnya faktor baru yang tidak terduga, penyebab isu perubahan menjadi bola 
salju yang menggelinding tanpa bisa dibendung. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke