http://www.equator-news.com/utama/20120313/tak-ada-biaya-pasrah-tunggu-kematian

Antonius Sutarjo 
| Selasa, 13 Maret 2012 
Tak Ada Biaya, Pasrah Tunggu Kematian 

Antonius Sutarjo
Onjon 
Anyum dan keluarganya mendapat kartu Jamkesmas. Hanya saja mereka tidak tahu 
bagaimana cara menggunakan jaminan kesehatan gratis itu. Walaupun Anyum ketua 
RT, tapi sosialisasi Jamkesmas tak sampai pada pemahamannya.

“Anyum, Onjon, dan Santa memiliki kartu Jamkesmas. Hanya saja mereka tidak tahu 
menggunakan kartu tersebut,” ungkap Candra Sunardi, anggota DPRD Landak.

Perangkat desa serta dinas terkait yang menangani Jamkesmas harusnya memberikan 
pengertian kepada warga. Khususnya cara menggunakannya. Padahal tidak jauh dari 
dusun mereka sudah ada puskesdes.

Begitu juga Ule, 58, Ketua RT Dusun Seluang Danau, Desa Amboyo Selatan, 
Kabupaten Landak. Pemimpin rukun tetangga ini tidak bisa menggunakan Jamkesmas 
untuk keluarganya.

Anyum, istrinya menderita penyakit aneh. Awalnya pria paruh baya itu menderita 
kebutaan di mata kirinya. Kemudian kembali buta di mata kanannya. Sedangkan 
Santa menderita gangguan jiwa setelah pulang dari Pontianak. Mereka semua tak 
bisa memanfaatkan Jamkesmas untuk berobat.

Jamkesda dihentikan
Sebanyak 20.447 orang warga Landak yang terdaftar sebagai peserta Jamkesmas dan 
56 ribu jiwa target Jamkesda, realisasinya hanya 10.000 orang.

“Minimnya keuangan daerah ditambah utang di RSUD Soedarso belum terlunasi, 
akhirnya penggunaan Jamkesda dihentikan bulan Juli dan Agustus tahun lalu,” 
ungkap Winata, Kepala Seksi Jamkesda dan Jamkesmas Dinas Kesehatan Landak 
ditemui Equator di kantornya, Senin (12/3).

Winata pun menepis anggapan bahwa masih banyak warga yang belum memahami 
penggunaan Jamkesmas seperti keluarga Ule di Dusun Seluang Danau Desa Amboyo 
Kecamatan Ngabang. “Bukan karena kurangya sosialisasi, tetapi volume 
sosialisasi tingkat desa yang kecil,” katanya.

Sebelum dibagikan ke masyarakat disosialisasikan melalui puskesmas dan 
puskesdes. Kemudian mereka ke kepala desa. Kendalanya, tugas kepala desa dan 
ketua RT yang langsung bertemu dengan warga.

Rencananya, supaya lebih valid data keluarga miskin tahun ini yang akan 
dilakukan pendataan keluarga yang berhak. “Tujuannya agar tidak terjadi salah 
sasaran keluarga yang mendapatkan Jamkesmas,” jelasnya.

Sementara, Mulyadi, keluarga miskin yang tidak mendapatkan Jamkesmas kepada 
Equator mengungkapkan dirinya belum terdata dari tahun 2008. Diakuinya sulit 
juga kalau tidak ada Jamkesmas, untung saja keluarganya sehat semua.

“Mahalnya biaya berobat menjadikan kami yang miskin ini kalau sakit hanya 
pasrah saja menunggu kematian. Kalau memang benar ada lagi Jamkesmas, saya 
sangat berharap bisa mendapatkannya,” kata Mulyadi. (tar).


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke