Ref: FPI dibubarkan berarti Depag dan MUI kehilangan salah satu kesatuan pasukan lapangan untuk beroperasi.
http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/03/16/ArticleHtmls/Isu-Bentrokan-Massa-Pontianak-Tegang-16032012009005.shtml?Mode=0 Isu Bentrokan Massa, Pontianak Tegang PONTIANAK Toko-toko dan perkantoran tutup lebih awal. Situasi Kota Pontianak kemarin tegang. Ribuan orang berkumpul di Rumah Betang di Jalan Sutoyo, Pontianak, sejak pagi. Mereka berkumpul untuk mempertanyakan kejelasan kasus perusakan papan nama asrama mahasiswa Pangsuma, Pontianak. Perusakan diduga terjadi setelah sebuah spanduk bertuliskan penolakan terhadap Front Pembela Islam (FPI) dipasang di dekat papan nama itu. Massa yang berkumpul itu tetap meminta agar FPI dibubarkan. Mereka datang dari daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan Kota Pontianak, antara lain Sei Ambawang dan Mandor. Kepada warga yang sudah membekali diri dengan berbagai jenis senjata tajam dan kayu itu, Ketua Ikatan Dayak Islam Alamsyah meminta semua pihak memandang masalah ini dengan kepala dingin. “Kalau ada ketersinggungan, itu manusiawi.Tetapi kita harapkan hal ini tidak berkepanjangan,“ katanya kemarin. Warga kemudian turun ke jalan menuju kantor Kepolisian Daerah Kalimantan Barat. Pergerakan massa dari Rumah Betang itu diantisipasi dengan penutupan beberapa ruas jalan, seperti Jalan Veteran, Jalan Sutoyo, Jalan Gajah Mada, dan Jalan Tanjungpura. Polisi sempat melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan massa. Sementara itu, di wilayah Pontianak Timur, konsentrasi massa dari kubu yang lainnya sudah mulai terjadi. Adanya penutupan ruas jalan ternyata memicu konsentrasi massa yang lebih banyak di kawasan tersebut. Toko-toko dan perkantoran tutup lebih awal. Ketegangan ini berawal dari kabar yang beredar lewat jejaring sosial dan BlackBerry Messenger yang menyebut terjadi bentrokan antara mahasiswa penghuni asrama Pangsuma dan sekelompok orang yang diduga anggota FPI. Serangan itu diduga terpicu oleh spanduk tentang penolakan FPI di asrama itu. Polisi hingga kemarin menjaga asrama tersebut untuk mencegah insiden yang tak diinginkan. Sebelumnya telah dilakukan pertemuan antara Wakil Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Komisaris Besar Syafarudin, Wakil Wali Kota Pontianak Paryadi, serta perwakilan Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat.“Kami mengimbau masyarakat tidak mudah mempercayai beritaberita melalui SMS, BBM, atau Internet,“ kata Ketua Harian Majelis Adat Dayak Yakobus Kumis. Adapun Iskandar Alkadri, Ketua FPI Kalimantan Barat, meminta pihak kepolisian mengusut siapa yang memasang spanduk penolakan tersebut. “Bukan soal penolakannya, tetapi isinya menyinggung umat Islam,“ ujarnya. Panglima Kodam XII Tanjungpura Mayjen TNI E. Hudawi Lubis dan Kepala Polda Kalimantan Barat Brigjen Ungguh mendatangi Markas FPI Kalimantan Barat di Jalan Tanjungraya 2, Pontianak Timur. Hingga berita ini diturunkan, situasi masih kondusif namun masih ada sebagian warga masyarakat yang berkumpul. ASEANTY PAHLEVI | HARRY DAYA [Non-text portions of this message have been removed]
