Refl: Sebagai pembaca apakah Anda mempunyai komentar tentang keuangan syariah?

http://www.antaranews.com/berita/295853/benarkah-keuangan-syariah-kian-menarik


Benarkah keuangan syariah kian menarik?
Jumat, 3 Februari 2012 19:52 WIB | 

Imam Santoso

Jakarta (ANTARA News) - Sejumlah kalangan percaya bahwa bank syariah Indonesia 
akan terus tumbuh seiring dengan kian ramahnya perekonomian Indonesia untuk 
investasi.

Mengutip Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, aset perbankan syariah 
naik 35,55 persen pada triwulan IV 2011 dengan nilai Rp135,9 triliun.

Itu berarti aset perbankan syariah mencapai 3,9 persen dari total aset 
perbankan nasional. Sebelumnya, BI menargetkan aset perbankan syariah Indonesia 
mencapai Rp200 triliun hingga akhir 2012.

Sepertinya potensi pasar bank syariah kian lebar.  Pertanyaannya apa bank 
syariah akan melaju mulus pada tahun-tahun selanjutnya? Bagaimana pula proses 
edukasi kepada masyarakat calon nasabahnya?

Berikut wawancara ANTARA News dengan Ketua Umum Pusat Komunikasi Ekonomi 
Syariah, Subarjo Joyosumarto, yang juga Direktur Utama Lembaga Pengembangan 
Perbankan Indonesia (LPPI).

Bagaimanakah prospek perbankan syariah dewasa ini?
Jika melihat kian banyak dan populernya bank-bank syariah dewasa ini, maka bank 
syarih akan tumbuh tetap tinggi 35 persen per tahun, podahal pertumbuhan 
tahunan perbankan nasional hanya 15 persen.
Apalagi perekonomian Indonesia semakin bagus dan mendapat *investment 
grade*dari Fitch, bank syariah akan makin diminati.
Dengan asumsi perekonomian seperti sekarang, saya perhitungkan aset perbankan 
syariah sudah tujuh persen dari total aset perbankan nasional
pada 2015. Bahkan, pada 2020 akan menjadi 15 persen.

Berapa banyak tenaga kerja dibutuhkan untuk mencapai aset tujuh persen itu?
Kebutuhan tenaga sampai 2015 itu kan sekitar 40 ribu. Nampaknya bisa terpenuhi 
karena pendidikan perbankan syariah sudah dibuka di LPPI sendiri dan berbagai 
universitas.

Bagaimana bank syariah bisa dilrik investor asing?
Modal atau uang itu kan tidak mengenal agama seperti air yang selalu mencari 
tempat rendah. Selama keuangan syariah di sini maju terus, ya mereka akan 
menanam (investasi) di sini. Apalagi pemerintah berencana membentuk bank 
infrastruktur. Itu menarik sekali bagi mereka (investor asing) dan kegiatan 
utama (perbankan) syariah yang menyalurkan dana ke sektor riil. Kalau bank-bank 
konvensional,  uangnya dipakai untuk spekulasi dan sebagainya.

Tapi mengapa keuangan syariah susah sekali berkembang di dalam negeri?
Karena kita sudah terlalu lama menggunakan sistem ekonomi sekuler ketika 
dijajah Belanda. Sebelumnya masyarakat Indonesia sudah menerapkan prinsip maro 
(separuh) dan mertelu (sepertiga), yang merupakan sistem bagi hasil (seperti 
prinsip syariah).Selain itu, sebagian umat Islam memandang agama hanya sebagai 
petunjuk ibadah dan kehidupan masyarakat negara-negara Arab dianggap identik 
dengan Islam. Padahal keuangan negara-negara Arab tidak 100 persen keuangan 
syariah. Negara juga tidak memprioritaskan ekonomi syariah sebagai program 
nasional seperti di Malaysia.

Bagaimana meningkatkan pangsa pasar keuangan syariah?
Panutan atau contoh transaksi ekonomi syariah itu harus banyak, terutama dari 
para ulama. Lalu, penyebaran cabang-cabang bank syariah yang luas juga harus 
ada contoh dari otoritas negara seperti pengelolaan dana haji di perbankan 
syariah. Dengan demikian, masyarakat langsung melihat contoh nyata.Usahakan 
bagi hasil lebih besar dari biaya-biaya atau minimal sama karena orang-orang 
kan rasional. Memang ada yang emosional karena ikatan keagamaan, tapi banyak 
orang yang rasional.

Mengapa kita tertinggal dari Malaysia?
Di Indonesia, pertumbuhan perbankan syariah sebesar 30 persen per tahun itu 
sudah bagus karena pengembangan industri keuangan syariah itu *bottom-up*. 
Sedangkan di Malaysia, karena program pemerintah, maka asetnya sudah 20 persen 
dari total aset perbankan mereka.  Malaysia menonjolkan kuantitas dan berambisi 
menjadi pusat keuangan syariah dunia. (*)

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke