R a l a t- r a l a t

Refl: Tidak ada manusia yang mau miskin, tetapi kalau dimiskinkan, tentu saja 
bisa. Lihat pada hasil sensus  BPS 2010. Wilayah Indonesia Timur dan Kalimantan 
bersama Aceh adalah wilayah termiskin dalam NKRI. Apa sebabnya demikian dalam 
67 tahun merdeka, merdeka, termiskin sekalipun penduduknya tidak seberapa 
banyak dan berlimpah-limpah kekayaan alam diambil dari daerah-daerah ini. Siapa 
mendapat keuntungan dengan merdeka-merdeka ini?


http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=5311


Kamis, 15 Maret 2012 , 18:04:00


“Kami Tak Mau Miskin”


 
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum Independen Mahasiaswa ketika 
menggelar aksi damai menolak kenaikan BBM di halaman Kantor DPRP, Rabu (14/3) 
kemarin.
Mahasiswa Papua Tolak Kenaikan Harga BBM

JAYAPURA – Demo penolakan rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak 
saja dilakukan di kota-kota besar di Jawa maupun daerah lainnya. Sejumlah 
mahasiswa di Papua juga turut menyuarakan penolakan yang sama.
Hal ini seperti yang dilakukan sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum 
Independen Mahasiswa (FIM) yang Rabu (14/3) pagi menggelar demo menolak rencana 
kenaikan harga BBM dengan memalang pintu masuk Kampus Uncen Waena dan Kampus 
Uncen Abepura, yang kemudian siangnya menuju ke Kantor Dewan Perwakilan Rakyat 
Papua untuk menyampaikan aspirasi tersebut.
Ketua BEM FISIP Uncen, Musye Weror mengatakan, pemerintahan SBY baik jilid satu 
dan dua sangat tidak berpihak pada rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. 
Ini dapat dilihat dari kebijakan yang diambil yang hampir setiap tahunnya 
menaikan harga BBM dan tahun ini rencana kenaikan itu akan ditetapkan mulai 1 
April mendatang.

“Kalau Presiden tidak mampu menjalankan roda pemerintahan kami minta dengan 
hormat untuk melepaskan jabatan terhormat itu, sebab menjadi presiden itu untuk 
melayani orang banyak, yaitu seluruh rakyat Indonesia bukan melayani diri 
sendiri atau melayani kroni-kroninya,” tegas Weror.

Salah satu pengurus BEM Fakultas Hukum Uncen, Herman Syufi menyatakan, demo ini 
dilakukan dalam rangka meminta pemerintah pusat untuk segera menarik kembali 
putusan yang diambil untuk menaikan harga BBM, sebab kebijakan itu akan 
menyengsarakan masyarakat Indonesia secara keseluruhan dan secara khusus orang 
Papua yang juga merupakan warga negara Indonesia. 
“Stop menipu rakyat Indonesia, sebab dengan menaikan harga BBM akan menambah 
jumlah penduduk miskin dna pengangguran di Indonesia,” ujarnya.

Sementara setelah sempat melakukan pemalangan dan berorasi di Kampus Uncen 
Waena maupun Abepura, para mahasiswa itu melanjutkan demonya ke kantor DPRP di 
Jayapura.
“Kami tak mau miskin, kami tak mau menderita dan kami tak mau menangis,” koar 
Yoris koordinator aksi di halaman Kantor DPRP, kemarin.
Mereka mengkritisi pemerintah yang dianggap tak berpihak pada masyarakat kecil. 
Kenaikan BBM dianggap memberatkan mereka khususnya mahasiswa yang tiap hari 
menggunakan transportasi taksi. “BBM memegang peran penting dalam proses 
kehidupan dan roda pembangunan. Nah kalau dinaikkan kami bisa semakin melarat, 
kami minta pemerintah tidak menaikkan,” ucapnya.
Namun diakui proses kenaikan ini tak bisa dihindari dan Papua juga akan 
merasakan dampak dari kenaikan itu sendiri. Bila itu terjadi, mereka meminta 
agar DPR Papua bisa ‘menolong’ dengan mengatur tentang harga atau tarif taksi 
(angkutan umum) itu sendiri. “Kami meminta agar DPRP bisa ikut membantu dengan 
mengontrol harga taksi. Kasihan kami yang tiap harinya pakai taksi,” imbuh 
Yoris. 
Para mahasiswa ini diterima lima anggota DPRP yaitu Yulianus Rumboirusy, Yan 
Ayomi, Stef Kaisiepo, Thomas Sondigau dan Zainudin. Mereka memberi apresiasi 
atas sikap mahasiswa yang mau mengkritisi kebijakan pemerintah itu.

Menurut Yulianus, pihaknya sudah mengetahui tentang rencana kenaikan tersebut 
jauh-jauh hari dan ini merupakan aspirasi sebagian besar masyarakat Indonesia. 
Yulianus melihat pemerintah di Papua belum bisa mengeliminasi kenaikan harga 
BBM tersebut dengan melakukan satu kiat yang meringankan beban masyarakat. 
“Sebab BLT jelas bukan jalan keluar, pemerintah perlu lebih kreatif,” tegasnya. 

Ia juga meluruskan bahwa jika ada yang mengatakan kenaikan ini sengaja 
dilakukan pemerintah yang tak peduli masyarakat bawah maka pendapat tersebut 
salah. “Pemerintah dalam hal ini Presiden dan jajarannya merupakan wakil Tuhan 
yang ditunjuk untuk memimpin sebuah negara dan pemerintah tak mungkin ingin 
rakyatnya sengsara. Ini adalah pilihan yang sulit dan harus dikritisi, apa yang 
dilakukan mahasiswa kali ini sudah benar dan akan kami tindaklanjuti ke dinas 
terkait soal tarif taksi maupun pemerintah pusat. Hasilnya akan kami sampaikan 
lewat media,” imbuh Yulianus. (ade/ren/cr-179/fud)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke